"Kita ada karena kita bersama"

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2016

"kita ada karena kita bersama"

Salah satu video singkat yang berjudul The Lie We Live memberikan kesan yang amat mendalam tentang sebuah persahabatan. Meski sebagian besar dari video ini lebih mengangkat isu tentang propaganda dunia untuk menyengsarakan orang banyak, akan tetapi satu kalimat pada penghujung video ini cukup mengehempas dada. Memberikan peringatan tentang arti kesatuan. Katanya “Manusia sampai sejauh ini bukan karena ia kuat, melainkan karena ia bersama-sama”.

Kebersamaan memang memberikan aktualisasi tentang pemahaman diri. Bukan hanya tentang eksistensi , melainkan bagaimana cara bercermin melalui orang lain. Menemukan jati diri melalui prototype yang belum sempat kita temukan pada diri kita sendiri, melainkan hal tersebut ada pada orang lain. Perlu dipahami untuk kita terapkan, karena tak semuanya di dunia ini dibawa dari lahir dan bersifat alamiah, namun kita juga perlu belajar untuk sesuatu yang belum melengkapi diri kita sendiri. Selain itu ada pada alam, buku-buku yang sempat kita baca, acara yang mungkin telah kita tonton dan tentunya orang lain yang saat ini bersama kita.

Kalau kita sempat menonton salah satu film animasi yang diproduksi oleh jepang pada tahun 2007. Dengan mengangkat judul Sword Of The Stranger, film ini memberikan perenungan hidup tentang arti kebersamaan. Nanasi ( Tanpa Nama ‘dalam arti pada bahasa jepang’ ) adalah seorang petarung handal di medan perang. Caranya memainkan katana sangat diakui, namun pada akhirnya Nanasi tidak lagi mencabut pedangnya. Senjata yang sangat tajam itu hanya dibawanya dengan mengikat pegangan pedang dengan kain putih yang terekat erat pada sarung katana tersebut. Hal itu dilakukan Nanasi akibat trauma mendalam yang dialaminya, yaitu ketika aturan perang memaksanya untuk memenggal kepala seorang pria yang menjadi lawannya. Nanasi sempat ragu, di karenakan anak dari pria yang akan segera ia hilangkan kepalanya terus menghujatnya. Namun pada akhirnya Nanasi tetap memenggal kepala pria tersebut. Tak cukup dengan itu Nanasi juga terpaksa harus memenggal seorang anak kecil yang sebelumnya menghujat dikarenakan ayahnya akan segera di bunuh.

Pada akhirnya Nanasi mengalami stress berat dikarenakan hal itu. Ia menutup mata pedangnya untuk tak lagi menimbulkan darah, dengan memakai ikat kepala berwarna putih bekas milik seseorang yang telah ia penggal kepalanya, Nanasi mengikat pedangnya untuk tidak tecabut lagi dari sarungnya. Pemikiran yang kacau tersebut juga memaksa Nanasi untuk meninggalkan jabatannya sebagai panglima. Tak cukup dengan itu, Tokoh pria kuat dan pandai memainkan pedang ini dipaksa oleh diri sendiri untuk mengganti warna rambutnya. Seolah-olah pesan yang disampaikan kepada penonoton pada film ini, sang Tokoh tak ingin lagi melihat dirinya yang dulu.

Sejalan meski tak serupa dengan kisah Nanasi. Novel Dewi Lestari yang didunia literasi lebih akrab dikenal dengan nama Dee, mengangkat perjalanan dan kebersamaan pada buku kedua Supernova berjudul ‘Akar’. Ya, setidaknya itulah yang ada di kepala saya setelah selesai membaca novel dengan tebal 221 halaman ini.

Bodi dikisahkan pada buku ini memiliki kebersamaan yang amat erat kepada Liong, yang tak lain adalah seorang Pandita yang memeliharanya dari kecil. Delapan belas tahun bersama guru Liong, lebih dari seratus purnama untuk menyempurnakan sebuah ikatan. Setelah berhasil mempelajari banyak hal seperti ilmu bela diri, spiritualitas dan pemurnian jiwa, akhirnya Bodhi memohon pamit dan mengembara untuk menyelesaikan pencariannya.

Berbeda dengan Nanasi, Bodhi lebih cenderung mampu untuk beradaptasi dengan keadaannya. Tenggelam pada dunia Backpackers tanpa identitas, menjelajahi sebagian besar asia tenggara tanpa mengenal siapa pun. Tak seperti dengan Nanasi yang tenggelam dengan penyesalannya, tokoh Bodhi lebih didominasi oleh pencariannya. Terlepas dari rahasia cerita Supernova, perjalanan tokoh-tokohnya yang salah satunya adalah Bodhi juga dibumbu-bumbui oleh kebersamaan. Selain dengan kebersamaan guru Liong, kedatangan Kell juga menunjukkan warna baru tentang keberadaan Bodhi. Yaitu seni Tato. Lalu sesuai dengan opini pembukaan pada tulisan ini, munculnya Ishtar yang tak lain adalah tokoh cantik berparas Hollywood membuat Bodhi bercermin pada dirinya sendiri dan menemukan bayangan lain akan dirinya.

Kebersamaan memang sangat penting pada perjalanan hidup manusia.seperti Nanasi yang kembali menemukan arti berjuang dengan pedang melalui seorang anak kecil bernama Kotaro, yang akan segera dibunuh dan diambil darahnya, hal ini dikarenakan mitos yang diangkat pada cerita ini membuat kotaro sangat berharga darahnya dikarenakan garis keturunannya. Dan akhirnya Nanasi mencabut kembali pedangnya untuk menyelamatkan orang lain. Di sisi yang lain Bodhi pada perjalanannya menemukan kehampaan ketika kematian Kell . Seorang periang yangsempat menunjukkan hal baru kepada Bodhi setelah sebelumnya ia benar-benar terasing. Namun pada akhirnya Bodhi tetap melanjutkan perjalanannya. Meski tak begitu terpengaruh dengan orang-orang sebelumnya secara langsung, akan tetapi perjalanan Bodhi tanpa identitas dan tanpa siapa-siapa juga terisi kekosongannya di karenakan kehadiran orang lain.

Kedatangan orang lain pada kehidupan kita adalah kesadaran utuh untuk kita terima sepenuhnya. Bukan dengan pembenaran hidup yang dinamis dalam pemaknaan yang sederhana. Dan Nanasi akhirnya menemukan jati dirinya. Pedang tidak begitu jahat seperti dugaannya akibat trauma setelah membunuh, melainkan orang yang salah membawanya serta aturan yang menuntun pedang tersebut. Lalu Bodhi, memberikan pemaknaan bahwa kita tidak benar-benar sendiri pada perjalanan hidup kita. Selain kedatangan orang lain yang mungkin berada pada arus alamiah, pemahaman diri untuk menerimanya secara utuh juga sangat penting.

Seperti Nanasi dan Bodhi, “kita ada karena kita bersama”

  • view 336