REFLEKSI PERDEBATAN BUMI BULAT VS FLAT EARTH

Tari Akbar
Karya Tari Akbar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Agustus 2016
REFLEKSI PERDEBATAN BUMI BULAT VS FLAT EARTH

REFLEKSI PERDEBATAN BUMI BULAT VS FLAT EARTH

Banyak jalan yang dapat diambil manusia untuk mengambil sebuah kesimpulan. Dalam pengertian hemat adalah kesimpulan yang bersifat tunggal. Entah itu melalui proses analisis empiric dalam tempo yang cukup panjang, penelitian dengan akumulasi informasi, bertanya melalui perhelatan dari revolusi paradigma, atau pun melalui proses perbandingan.

Kalau kita sempat membaca buku manusia dan atom-atomnya, yang di tulis oleh DR. Parayana. Beliau membuka konsep untuk menelusuri hakekat ( Kebenaran ) dengan cara atau metode-metode yang benar. Karena apabila tidak melakukan suatu metode yang benar, maka hasrat mesra yang mendiami alam rasa manusia takkan mampu melihat wajah hakekat yang sebenarnya. Begitulah singkatnya yang sempat di sampaikan oleh DR. Parayana pada pembukaan buku tersebut. Kesimpulannya, manusia selalu akan menemukan jalan untuk menemukan hal baru, entah itu bersifat dinamis melalui perkembangan, atau pun sesuatu yang berbenturan langsung dengan apa yang telah ada

Menyambung opini yang telah ada. Pada kenyataannya sesuai dengan pendapat pada pragraf pertama, Hegel telah mengeluarkan teori yang memberikan ruang pada pertentangan untuk teorinya sendiri. Itulah ‘Tesa’ yang akan selalu memiliki lawan yang bernama ‘Sintesa’ dan ujung-ujungnya akan berakhir pada sintesa. Yang dimaksud Hegel pada teori ini,Tesa, Antitesa, dan Sintesa adalah rumusan untuk eksistensi, yang dapat digambarkan pada kemungkinan besar untuk semua benda-benda. Contohnya, jika kita menganggap Tesa=Putih dan lawannya adalah Antitesa=hitam, maka benturan tersebut akan menghasilkan hal yang baru.

Akan tetapi dialektika Hegel sesungguhnya memberikan ruang terhadap pertentangan untuk dirinya sendiri. Jika dialektika ini adalah sebuah sistem yang kita akumulasi menjadi satu wajah, maka seharusnya yang sesuai dengan pendapat Hegel tersebut, tentunya hal ini masih mempunyai lawan. Dan akan menghasilkan pertanyaan baru jika standar baku dan tunggal kita pakai terhadap kemanunggalan itu sendiri. Apakah yang menjadi lawan terhadap teori hegel?.

Sejalan dengan Hegel. Novel gendre ‘Sastra-Saiber’ milik Dee Lestari juga membuka gagasan yang hampir serupa. Novel berjudul ‘Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh’ ini, pada pembukannya mengangkat konsep Orde dan Chaos. Yang diterjemahkan lebih lanjut dengan keteraturan dan ketidak teraturan, yang selanjutnya menghasilkan guncangan. Meski tak sama dengan Hegel yang menganggap arus pemikiran akan menghasilkan Sintesa, Novel ini lebih banyak menyinggung secara tersirat kemanunggalan yang mulai tercemari oleh paradox. Salah satu Tokoh Diva dengan peran Placur Idealis memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Sama dengan Hegel. Jika konsep Orde dan Chaos selalu
berlawanan kemudian disatukan melalui gagasan Novel tersebut. Bagaimanakah wajah sebenarnya dari Novel ini?, apakah ia Orde?, atau ia adalah chaos?. Dan setelah kita menemukan jawabannya. Apakah yang menjadi lawannya?.

Atau pada akhirnya, dari sisi perpsektif fakta dan logika, kemanunggalan itu memang tidak ada.

#HanyaOpini

 

  • view 249

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Saya tidak memperhatikan muka, saya lebih memperhatikan bodinya. Hanya saja, kurang dalam lagi masuk pada: Tesa, Antitesa dan Sintesa.

    Sebagai pembanding Hegel adalah karya sastra dari seorang penulis fenomenal, Dee. Mungkin saja, untuk Supernova, hanya penulisnya sendiri yg mengerti apakah konsep semesta itu teratur atau tidak beraturan?

    Yang menarik, menurut saya, Dee selalu memasukkan teori ilmiah dalam seri Supernovanya. Dan, itu menunjukkan dia memang bukan penulis sembarangan. Di samping itu, saya 'membaca' ada kegetiran yang mengusik hati Dee, tentang Agama terkhusus Tuhan.

    *sok tahu sekali saya, wkwk...

    • Lihat 1 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Flat Earth = Bumi Datar.

    maksud judul 'vs' harusnya 'Bumi Bulat vs Flat Earth'?