Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 5 Juli 2018   10:41 WIB
Sekolah Boleh Tinggi, Jabatan Boleh Tinggi Tetapi Jangan Lupa Budayamu.

Budaya Belu-Sekeretaris Daerah Kabupaten Belu, Drs. Petrus Bere didamping OPD mengikuti ritual adat pembukaan Foho Rai Festival 2018 di Kampung Adat Matabesi Sesekoe Umanen, Kecamatan Atambua Barat, Selasa, (3/7/2018)

Foho Rai Festival 2018 di Kampung Adat Matabesi yang akan dilaksanakan 2 hari (3-4 Juli) dengan rangkaian acara Hase Hawaka, penampilan Tarian Likurai, Ritual Adat Rai Fohon Hare (mahein Lulik), Leno Urat/Orakel (Uma Meo), Talk Show, Safari Kampung Adat, Stand Tenun, Coaching Klinic, Permainan Traditional, Stand Kuliner serta Stand Sastra Rakyat dan, kembali pada hari kedua dilaksnakan kegiatan Safari ke Bukit Sumeta, Bukit Ro’o Fau dan Konser Musik Traditional yang menampilkan Sanggar Likurai, Sanggar Tebe Ainiba, Sanggar Tebe Halimodok, SALT Atambua, Sumeta Ethnic Fashion dan Likurai Partisipant.

Foho Rai Festival 2018 ini akan dilaksanakan di empat lokasi perkampung Adat yakni Kampung Adat Matabesi (3-4 ), Kampung Adat Raimanuk (6-7 Juli), Kampung Adat Duarato-Nualain (12-13 Juli) dan Kampung Adat Dirun (21 Juli).

Kampung Adat Matabesi
Kampung Ada ini merupakan satu suku besar yang memegang peran penting dalam struktur adat kerajaan atau ke-Na’i-an Lidak. Matabesi sendiri berasal dari kata “Mak ta Besi” (harafiah; orang yang memotong besi/sesuatu yang kuat) yang berarti orang yang bertugas sebagai eksekutor/hakim/penengah/ahli strategi. Istilah yang melekat dengan suku Matabesi adalah manu sesu rai, manu lia manas (artinya hakim yang tersohor).

Suku Matabesi mendiami sebuah perkampungan puncak di sebuah ketinggian barisan pegunungan bernama Lidak. Disana terdapat 12 Uma Manaran (rumah adat) dalam perkampungan Matabesi: Uma Kakaluk atau Isberan (sifat netral), Uma Fuk, Uma Bei Hale, Uma Bei Hale Kiik (Bei Asa), Uma Bei Bere, Uma Baa, Uma Matabesi Kiik, Uma Meo, Uma Manehat Tahakae, Uma Mahein Luli, Uma Lokes, Uma Mane Ikun. Komposisi ke-12 Uma Manaran ini membentuk sebuah Cluster dengan Uma Fuk Matabesi sebagai sentranya. Uma Kakaluk atau Isberan merupakan rumah induk sumber semua rumah adat atau fondasi dasar semua rumah suku.

Group Sumeta Etnik Fusion, Festival Foho Rai Belu 2018,  Kampung adat Matabesi, Atambua .

Menurut tutur adat Mako’an, ringkasan perjalanan migrasi Suku Matabesi dapat digambarkan sebagai berikut :Suku Matabesi datang dari Sinamutin Malaka yang diawali dengan perjalanan tiga leluhur yang dikenal dengan sebutan as na’in tolu-ubu na’in tolu-bei na’in tolu. Melalui persinggahan awal di Larantuka Baboe, ketiga leluhur ini secara berurutan bergerak menuju Mutis Ornai (wilayah TTU), We to Maubesi (Timor Leste), kembali ke Malaka dan melanjutkan perjalanan ke Suai (Timor Leste), kembali ke Wesei Wehali dan bermingrasi terus sampai berlabuh di Lakaan – Lahurus (Belu). dari Lakaan, mereka bergerak terus menuju Toro(dekat kota atambua). Di Toro inilah mereka bertemu dengan 2 suku besar, yakni suku Lawalu dan suku Makluli Fahi.

Barisan Generasi pemiliki budaya foho rai belu ,ikut bergabung dalam acara festival foho rai 2018.

Mandat kedua Suku Besar ini Suku Matabesi diberi ulayat dengan predikat Makerek Badaen (ahli strategi/hakim) beserta tiga bukit batu suci, yakni Sumeta, Ro’o Fau dan Kaku’a sebagai batak bot tolu dan tuik bot tolu adalah bukit batu suci yang diberikan oleh ke-2 suku tertua kepada matabesi sebagai simbol kepemilikan yang nantinya akan menjadi manaran.

Manaran inilah yang akan berperan sebagai Foho atau Wadah Suci untuk sesuai yang lebih tinggi dan bersifat magis. Manaran juga menjadi simbol kekuasaan yang sah. Dalam ritual sakral akan disebutkan manaran tersebut sebagai eksistensi Matabesi diakui sebagai mauk tur hein, mauk main tan (tamu sekaligus tuan). Dengan keabsahan ulayat dan kepercayaan inilah, suku Matabesi mulai hidup menetap membentuk kelompok masyarakat baru dengan situs-situsnya dibawah kekuasaan Na’i Lidak(Raja Lidak).(tim/cs)

Karya : Mr.Bereck Anggrainy