Tentang Tua, Diam Dan Mati

Tanwirul Manar
Karya Tanwirul Manar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juli 2017
Tentang Tua, Diam Dan Mati

Musim telah banyak berganti. namun tetap, tidak ada yang lebih berat dari udara yang mengisi pagi hari. sarat seratnya menyiksa paru-paru, dan Aku hanya ingin menarik selimut dan menutup mataku. Aku tidak ingin bangun hari ini. tidak juga dibangunkan. kepalaku berat. Paruku berkarat. Aku ingin mati dalam sekejap. Andai bisa.

Ada hari dimana Aku tidak ingin mengucapkan apapun. bahkan bersenandung pun tidak. Aku hanya ingin diam. menelanjangi jiwaku dengan segala hal baik dan busuk. kau dengar? Aku tidak pernah kosong. Aku mendengar setiap ucapanmu.

*

"jarak dinding itu hanya empat meter dari tempatmu duduk melihatnya. kenapa matamu memandang begitu jauh? " gumam sang Tuan. Aku diam.

"Jawab Aku! Apa lagi yang menganjal rasa dan otakmu hari ini? seperti orang tua saja!" gumamnya lagi. Ia serius sedang Aku tetap abai saja pada setiap puisi yang ia gubah lewat mulutnya.


"Kau masih muda. banyak hal yang masih bisa kau lakukan. bersyukurlah karena sekarang masih ada orang yang mau mengajakmu bicara dan mendengar ucapanmu. ketika kau tua nanti. Kau hanya dianggap sebagai beban. tidak ada orang yang mau mengajakmu bicara. bahkan tidak ada satu jawabanpun yang akan kau dapat saat mulutmu menanyakan sesuatu. seperti Aku sekarang yang kau abaikan." lanjutnya lagi. Aku bangun. tetap diam lantas pergi meninggalkan sang Tuan. Aku tidak marah padanya. Aku tidak kesal padanya. Aku tahu bahwa, pada suatu hari nanti Aku akan menjadi tua, tidak akan diajak bicara dan mati... Aku tahu.


Pokoknya, Aku-hanya-sedang-tidak-ingin-mengucapkan-sepatah-kata pun-hari-ini. itu saja.

Virus.

20/02/17

 

  • view 19