Diary

Tanwirul Manar
Karya Tanwirul Manar Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 17 Mei 2016
Diary

Kekasih,

Sejenak, tak bisa kujelaskan gugup ini padamu. Mengajakmu bersama, adalah keagungan yang terus kudamba sekaligus titik nadirku sebagai manusia. Kau adalah keagungan itu. Juga rasa takut itu.

Kekasih,

Pada warna dibalik kelopak mata yang menutup. Aku Mengagumimu. Dalam gelap. Sendiri. Kadang tersenyum. Tak jarang aku menangis. Tawa kujadikan pelarian. Seolah kamu memang untukku. Dan Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Itu saja yang bisa kulakukan. Bukankah engkau?

Kekasih, 

Pada hari itu, sesuatu itu. Sesuatu yang ada dalam diriku, entahlah. tapi Ia bertanya tentang siapa kita…

Siapa kita Kekasih?

Temankah? Dekatkah? Atau….Apa Kekasih?

Kau membuatku begitu penasaran, jawab Aku! Yang tak lenyap dengarku untukmu. Yang tak hilang detakku untuk hadirmu. Yang tak raib senyumku walau kau pergi dengan lelaki-lelaki itu.

Kekasih, 

Jika nanti salah satu dari mereka membuatmu bersedih, datanglah padaku. Menangislah dibahuku. Jika nanti tak adalagi yang mencarimu dengan pakaian ketat seperti malam ini, saat kau dingin, saat tungkai-tungkai itu beranjak berdiri. Peluklah aku, barangkali hangat tubuhku bisa mencairkan beku itu. serap hangat tubuhku, bersama kita berbagi. Seperti kau menukar bungamu dengan puluhan tuan besar diatas ranjang hotel itu.

Ketika kau menyuruhku mengantarmu, didalam mimpi itu.

http://tamanawan.blogspot.co.id/2016/04/diary.html