Perempuan yang Memeluk Jasad

tantrini andang
Karya tantrini andang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2017
Perempuan yang Memeluk Jasad

Perempuan itu hanya duduk terdiam dengan pandangan jauh tanpa batas yang jelas. Tubuhnya bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Kedua tangannya bersedakap di dadanya. Terkadang ada aliran sungai kecil yang berasal  dari pelupuk matanya, lalu merambat turun melewati pipinya yang mulus bagai kaca, menuruni lekuk jenjang lehernya, hingga terjatuh lepas ke bawah tubuhnya. Ia bahkan tak peduli akan kemana bulir-bulir air bening itu bermuara.

            Saat malam tiba ia akan tidur di bawah peraduannya dengan tangan bagai memeluk sesuatu..Sesuatu yang ia tahu berada jauh di bawah lantai tempat ia berbaring menghabiskan malam-malamnya. Sesuatu itu membuatnya begitu meranggas, bagai bunga elok tanpa siraman air berbulan-bulan. Kecantikan perempuan itu tenggelam dan larut dalam rasa kehilangan dan luka yang mendalam.         

            Seandainya waktu bisa diputar, sesndainya tiap detak bisa kulepas dan kususun kembali bagai puzzle sesuai keinginanku, perempuan itu tidak akan menjadi begitu. Pemikiran  itu hanyalah kata pembenaran diri  yang kuendapkan dalam keegoisanku untuk menghapus rasa bersalahku. Namun waktu tidak akan mampu membohongiku. Gulirnya selalu jujur dan mencetak jelas setiap gambar perjalanan hidupku yang penuh dengan jelaga dan aib.

            “Bukan aku...Bukan aku...Aku mencintainya...Sudah pasti bukan akuuu..” Itu adalah kata-kata yang digumamkannya, selalu, sepanjang waktu. Dalam setiap desah nafasnya, dalam setiap pagi dan beribu malamnya, dalam setiap goresan luka di dadanya, perempuan itu terlihat menderita. Deritanya menusuk hatiku, merajam semua tarikan nafasku, membuatku limbung dengan langkahku. Aku adalah pedang yang menghunus hidupnya. Ya..benar. Aku! Dan harapku untuk bisa memperbaiki semuanya adalah mustahil. Siapakah yang mampu  bernegosiasi dengan waktu agar bersedia berputar kembali?  Bukankah setiap detik yang berdetak mempunyai ceritanya masing-masing?

            Kadang aku begitu membenci waktu yang selalu angkuh  sehingga tidak teraih tangan untuk bisa dikoreksi. Kuasanya meraja bagai goresan tinta permanen yang selamanya tak bisa diubah. Sekali kita menggariskan kesalahan, selamanya tidak bisa dihapus begitu saja. Kadang aku memusuhi sesal yang tak mau berhenti mengingatkan sebuah dosa. Bagai lukisan tajam yang terpahat di setiap degup jantung yang menderu. Menyesakkan namun tak mampu dilepaskan, begitu lengket mencengkeram di setiap langkah dan derap pikiran. Waktu dan sesal adalah musuh yang setia menjejali setiap tarikan nafasku.

            Perempuan itu adalah prasastinya. Tak mungkin kusangkal bahwa wajah pilu yang penuh rasa sakit itu telah memudarkan seluruh kecantikannya. Dulu...dulu sekali aku melihat bening bola matanya yang berputar indah saat bibir mungilnya berkisah. Aku menikmati setiap harum nafasnya yang menggemakan riuh-riuh di dadaku. Binar mata beningnya adalah sorga yang selalu ingin kukunjungi di detik kubuka mataku di pagi hari. Kilau lambaian helai rambutnya adalah puisi sakral yang selalu ingin kujadikan kuas di lukisan cintaku. Perempuan bermata indah itu telah membangkitkan sukmaku, menguasai seluruh desah nafasku dan cerita hidupku. Dan aku pun mulai memahatkan harapanku untuk  memilikinya..

            “Tidak ada yang salah dengan perasaanmu”. Begitu suara lembutnya menggetarkan bilik cintaku. Saat itu senja temaram menjelang malam. Wajahnya yang memantulkan kepolosan benaknya menggugurkan kesombonganku. Kata demi kata yang keluar dari mulut mungilnya mengguratkan sembilu di dadaku. Saat itu hatiku terapung apung bak perahu yang tak mendapatkan pelabuhannya. Dan kilau matanya yang sebening telaga kembali menghunjam laraku saat ia melanjutkan ucapannya

             “Semua orang boleh dan berhak mempunyai perasaan semurni yang kau rasakan. Namun sungguh aku tidak sanggup menampungnya. Hatiku telah penuh dengan surga yang lain. Maafkan aku...” Detik itu, perempuan itu menghunjamkan pisau cintanya di ujung harapku, di bangunan cinta yang kususun pelan-pelan, di mimpi indahku yang menghanyutkan nafas pagiku. Hatiku porak poranda. Serpihnya bagai debu-debu malam yang terbang entah kemana. Perempuan itu menepiskan cintaku. Dalam gemuruh kehancuranku selintas tanya menghantuiku. Siapakah pangeran beruntung yang telah menjanjikan surga di lubuk hatinya?

            “Aku sudah menjalin hubungan dengan Riyanto.” desahnya. Begitu lembut suaranya, namun bagai gelegar petir yang membuatku berubah menjadi remah-remah. Hatiku berserak tiada ampun. Semakin aku terluka saat kulihat  percik bintang yang menyala indah di bola matanya saat ia menyebut nama lelaki itu. Kerlip itu semestinya menjadi milikku. Namun kini justru meracuniku dengan  semena-mena. Aku bagai dipaksa menenggak kepahitannya yang mematikan. Mengapa Riyanto? Mengapa justru lelaki  itu yang dipilih hatinya? Gusarku membuatku terpaku dalam kubangan kedengkian yang merayap pelan-pelan.

            “Kamu sungguh mencintainya?” sebuah pertanyaan yang lalu kusesali menyelinap keluar dari mulutku yang cemburu. Mengapa harus kutanyakan hal yang jelas kutahu jawabannya akan menyakitkan? Dan rasa sakit itu benar-benar nyata saat kulihat perempuan itu menganggukkan kepalanya. Binar matanya masih tetap indah saat ia mengakui sebuah kejujuran  perasaannya. Sebuah kejujuran yang menggoreskan luka berdarah di dadaku. Gemuruh gusarku menggelora seirama dengan detak jantung penuh cinta di dada perempuan itu, Detak jantung itulah yang dipersembahkannya untuk lelaki itu. Lelaki yang sangat tidak kuinginkan menjadi sainganku

            “Mengapa kamu memilih dia? Kamu bahkan seumuran denganku, yang lebih pantas menjadi anaknya.” ucapku penuh luka. Ada sedikit harap bahwa ia akan berpikir ulang dengan kata-kataku itu. Namun aku dipaksa untuk menyadari, cinta tidak ada urusan dengan  umur, bukan masalah siapa yang kau jatuhi cinta,. Meski beribu kosa kata kujelaskan betapa tidak pantasnya dia bersanding dengan lelaki setua itu, namun beribu kali lipat pula jawabannya yang mengoyakkan harapanku. Cinta tidak memilih tempatnya untuk tumbuh, dan semenjak itu tanpa kusadari. aku jadi sangat membenci lelaki yang beruntung itu.

            Gusar, kecewa, serta dengki yang luar biasa mulai menjadi sahabat hari-hariku. Aku bagai terkubur dalam kubangan kebencian yang merenggut hampir seluruh nilai-nilai kebenaran yang dulu pernah kuyakini. Aku mulai melihat jika cinta yang terluka ternyata mampu mengubah seekor kelinci menjadi serigala, menjadikan sekuntum mawar yang indah menjadi seonggok kotoran yang menjijikkan. Aku berubah menjadi setan bertaring tajam yang siap menerkam dan mengoyak-oyak siapapun yang ada di dekatku. Otakku sudah tidak mampu berpikir jernih. Sakit yang kupendam dalam diamku semakin menyengat dan membuatku menderita saat melihat perempuan bermata telaga itu duduk bersanding dengan lelaki pujaannya di pelaminan. Aku harus di sana, menyaksikannya bahagia bersama lelaki tua itu. Aku tak mungkin menghindar. Sejak saat itu, perempuan yang merenggut seluruh hatiku itu harus kupanggil ibu. Lelaki yang dipujanya adalah Riyanto, ayahku sendiri.

            Hari-hari setelahnya bagai neraka bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan saat melihat perempuan itu begitu setia dan ramah melayani seluruh keperluan ayah. Senyumnya, binar matanya, cintanya, semuanya hanya untuk ayah. Aku semakin menggila dengan perasaan yang tak mampu kusimpan. Hari-hariku penuh koyakan amarah dan kebencian. Lukaku semakin menganga oleh kecemburuan. Perlahan kelinci itu bermetamorfosa menjadi seekor serigala.

            Suatu pagi yang muram...

            “Mengapa kau tinggalkan ayah?” tanya lelaki yang mulai kubenci itu.

            “Sudah ada dia yang melayani dan menemani ayah. Aku pikir ayah tidak membutuhkan aku lagi. Biarkan aku mencari kehidupanku sendiri.”

            “Dia ibumu” Ayah menegaskan. Wajahnya masih menyisakan ketampanan masa lalunya, ketampanan yang diwariskan padaku. Huh! Aku mendesis, apa gunanya ketampanan dan kemudaanku kaalu tidak mampu merenggut cinta perempuan bermata telaga itu?

            “Apa yang akan kau cari di luar sana? Aku akan berikan semua warisanku kepadamu, kamu anak ayah satu-satunya. Jangan pergi!” Ayah masih memohon.  Aku hanya diam. Kulirik sosok semampai yang berdiri di belakang ayah. Perempuan yang menjadi ibuku itu tak mengatakan apapun. Ia  pasti sangat tahu kecamuk dalam hatiku. Kutatap mata telaganya. Ada permohonan yang sama di sana agar aku tetap tinggal. Selintas kuharap ia menginginkanku karena cinta sebagai perempuan, bukan karena kasihan pada ayah. Namun aku kecewa saat kusadari tak kutemukan itu di matanya.         Perempuan itu menyentuh lenganku. Mata telaganya kembali menghunjam hatiku. Bisiknya kudengar saat mulut mungilnya berkata

            “Maafkan aku telah melukaimu, namun sungguh aku tidak ingin melihatmu pergi meninggalkan ayahmu. Ia sangat mengasihimu. Ia pasti akan sangat kehilanganmu..” bujuknya. Aku tak sempat mencerna kata-katanya karena begitu terhanyut dengan telaga di matanya. Namun rasa kecewaku kembali menyeruak. Aku pun berkeras pada keputusanku.Tak ada yang mampu menghalangiku. Perempuan itu kini ibuku. Sebuah kenyataan yang sangat kubenci.

            “Biarkan aku menjauhimu kalau itu bisa menyembuhkan lukaku,” jawabku sambil masih berusaha menikmati telaga itu.  Namun aku tak mampu bertahan lama menatapnya. Segera kupejamkan mataku, berharap dengan begitu aku mampu melupakannya segera.

            “Kenapa kamu harus melupakanku? Tidak bisakah kita bersahabat seandainya kamu tidak menerimaku sebagai ibu?” Lalu kaca-kaca bening mengambang di pelupuk matanya, menambah pijar kecantikannya yang selama ini menghantui mimpi-mimpiku.

            “Maaf aku tidak bisa.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Saat itu senja merambat, mengantarkanku dengan berbagai tanya yang tak mampu kujawab. Ayah masih mencoba mencegah, namun aku tetap bersikukuh. Dengan pandangan penuh pasrah, lelaki itu mengantarkanku dengan pandangan gundah.

            Lalu bertahun kemudian aku harus mengakui, sejauh manapun aku berjalan, perempuan bermata telaga itu tidak mampu kuenyahkan. Dia selalu mengikuti setiap kupejamkan mata hingga kubuka mata di pagi hari. Ragaku memang tek lagi tersentuh oleh tatapan mata telaganya, namun hatiku selalu membawa sosoknya, bahkan di mimpi-mimpi yang sama sekali tak kukenhadaki. Aku merasa sangat menggilai ibu tiriku sendiri.

            Lalu setan itu mulai menguasai. Iblis yang bengis tak mampu kulawan. Atas nama cinta yang entah telah berubah bentuk menjadi apa, sebuah persekongkolan jahat mulai kususun, Aku mulai mengencani nafsu.  Kelinci itu telah menjadi serigala. Aku tak sanggup mengatasinya.

*****

            Dan aku pun pulang kembali setelah semuanya selesai. Hatiku masih berdegup kencang. Degup yang sama persis seperti beberapa tahun yang lalu. Harapanku tersusun rapi bagai saat pertama kunyatakan cintaku pada perempuan bermata telaga itu. Aku begitu yakin kali ini adalah kesempatanku untuk meraih bongkahan hatinya.

            Namun semua tidak seperti yang kubayangkan. Tak kujumpai perempuan bermata telaga itu. Tak kulihat binar cahaya di wajahnya. Hatiku teriris perih melihat perempuan itu menatap kosong ke depan. Tangannya bersedakap di dadanya seolah memeluk sesuatu. Badannya digoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang. Tatap matanya yang kosong menerjang jauh ke depan tanpa batas yang jelas..Menyedihkan.

            “Mengapa kamu baru pulang sekarang? Perempuan itu menjadi gila semenjak kepergian ayahmu. Ayahmu meninggal setelah memakan masakannya. Orang-orang menyangka dialah yang sengaja meracuni masakannya sendiri. Banyak yang menyangka perempuan itu  hanya mengincar harta ayahmu. Ia yang telah meracuni makanan ayahmu hingga ayahmu keracunan dan tak tertolong lagi”, kata seorang tetangga yang kebetulan melihatku terpaku memandang perempuan itu.

            “Tapi apa ada bukti?” tanyaku gemetar.

            “Sudah jelas hanya dia yang menyiapkan makanan ayahmu, siapa lagi. Apalagi perempuan itu langsung menjadi gila di detik ia tahu ayahmu terbunuh.?”

            “Lalu dimana mereka menguburkan ayahku?”

            “Perempuan gila itu tidak mau jauh-jauh dari jasad ayahmu. Ia menguburnya di bawah peraduannya sendiri. Tiap malam ia tidur di bawah peraduannya, tepat di atas makam ayahmu. Tak ada yang mampu mencegahnya. Ia akan mengamuk dan mencakar siapapun yang menghalangi kemauannya.”

            Buliran air mengalir pelan dari kedua mataku. Bertahun berlalu, ternyata cintanya pada ayahku tidak luntur. Bahkan saat ayahku telah meninggalkannya pun ia tetap tidak ingin jauh dari jasadnya. Aku benar-benar tidak memiliki tempat sedikitpun di hatinya. Bahkan kini.

            .Sejak itu tiap malam perempuan itu memeluk  jasad ayahku yang dikubur di bawah peraduannya.. Mata telaganya hanya bersinar saat nama ayahku keluar dari mulut mungilnya. Selebihnya hanya kabut kelam yang menyesakkan yang melingkarinya. Perempuan itu tak bisa bicara hal lain. 

            “Diracun..aku tahu ia diracun...Tapi bukan aku,,, Aku mencintainya...” Hanya kalimat itu yang digumamkannya dalam tatapan hampanya. Aku masih melihat cinta dan luka yang silih berganti menampakkan rupanya di wajahnya.  Aku  tergugu. Cintaku tak sampai. Cinta perempuan itu juga terpenggal. Kami sama-sama patah hati. Porak poranda dengan serpihan hati yang berserakan entah kemana...

            Perlahan aku melangkah pergi meninggalkan rumah masa kecilku yang kini terlihat angkuh itu.  Kering sudah segala harap dan puzzle-puzzle yang kususun rapi untuk meraih hatinya. Cinta tidak bisa dipaksa. Cinta tidak dipilih. Ia memilih sendiri tempatnya untuk tumbuh, dan ia tidak bersedia tumbuh di hatiku. Langkahku tersendat saat  dering telpon nyaring terdengar di telingaku. Denyut-denyut ponsel menggerusak di kantongku. Dalam kepenatan kuangkat ponsel tanpa membaca nama penelepon di ujung sana.

            “Mana upahku? Aku sudah laksanakan rencanamu. Mana upahku?” Suara itu kini menterorku. Suara yang beberapa waktu terakhir menjadi bagian dari kepingan puzzleku. Aku merasa sesak. Kubanting handphoneku hingga hancur berantakan.  Aku berlari  sambil membawa hati yang berdarah. Aku ingin berlari jauh, lebih jauh dari  suara itu, menjauhi perempuan yang terluka itu, menjauhi rasa cintaku yang tetap menggeliat tak mampu kulepaskan. Aku ingin menjauhi perempuan bermata telaga yang di dalamnya kulihat diriku sendiri, sedang mencabut nyawa ayahku sendiri.

Cerpen ini masuk dalam Antologi Cerita Pendek Hujan Terlalu Pagi

  • view 60