BEGAL

tantrini andang
Karya tantrini andang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2017
BEGAL

Senja memerah mengeser bola langit ke peraduannya. Suara teriakan para ibu yang memanggil anak-anaknya pulang dari bermain terdengar bersahutan. Perlahan suasana kampung yang kental dengan kepadatan penghuninya itu mulai lengang. Dan berbagai kesibukan pun berpindah  hanya terdengar di dalam rumah masing-masing.

            Dua orang lelaki sedang duduk di salah satu teras rumah. Sebuah meja kecil tanpa taplak berdiri kokoh di depan mereka. Di atasnya tampak dua  buah botol minuman keras yang tinggal separuh isinya. Sepiring singkong goreng yang telah dingin turut menemani cengkerama mereka. Sarju, lelaki yang lebih tua menengadahkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya terpejam. Nikmatnya tegukan terakhir dari isi botol minuman itu mengguliri kerongkongannya, lalu meresap jauh ke tiap sel-sel  tubuhnya, mengaliri jiwa berangasannya. 

            Terlintas lagi di benaknya kejadian pagi tadi. Wajah seorang lelaki tua yang ketakutan, merengek minta dikasihani. Rengekan itu sempat mengusik nuraninya. Sekilas saja, namun cukup membuatnya bertanya dalam hati, bagaimana nasib lelaki itu sepeninggalnya? Ia tadi menendang bagian lututnya yang terlihat rapuh itu. Lalu terdengar jeritan kesakitan keluar dari mulut lelaki ringkih  itu. Tubuhnya rubuh tepat di samping motor yang masih berputar-putar kedua rodanya.   Lalu Sarju sengaja menambah sekali tendangan lagi, tanpa belas kasih. Tubuh kurus itu menggelinding ke selokan, masih dengan jeritan ketakutan dan kesakitan. Namun  ia tak peduli. Dengan sigap motor  yang rebah itu  disambarnya. Kabur.

            Sehari sebelumnya seorang perempuan hanya mampu menangis saat berhadapan dengan sangkur yang dibawanya. Satu goresan di pipinya cukup membuat perempuan itu menggigil. Tanpa banyak perlawanan, perempuan itu menyerahkan motor yang dibawanya.  Masih terbayang jelas sinar ketakutan di mata perempuan lemah itu.  Selalu begitu, para pemilik motor itu tak akan banyak berkutik. Bagaimanapun harga sebuah motor tidak semahal harga nyawa. Itu mungkin yang ada di pikiran perempuan yang ketakutan itu, juga para pemilik motor yang pernah menjadi  korbannya. Sarju tersenyum samar. Betapa mudahnya menundukkan orang hanya dengan sebuah ancaman.

            “Sudah mulai gelap Kang, ” ujar Komar, lelaki yang lebih muda. Sarju   membuka matanya.

            “Kenapa?”

            “Sudah saatnya kita berburu lagi”

            “Hhhmmm...” Sarju kembali memejamkan matanya. Masih jelas dalam pikirannya keluhan istrinya untuk membeli kulkas baru. Kulkas lama sudah tidak lagi dingin untuk menyimpan makanan kesukaannya. Juga rengekan anak tunggalnya, Warjo untuk membeli handphone model terbaru. Sarju mendesah. Meskipun ia mendapatkan hasil yang lumayan dari merampas motor dan menjualnya pada para penadah,  namun rasanya masih saja ia merasa kekurangan. Ada saja hal-hal yang belum terpenuhi yang harus dikejarnya. Benarkah kata orang bahwa rejeki yang didapat dengan mengambil hak orang lain tidak akan tinggal di genggaman?

            Langit mulai menghitam saat Sumirah, istrinya keluar. Wajahnya tampak gelisah memandang ke arah jalan depan rumah. Kepalanya melongok ke kiri dan ke kanan seolah sedang mencari sesuatu.

            “Ada apa Yu?” tanya Komar. Sarju yang mendengar  Komar menyapa istrinya lalu membuka matanya lagi. Dilihatnya wajah Sumirah yang resah. Mulut perempuan itu terkunci rapat  seolah tak mempedulikan pertanyaan Komar. Hawa dingin yang merambat perlahan membuat perempuan itu terpaksa menangkupkan kedua lengan ke dadanya. Lalu dilangkahkannya kakinya menuju ke pintu pagar. Di depan pagar ia berdiri sejenak sambil memandang ke ujung jalan.

            “Mau kemana Mirah?” Sarju mengulangi pertanyaan Komar. Sumirah masih terdiam sebelum akhirnya ia kembali berbalik arah menuju ke teras rumah. Wajahnya masih keruh.

            “Kang apakah tadi Warjo sudah pulang ke rumah? Tak biasanya ia pulang sampai gelap begini”

            “Oalahhh... kamu nunggu Warjo to?”

            “Lha iya...Siapa lagi menurutmu Kang? Kita berdua sudah ada di rumah, sementara dari tadi siang anak kita belum pulang.” Sumirah meninggikan suaranya.

            “Warjo itu anak laki-laki, sudah besar pula. Biarkan sajalah. Paling juga masih ngumpul sama teman-temannya. Tidak mungkin kan kamu mau ngeloni anak laki-lakimu itu terus-terusan.” Sarju mencibirkan mulutnya, tak memahami kekhawatiran istrinya.

            “Ah.. Kakang ini. Gimana aku nggak khawatir, tadi dia pamit cuma sebentar. Dia nggak pernah ingkar janji.”

            “Sudahlah, tunggu beberapa saat lagi. Warjo sudah enam belas tahun, sudah bukan anak-anak lagi. Biarkan ia tumbuh, jangan terus-terusan kamu perlakukan seperti bayi terus.” Tukas Sarju lagi  bernada bosan.

            “Benar Yu...Kalau sudah remaja begitu ia akan malu kalau masih dicari-cari ibunya saat keluar rumah,” Komar menambahkan.

            “Ah, Kalian ini sama saja. Kalian bisa bilang begitu karena tidak pernah merasakan sakitnya melahirkan!” Sumirah cemberut lalu bergegas menuju pintu masuk rumah dan menutupnya segera. Baginya bicara dengan para lelaki itu tidak akan menyelesaikan masalahnya. Mereka beda dunia, beda cara berpikir. Tak berapa lama pintu terbuka lagi. Wajah Sumirah kembali muncul.

            “Salah kakang juga sih. Warjo itu sudah lama pengen punya handphone, tapi sampai sekarang cuma janji-janji saja yang kakang beri. Coba kalau dia punya handphone, Kakang bisa cek kemana saja dia sekarang.”

            Sarju menggumam tak jelas. Selalu begitu. Di  rumah, ia sering berselisih dengan istrinya. Hal-hal yang kecil bisa menjadi bahan pertengkaran.  Mungkin  lebih baik ia menuruti saran Komar untuk kembali berburu. Mungkin ia bisa mendapat hal yang lebih menarik daripada mendengarkan rengekan  dari istrinya itu.

            Sarju bangkit, menenggak habis isi botol yang masih tersisa.  Dilemparnya kunci motor ke arah Komar yang dengan cekatan ditangkap oleh lelaki itu. Lalu Komar ikut berdiri dan melangkah mengikuti Sarju.

            “Mau kemana lagi?” Sumirah kembali bertanya.

            “Cari angin ”

            “Kalau lihat Warjo suruh pulang Kang...”

            “Hhhhmmmm...” Sarju hanya bergumam. Lalu ia menunggu Komar menghidupkan motornya. Motor yang biasa ia pakai untuk menerjang dan merebut motor orang lain. Ah... motor  ini memang  sangat berjasa. Sudah berapa buah motor yang bisa dibawanya pulang dengan mengendarai motor ini.

            Dan gelap mulai memekat. Malam pun menghitam membuat warna kontras dengan lampu-lampu jalan.  Sarju duduk di boncengan  Komar yang menggulirkan roda kendaraan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang remang dan lorong-lorong sepi. Mata mereka nyalang meskipun malam semakin menghitam. Ada gairah yang tak biasa di dada Sarju untuk segera menuntaskan pekerjaannya kini. Bukan gairah yang positif pastinya, karena hanya pengaruh isi botol yang ditenggaknya tadi yang membuatnya merasa begitu.

            “Di deretan sawah itu sering lewat  anak muda yang baru pulang kursus. Kita ke sana saja, Sarju menunjuk ke sebuah arah di kanan jalan. Komar yang ada di depan membelokkan  motornya ke arah yang ditunjuk Sarju. Jalanan itu memang sepi karena di kiri dan kanannya hanya ada hamparan sawah-sawah. Jalan itu adalah  satu-satunya jalur tersingkat yang sering dilewati para siswa yang baru pulang kursus dari kota. Entah kenapa malam ini Sarju bernafsu untuk menjadikan anak-anak itu sebagai korbannya.

            Sebuah kerlip lampu motor yang berjalan lambat tampak di kejauhan.  Komar menunjuk ke arah depan dengan dagunya.

            “Kang, yang di depan itu sepertinya sendirian..”

            “Kita pastikan. Dekati dia!” Sarju memberi komando. Lalu  Komar menambah kecepatan motornya mendekati sasaran yang ada di depan. Setelah jarak tinggal beberapa meter, tampaklah  pengendara motor itu. Dada Sarju semakin berombak oleh nafsu untuk segera menyelesaikan  pekerjaannya  kali itu. Beberapa detik Komar mulai menjajari motor di depannya. Pengendara motor itu tampak merasa tidak nyaman karena jalanan yang semakin terasa sempit dengan bertambahnya motor Komar di sebelahnya. Lalu motor itu menambah kecepatannya, Komar kembali menjajarinya, menunggu saat Sarju mualai menendangkan kakinya ke lutut pengendara motor itu. Semakin gelisah si pengendara motor mempercepat laju motornya, Komar tak sabar lagi, ia juga menambah kecepatan motornya sendiri

            “Ayo Kang buruan bergerak, mumpung sepi ni..” Komar memberi aba-aba.

            “Kasih aku posisi yang pas, jajari dari sebelah kiri..” Sarju mengarahkan. Komar pun menuruti perintah Sarju. Dan pada posisi yang pas itu, Sarju pun melancarkan aksinya, satu tendangan yang luar biasa kuat menancap ke lutut pengendara itu. Suara jeritan kesakitan pun membahana ke udara, memecah sunyi yang menggelayurti sepanjang jalanan sawah itu. Pengendara itu roboh, hampir terjengkang ke pematang sawah. Namun rupanya pengendara itu masih sangat muda, semangatnya masih tinggi. Ia tampak berusaha bangkit dan ingin meraih motornya lagi.

            Sarju melompat dari boncengannya, mendekat ke arah pengendara motor yang kesakitan itu. Malam yang pekat dan hawa nafsu yang bergolak hebat di dadanya akibat pengaruh minuman yang ditenggaknya tadi tak lagi memberi ampun. Diacungkanya sangkur yang sedari tadi digenggamnya. Lalu diarahkannya ke leher pengendara motor  itu.

            “Tolooong...” teriakan pengendara itu seakan menembus keheningan. Sesaat Sarju seakan teringat sesuatu yang sempat menghentikan langkahnya. Namun gelegak amarah dan nafsu yang bergumpal tak lagi terbendung. Suasana yang sepi tak menampakkan keberadaan makhluk lain di dekat mereka. Pengendara itu masih berusaha menangkis sangkur yang mengarah ke kepalanya, Sayang tangannya malah tertebas hingga nyaris putus karenanya. Darah muncrat ke mana-mana dan membasahi tubuhnya.

            Sarju semakin gelap mata. Ia tak lagi peduli pada  lolongan dan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut pengendara itu. Ia ingin segera menuntaskan semuanya. Dihunjamkannya sangkurnya ke tubuh pengendara itu  secara acak, tak peduli mengenai bagian tubuh yang mana. Yang jelas ia mulai berhenti mengayunkan sangkurnya setelah tak terdengar lagi lolongan kesakitan pengendara itu.

            “Kang..sudah Kang..” suara Komar di belakang yang masih duduk di atas motornya mengingatkan Sarju yang masih mengayun-ayunkan sangkurnya. Wajah Komar menampakkan kengerian karena baru kali ini ia melihat Sarju begitu gelap mata. Biasanya mereka hanya cukup melukai korban dengan tendangan di lutut hingga roboh, tidak sampai menggunakan senjata tajam seperti kali ini. Sangkur yang dibawa Sarju hanya untuk menakut-nakuti dan mengancam, tidak untuk melukai.

            Napas Sarju tersengal. Ada kelegaan yang ganjil yang merambati dadanya. Rasa puas bercampur gelisah yang aneh. Sejenak ia masih berdiri di hadapan sosok yang terkulai tak berdaya bersimbah darah di depannya. Komar pun mendekat dan mengingatkan Sarju untuk segera pergi.

            “Cepat Kang, ambil motornya..”

            Sarju pun tersadar kembali dan segera mengangkat motor yang masih menyala mesinnya itu. Dalam sekali tancap, mereka pun meninggalkan si pengendara malang yang masih tersendat-sendat menghisap nafas-nafas terakhirnya.

            Malam semakin gelap saat Sarju dan Komar mempercepat motor mereka masing-masing. Motor rampasan itu terasa ringan sekali saat dikendarai Sarju. Seolah motor itu sudah mengenal Sarju. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai ke depan teras rumah Sarju lagi.

            “Kenapa Kakang menggunakan senjata? Bagaimana kalau korban tadi sampai terbunuh?” Komar bertanya menunjukkan kekhawatirannya. Sarju hanya menatapnya tajam. Komar mengkerut karenanya.

            “Sudah terlanjur. Aku benar-benar gelap mata..” Sarju melirik botol kosong yang masih ada di atas meja. Lalu pintu rumah terbuka. Sumirah melongok dari balik pintu.

            “Dari mana saja Kang? Kok baju Kakang belepotan darah? Kakang kenapa?” Sumirah berseru khawatir. Di pegangmya lengan suaminya. Dicarinya di sekujur tubuh lelaki itu kalau-kalau ada yang terluka. Sarju menepis pelan tangan istrinya.

            “Aku tidak apa-apa,” gumamnya. Sumirah semakin bingung. Bagaimana mungkin dengan adanya bekas darah sebanyak itu suaminya tidak merasakan apa-apa? Lalu matanya terarah ke motor yang baru saja diparkir oleh Sarju.

            “Mana Warjo Kang?”

            “Nggak ada aku nggak ketemu dia” sahut Sarju dengan nada lelah. Sumirah mengerutkan keningnya

            “Lho, tapi kenapa motor Warjo Kakang bawa? Kemana anak kita?” Sumirah menunjuk motor yang baru saja diparkir di depan rumah. Sarju terbelalak saat Sumirah menunjuk motor rampasan itu. Sejenak ia seperti berhenti bernafas..        

            “Kakang ini dari mana? Kenapa baju kakang penuh bercak darah seperti ini? Dan kenapa kakang bawa motor Warjo? Dimana anak kita?” Berondongan pertanyaan Sumirah membuat Sarju semakin tergeragap.. Darah yang  mengaliri tubuhnya terasa panas membakar  dirinya. Dilihatnya sekali lagi motor rampasan yang baru saja diperolehnya itu.  Baru ia menyadari kalau itu memang motor Warjo! Karena terlalu gelap, ia tidak mempedulikan warna dan bentuk motor yang dirampasnya. Pantas saja ia serasa mengenal tarikan motor itu saat ditungganginya. Ia juga baru ingat kenapa tadi ia sempat terhenti saat pengendara tadi berteriak minta tolong. Ia sangat mengenal suara itu. Namun karena pengaruh nafsu bejatnya ia tak mempedulikan suara hatinya lagi. Segera ia mengucal rambutnya sendiri. Lalu ditariknya Komar di puncak kegelisahannya.

            “Kita ke sawah itu lagi Mar...Anakku..Anakku Ohhh...” Namun karena panik dan segala rasa yang bercampur aduk, Sarju lalu jatuh terduduk.  Tak mampu lagi ia berdiri untuk mengendarai motornya dan  melesat ke jalan persawahan itu lagi. Lututnya gemetar, Mulutnya bergetar, Jantungnya berdebar sangat cepat. Nafasnya tersengal serasa memutuskan seluruh urat nadinya. Terbayang lagi berapa kali ia menebaskan sangkurnya pada pengendara motor tadi. Terbayang juga berapa kali darah pengendara itu muncrat ke tubuhnya sendiri.

            “Kang..Kakang kenapaaa..” Sumirah menggoyang-goyangkan tubuh Sarju yang semakin berkeringat dan bergetar hebat. Lalu yang terdengar adalah suara lolongan yang melengking tinggi. Raungan kesakitan dan penyesalan itu memecah malam yang semakin hitam dan suram.

                       

 Cerpen ini masuk dalam Antologi  Cerita Pendek Hujan Terlalu Pagi


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Satu dari segelintir fiksi dahsyat nan sadis yang menghiasi tulisan pilihan redaksi Inspirasi.co sejauh ini. Tantrini Andang, si kreator, memiliki teknik penceritaan yang mumpuni sehingga cerpen ini terbaca menegangkan sehingga sanggup membuat pembaca mau menikmati tulisannya hingga akhir. Poin yang menjadikan cerpen ini tercipta jadi karya yang sukses membuat penasaran sebab petunjuk diberikan sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya klimaks saat Sarju menyadari dialah yang telah menghabisi anaknya sendiri benar-benar bisa dinikmati cukup total.

    Fiksi ini juga sarat pesan yang hebat. Selain tentang keburukan yang kembali kepada pelaku dengan keburukan pula, rezeki yang haram hanya akan menyebabkan orang tak pernah puas hingga pada akhirnya menjadi bumerang luar biasa jika terlalu terlambat untuk menyadarinya. Seperti halnya Sarju yang buta mata hingga melukai anaknya sendiri. Luar biasa karya ini, Tantrini!