Matinya Konglomerasi

Omar Abe Tanjabok
Karya Omar Abe Tanjabok Kategori Ekonomi
dipublikasikan 27 Maret 2016
Matinya Konglomerasi

Apa yang disuguhkan kepada kita beberapa hari lampau adalah satu pertanda shifting effect, dua atau lebih tren yang bertabrakan, yang tidak mungkin salah satunya bertindak sebagai eksekutor untuk menandakan kematian tren yang lainnya, untuk berjalan paralel salah satunya harus melakukan change.

Jika kita mencoba membreakdown permasalahan antara taksi bluebird, ekspress dengan taksi aplikasi uber, grab taxi, gojek terdapat perbedaan yang signifikan bukan hanya sekedar perizinan dan aplikasi online, tetapi jika kita masuk lebih dalam didalam persaingan tersebut ada perbedaan bisnis model yang cukup signifikan.

Yang kemudian menarik adalah apakah bisnis model yang mana yang terbaik, dengan tren customer orientation, tentunya bisnis model yang terbaik saat ini yang bisa menawarkan yang terbaik bagi customer, baik harga maupun pelayanan.

Meminjam istilah sharing economy dari rhenald khasali, yang memiliki anti tesis un-shared economy, termasuk didalamnya monopoli, yang sudah diawasi ketat oleh Komisi Pengawasan Persaingan Usaha - KPPU, dan konglomerasi, sistem kepemilikan kapital dan jaringan. Dalam un-shared economy ini sendiri kapital jika bukan dimonopoli maka didominasi, usaha pengembangan ekonomi sendiri dimulai dari pengembangan kapital itu sendiri, pengembangan kapital secara massif melibatkan interest, yang dalam kajian islamic economy dikenal dengan istilah riba, sejauh apa interest ini menjadi beban dalam persaingan ekonomi saat ini.

Istilah sharing economy ini ternyata sudah ditawarkan oleh islamic economy dengan mudharabah ataupun musyarakah. Salah satu bisnis model yang ditawarkan tren uber, gojek, grab taxi, dsb dapat menambah khazanah bagaimana jasa yang berbeda dapat disatukan dengan prinsip mudharabah, jasa customer service dengan jasa yang mencari core dari produk itu sendiri, dalam hal ini adalah jasa pelayanan taksi. Dalam konsep islamic economy, kepemilikan mutlak dari kapital adalah hal yang harus dijelaskan terlebih dahulu, meniadakan interest atau riba, dan yang menjadi penentu adalah unpredictable result.

Kembali kepada bisnis model yang berbeda, taksi bluebird, ekspress dsb menawarkan bisnis model manajemen kapital, dimana kendaraan itu sendiri adalah kapital yang diurus selain operasional, tentunya dengan segala kurang dan lebihnya kapital ini dengan interestnya memberikan beban kepada perusahaan.

Jaringan uber, grab taxi, gojek, dsb menawarkan bisnis model yang lebih sederhana dengan mengeliminasi kompleksitas modal itu sendiri, sehingga modal tersebut berada diluar bisnis model yang kedua ini beserta interestnya.

Perbedaan bisnis model tersebut tidak terlalu nampak dilapangan, tapi implikasi dari bisnis model tersebut memberikan kesenjangan yang terlalu besar. Di australia disebutkan dalam media effisiensi operasional sistem bisnis model kedua mencapai 40%.

Yang bisa dilakukan oleh sistem bisnis model pertama adalah, mereduksi beban kapital yang memiliki interest, ataupun mengeliminasi beban kapital tersebut dari operasional cost, ataupun mengeliminasi kegiatan non-core (beban kredit kendaraan kepada driver) dan fokus pada kegiatan core (pelayanan taksi).

Apakah kemudian sistem model kedua ini akan masuk ke ranah properti, pelayanan penginapan ataupun bidang lainnya dan mematikan konglomerasi, jawabannya ya dan tidak, ya jika konglomerasi tersebut membebankan kapital dan interest secara langsung kepada pelanggan, dan tidak jika kapital dan interest tersebut dipandang satu investment kapital yang terpisah. Juga tiga syarat yang disebutkan diatas berlaku, kepemilikan mutlak kapital, eliminasi interest, dan unpredictable result.

Arif Abdullah
Chief of Media & Information
Masyarakat Ekonomi Syariah United Kingdom
www.mes-uk.org

  • view 212