Pesan Untukmu, Wahai Bapak!

Emme Nia
Karya Emme Nia Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Desember 2017
Pesan Untukmu, Wahai Bapak!

Suatu hari di pesawat...

Seorang bapak yang sama sekali tidak kukenal, mempertanyakan keputusanku.

"Untuk apa sekolah sampai sarjana kalau kemudian hanya jadi Ibu Rumah Tangga?"

Lalu bertubi-tubi ia curahkan argumennya.

"Wanita itu harus mandiri, jangan hanya bergantung pada suami. Kalau kamu nggak kerja, nggak mandiri, suamimu akan semena-mena sama kamu."

"Ngurus anak sambil wirausaha di rumah, lulusan SMP juga bisa! Kamu sarjana, bekerjalah!"

"Sekarang kalian itu masih muda, masih seneng-senengnya. Nanti akan beda lagi. Wanita itu semakin tua usianya, otot-otot tubuhnya mulai kendor. Laki-laki pasti akan cari isteri lagi."

Kalimat terakhir itu ia ucapkan dengan penuh keyakinan, men-generalisasi semua lelaki, dengan sebuah bukti konkrit yaitu dirinya sendiri. Ya, bapak necis usia 50-an tahun yang duduk di sebelahku itu kemudian mengaku dengan bangganya, bahwa ia telah menikahi seorang wanita yang usianya sepuluh tahun lebih muda dibanding isteri pertamanya.

Setelah pengakuannya itu, lenyap sudah rasa seganku pada beliau.

Percakapan itu terjadi saat aku masih beberapa bulan menyandang status sebagai seorang isteri dan belum memiliki momongan. Maka saat itu aku hanya bisa menjawab semua cercaannya dengan diam, memendam galau tingkat dewa.

Sebelum berpisah, beliau memberiku kartu namanya. Kalau-kalau suatu saat aku memerlukan jasa ekspedisi untuk boyongan. 

Hmm... Beliau pimpinan perusahaan rupanya.

Kini empat tahun berlalu sejak percTiga tahun merasakan kehidupan sebagai Ibu Rumah Tangga dengan dua orang anak. Tiap kali dilanda "hectic", aku selalu ingat pada percakapan di pesawat itu lalu ada rasa kesal yang ingin kusampaikan...

Janganlah para perempuan
Dididik dengan ancaman
Ditanamkan ketakutan

Hai suami, berikanlah rasa aman
Sebab tugasnya tak ringan;
Mendidik generasi akhir zaman

Jika semata ingin kesenangan
Menikah sepuluh kalipun, takkan dapat ketenteraman

Jujurlah katakan:
Isteri sudah tak menawan,
Atau kau lemah pada godaan? 

***

Empat tahun berlalu, apa kabarmu, Wahai Bapak? Jujur, ingin sekali aku bertemu isteri pertamamu, melihat kekuatan di wajahnya. 

Dia, wanita yang telah melahirkan dan membesarkan puterimu hingga dewasa, lulus kuliah, menikah, dan berkarir.

Dia, wanita yang doanya mengiringi setiap langkah lelahmu hingga kaucapai kesuksesan.

Dia, wanita yang kaupoligami hanya karena tak molek lagi, bukan karena dakwah suci. Semoga doa terbaiknya tetap mengalir untukmu, hingga nanti.

***

Bjm, 15122017

-Nia Tania-


*Gambar diambil dari: https://imgs.tuts.dragoart.com/how-to-draw-kaoru-kamiya-rurouni-kenshin_1_000000011405_5.jpg

  • view 142