Punya Tetangga vs Hidup Bertetangga

Nia Tania
Karya Nia Tania Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Desember 2016
Punya Tetangga vs Hidup Bertetangga

Menikah, merantau, dan berumah sendiri bersama suami dan anak di lingkungan yang jauh berbeda dari lingkungan asal kami, membuat pemikiran ini muncul di benak saya.

Tinggal di sebuah komplek perumahan dengan kultur yang jauh berbeda. Sebelumnya, 25 tahun saya pun tinggal di sebuah komplek perumahan dimana saya dibesarkan. Saya terbiasa dengan kehidupan bertetangga yang hangat dan dekat. Di perumahan yang luas dan entah berapa banyak jumlah rumahnya, orangtua saya bisa saling kenal dengan orang-orang yang rumahnya beda gang, beda blok, beda RT beda RW. 

Interaksinya tidak hanya saling senyum sapa, tapi juga saling tolong-menolong, menjenguk jika ada yang sakit, ikut repot jika ada yang hajatan, ikut hepi kalau ada yang mantu. Pertemuan antarwarga digelar rutin. Ada arisan, pengajian, rapat RT, kerja bakti, peringatan 17 agustusan. Belum lagi bonus pertemuan di tukang sayur tiap pagi.

Namun di tempat baru ini, saya merasakan atmosphere yang amat berbeda. Komplek perumahan yang baru dibangun tiga tahun. Hanya satu gang dengan dua baris rumah yang saling berhadapan. Dari sekitar lima puluhan rumah, kira-kira hanya separuh saja yang berpenghuni. Dan dari separuh yang berpenghuni itu, tidak semuanya saling kenal. Bisa dihitung jari berapa orang yang menjalin pertemanan. Lainnya cukup senyum dan sapa ketika berpapasan. Ada pula yang tidak tersenyum, tidak pula menyapa. Pak RT pun kami tak punya. Ah jadi kangen Pak RT, hihihi...

Fenomena yang paling mengejutkan saya adalah ada orang yang bahkan tidak tahu nama tetangga depan rumahnya, tidak tahu kalau selama berbulan-bulan ada penghuni bayi di depan rumahnya, tidak tahu nama satu sama lain.

Memang ada tipe orang yang menghindari interaksi dengan tetangga, tak mau dekat-dekat karena bermaksud menghindari acara gosip. Mungkin karena jaman sekarang sudah ada social media, jadi orang merasa berinteraksi di dunia maya saja sudah cukup mengakomodasi kebutuhan sosialnya. Tapi by the way, jangan-jangan ketegangan yang sering muncul antarkubu di dunia maya, adalah karena orang-orang sudah amat jarang berinteraksi secara langsung dengan tetangganya, sehingga tenggang rasa atau tepa selira-nya tidak terasah. 

Bagaimana kita bisa memimpikan kehidupan yang damai dan guyub di negara ini, apabila di lingkungan tetangga saja kita menciptakan suasana yang dingin dan kaku? Percayalah... Membuka kaca mobil sejenak, tersenyum dan menyapa tetangga Anda, insya Allah tak sampai membuat mobil Anda menabrak tong sampah.

Berkenalan, menanyakan kabar hingga bertukar cerita, bisa jadi akan membuat Anda tertawa untuk pertama kalinya di hari itu. 

Tetangga adalah anugerah. Kalau ketika masih ikut rumah orangtua dulu saya jarang ngobrol intens dengan tetangga, sekarang menjadi tuan di rumah sendiri, maka saya-lah yang mereka temui apabila lewat di depan rumah. Dari situ saya merasakan, bahwa tetangga adalah anugerah.

Berinteraksi dengan tetangga, melihat senyum dan mendengarkan cerita ceria tentang pengalaman mereka, saya merasa kaya. Mendengar curhat tetangga, wawasan saya bertambah.

Dan lagi yang membahagiakan hati, kami tidak hanya saling tukar cerita, tapi juga saling berbagi makanan hingga bumbu dapur ketika tiba-tiba kehabisan kunyit, ketumbar atau bawang di saat mendesak.

Pantas saja Rasulullah melarang kita menyakiti tetangga. Dari tetangga, berkah dan kebahagiaan bisa kita dapatkan. Tak harus aku keliling dunia.

So, bagi yang punya tetangga, sudahkah kita hidup bertetangga?

 

Banjarmasin, 23 Desember 2016

-Nia Tania-

 

*Sumber gambar: http://torontorealtyblog.com/archives/9622

  • view 257