Jadi IRT, Buat Apa Pendidikan Tinggi?

Nia Tania
Karya Nia Tania Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Mei 2016
Jadi IRT, Buat Apa Pendidikan Tinggi?

Berprofesi sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) sudah saya niatkan bahkan jauh sebelum bertemu jodoh. Alasannya sederhana, karena kepikiran siapa nanti yang menjaga anak jika saya tidak di rumah? Apakah dia hanya akan berkata dan berperilaku yang baik-baik saja kepada anak saya? Bisakah dia tidak marah-apalagi memukul- jika baby rewel? Tidak mencela saat anak banyak tingkah?

Namun di awal pernikahan, keputusan saya untuk menjadi IRT sempat dipertanyakan sebab saya menyandang gelar sarjana. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau kemudian hanya di rumah mengurus anak? Padahal orangtua sudah susah payah membiayai kuliah...

Dicerca demikian, rasanya seperti jatuh dari pesawat yang sedang terbang di tengah awan, lalu tenggelam di dasar laut tanpa ditolong Princess Mermaid (makelum, waktu itu "penyerangan"nya terjadi di pesawat). Sebab saat itu saya belum menyadari manfaat pendidikan yang saya tempuh dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, saya dan suami yang tadinya LDM (Long Distance Marriage) akhirnya bisa tinggal bersama dalam satu atap dan hidup jauh dari orangtua. Nah ketika sudah hidup mandiri bersama suami, mulai mengurus rumah dan anak sendiri, di sinilah saya mulai merasakan manfaat ilmu-ilmu yang pernah saya dapatkan selama menempuh pendidikan hingga S1.

Di bangku SMP, saya menerima materi tentang bahaya zat-zat aditif. Maka saya sebisa mungkin menghindari penggunaan monosodium glutamat (MSG) ketika memasak. Juga lebih selektif dalam membeli camilan untuk si kecil. Karena di pelajaran IPA dijelaskan bahwa MSG, bahan pengawet, dan pewarna buatan dapat menyebabkan kanker jika sering dikonsumsi.

Di jenjang SMP pula saya mengenal kesempurnaan ASI dan pentingnya kolostrum. Masih ingat dulu ada tugas merangkum manfaat ASI. Inilah yang pertama kali membuat saya bertekad kuat untuk memberikan ASI exclusive.

Semasa SMP pula saya mulai mengenal teknologi. Dibekali Pak Guru cara mengaplikasikan Microsoft Word, Microsoft Excel, Power Point, berkenalan dengan internet dan membuat email. Jadi saya bisa ikut menikmati kemudahan akses informasi hingga saat ini. Tahu apa yang terjadi di dunia luar meski seharian stay at home. Update informasi seputar dunia anak pun dari internet. Juga nggak ketinggalan memanfaatkan fasilitas online shopping terlebih untuk membeli keperluan baby. Nggak perlu nunggu suami punya waktu kosong untuk mengantar membeli keperluan yang mendesak.

Dan kebayang betapa asiknya jika anak belajar komputer nggak jauh-jauh, karena mamanya juga bisa. Anak ngerjakan PR nggak perlu minta bantuan ke mas rental pengetikan, karena di rumah sudah ada ahlinya. Mau belajar apa aja sama mama, kalau mama nggak ngerti bisa nganter tanya ke mbah google.

Okke...Kemudian di masa SMA, saya belajar cara membuat blog dalam pelajaran "Teknologi Informasi dan Komputer". Jadi saya bisa blogging gini karena pernah sekolah :)

Udah, manfaatnya sampai SMA aja? Ada lagi?

Ada. Dan ini pengalaman yang terpenting, yang menyadarkan saya betapa beruntungnya bisa kuliah meski setelah menikah tidak menjadi wanita karir.

Suatu saat, tiba-tiba seorang kenalan mengirim pesan BBM, menawarkan sebuah produk investasi.

"Modal minimal Rp 100,00 , dijamin keuntungan 30% tiap bulan. Sekarang setor 100 ribu, bulan depan sudah dapat 130 ribu. Caranya sangat mudah, nggak perlu kerja capek-capek."

Begitulah pesan-pesannya yang saya ingat. Wow...cuma setor duit 100 ribu, truz ditinggal nyapu, nyuci, ngepel, masak, momong baby, tidur, tiba-tiba bulan depan duitnya udah balik jadi 130 ribu. Itu kalau nyetor 100 ribu. Kalau nyetor 1 juta, keuntungannya 300 ribu. Tertarik?

Selama tiga setengah tahun kuliah di Jurusan Ekonomi Islam, "diwejangi" apabila melakukan investasi, akad dan transaksinya harus jelas. Nggak boleh gharar. Harus jelas itu uang "diputer" untuk apa, bagaimana cara memperoleh keuntungannya, halal atau haram.

Dan, sejak SMP hingga S1, setiap hari bapak-ibu guru selalu mendorong kami untuk bertanya, bertanya dan bertanya dalam sebuah diskusi atau presentasi. Yang ngasih pertanyaan nanti dapat nilai. Jangan lupa sebutkan nama dan nomor absen. 

Jiwa kritis ini kebawa donk sampai udah jadi emak-emak. So, saya interogasi tuh masnya, kok bisa pasti dapat untung 30% tiap bulan? Memang uangnya diinvestasikan ke mana? Buat apa? Lho ini investasi atau nolong orang? Truz gimana cara dapetin orang yang akan menggunakan uang saya?

Saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menjadi tahu lalu ikut bergabung. Sejak awal saya sudah menduga, orang itu tidak akan bisa memberi jawaban yang memuaskan. Dan sistem pengembalian yang pasti-pasti itu justru bikin saya nggak percaya. Saya ingin mengorek lebih jauh hanya untuk menambah wawasan model "investasi" yang saat itu sedang berkembang.

Dan benarlah, tidak lama setelah menerima penawaran dan memberi penolakan, media marak membicarakan sistem investasi tersebut yang rupanya tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan.

Penipuan berkedok investasi. Sejak dulu sudah ada, hanya nama dan modusnya saja yang berbeda-beda. Ini fakta, tidak sedikit orang yang kehilangan uang jutaan bahkan milyaran rupiah karena tergiur iming-iming balik modal cepat dan untung berlipat. Ada kasus yang dialami orang sekitar, dimana melapor ke pihak berwajib pun sia-sia sebab tidak ada surat perjanjian tertulis antara para korban dengan pelaku sebagai bukti kerjasama mereka. Di sinilah pentingnya peran mata kuliah Aspek Hukum Dalam Bisnis.

Bayangkan jika seorang ibu yang menghandle keuangan tidak mengerti seluk beluk investasi. Niat membantu menambah penghasilan keluarga, eh malah bikin suami bete karena uang melayang percuma.

Sampai di sini, ada yang masih bertanya buat apa IRT sekolah tinggi-tinggi?

Hey, memangnya kalau saya mau jadi IRT, saya hanya boleh sekolah sampai SD atau SMP saja setelah itu langsung menikah, lalu membesarkan anak di tengah ilmu dan pergaulan yang sempit? Orangtua saya kan tidak mengenal sistem homeschooling seperti kebanyakan orangtua masa kini

Apakah IRT tidak berhak memiliki masa-masa bahagia punya banyak teman, pergaulan luas, menikmati kisah kasih di sekolah, menyerap ilmu dari para guru dan dosen?

Apakah hanya lulusan SD atau SMP saja yang pantas menjadi IRT?

Di bangku-bangku pendidikan terutama saat menempuh S1, saya tidak hanya mendapatkan ilmu. Jenjang S1 adalah gerbang yang secara langsung maupun tidak langsung, membuka pertemuan saya dengan para sahabat serta banyak orang dan hingga saat ini kami terus menjalin komunikasi. Mereka adalah orang-orang yang menambah kualitas serta kebahagiaan diri saya dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.

Jadi, saya telah merasakan bahwa pendidikan tinggi memiliki pengaruh yang amat besar bagi seorang ibu rumah tangga.

Namun ada juga saat-saat dimana empat ijasah itu sama sekali tidak bisa membantu saya. Ketika memasak, saya harus menelepon mama atau browsing resep dulu. Tapi prakteknya sering gagal. Niatnya masak apa, jadinya apa. Nggak tega sama suami yang sering jadi korban trial and error. Sarjana, tapi masak aja nggak bisa. Untungnya tidak ada yang bertanya seperti itu.

Juga ketika menghadapi perbedaan dengan suami. Sekolah tinggi-tinggi, tapi nggak pinter menyikapi perbedaan. Ada nggak yang nanya gitu?

Apalagi saat menghadapi baby yang seharian rewel dan teriakannya terdengar sampai ke rumah-rumah tetangga. Masya Allah, mata kuliah mana yang ngajarin manajemen emosi dalam merawat bayi? Itu baby belum bisa ngomong maunya apa, juga nggak ngerti maksud ucapan kita. Tapi sayangnya dari SD sampai S1 nggak ada pelajaran cara mengatasi baby yang rewel nggak jelas. Di-treatment bagaimanapun baby tetap menjerit-jerit. Lalu adakah yang protes, berpendidikan tinggi tapi gampang emosi kalau baby rewel?

Seorang ibu harus punya kemauan belajar yang kuat. Jangan mengerdilkan keistimewaan ilmu sebatas untuk mengejar karir.

Dear Ladies... Ibu rumah tangga adalah profesi berharga, tak perlu ragu bila menggenggam cita-cita itu. Namun jangan takut untuk tetap mengenyam pendidikan tinggi. Seorang ibu harus punya kemauan belajar yang kuat. Jangan mengerdilkan keistimewaan ilmu sebatas untuk mengejar karir. Dan karena setiap kita (insya Allah) akan menikah dan punya anak, maka yang paling wajib dipelajari adalah ilmu manajemen rumah tangga. Tentang menjadi istri dan ibu yang berkualitas, hingga rumahtangga menjelma surga.

Dan untuk mereka yang masih mempertanyakan. Jangan lagi merendahkan ibu rumah tangga sebagai profesi yang tak layak mendapat sentuhan pendidikan tinggi.

 

Banjarmasin, 7 Mei 2016

-Nia Tania-

 

*edisi revisi dari tulisan saya di https://cermintania.wordpress.com/2016/02/01/jadi-irt-buat-apa-pendidikan-tinggi/


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Setuju Meski pada akhirnya seorang seorang wanita akan menjadi IRT, namun tidak mutlak menutup kesempatan untuk menjadi peran yang lebih untuk orang sekitarnya pula..

  • MissGalauSite Galausite
    MissGalauSite Galausite
    1 tahun yang lalu.
    menjadi ibu rumah tangga merupakan tugas yang sangat mulia kok

    • Lihat 2 Respon