Kolaborasi Seorang Musisi Jalanan dan Bagian Terakhir Film SE7EN

Kaifin Prastyo
Karya Kaifin Prastyo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Juni 2016
Kolaborasi Seorang Musisi Jalanan dan Bagian Terakhir Film SE7EN

Seorang pria yang sedang duduk di hadapanku malam itu?—?malam yang dingin dan damai, dengan perpaduan suara musik melow dan deru kendaraan yang rindu akan garasi rumah?—?memesan segelas kopi hitam untuk diminum bersama (join-an, sebutan pemuda urban). Pria itu bernama Terlupakan (selanjutnya aku menyebut ia bang, Ter), nama yang kuambil dari akun Facebook lamanya setelah sekian lama kami berteman dan hanya beberapa kali saja melakukan pertemuan. Pertemuan kami selalu kurasakan begitu akrab. Bang Ter adalah karakter pria yang memiliki pembawaan santai dan menyantaikan lawan bicaranya. Aku mengibaratkan ia memiliki sudut pandang atap rumah, yang berdiri di antara musim panas dan musim hujan. Hal itu, aku rasa, ia dapatkan dari habitat profesinya sebagai musisi jalanan. Kepalaku, seketika saja dipenuhi oleh sketsa-sketsa adegan bang Ter, saat bernyanyi di hamparan orang-orang penghuni musim panas dan penghuni musim hujan. Kemudian, langsung kusesap kopi yang asapnya mulai malu-malu untuk keluar dari dalam gelas.

Pertemuan kami malam itu didasari oleh titipan sebuah buku yang harus kuserahkan kepada bang Ter. Kami membicarakan sedikit tentang tema buku tersebut. Buku itu berjudul Memoar Pekerja Seks. “biar kubaca di rumah saja buku ini.” ucap bang Ter, lalu kami membicarakan tentang pekerja seks di luar cerita-cerita yang ada di dalam buku. “aku tidak memandang bahwa pekerjaan itu adalah sesuatu yang hina. Walaupun, banyak anak-anak muda sepertimu berpendapat bahwa pekerjaan itu didominasi oleh hasrat seksual. karena menghasilkan uang, ya, mereka lakukan dengan senang. Padahal mereka?—?para pekerja seks?—?juga sedang memperjuangkan hidupnya, karena mereka sadar bahwa hidup ini begitu indah.” pendapat bang Ter, dan aku mendengarkannya sambil menghisap rokok. “walaupun dalam agama, perbuatan tersebut memang dilarang, tapi apalah hak kita untuk menghukum mereka dengan sikap yang tidak manusiawi?” lanjutnya. “iya, memang benar ucapan abang, masih banyak orang-orang yang gemar menghakimi jalan hidup seseorang atau sekelompok masyarakat atas dasar-dasar yang tidak memanusiakan.” jawabku dengan pikiran seadanya dan empati yang seada-adanya. Beberapa orang, berkali-kali, menyapa bang Ter yang sedang mengobrol denganku. Sehingga obrolan kami sedikit terpecah. Aku menyadari bahwa bang Ter banyak dihormati oleh para pengais rezeki di sekitar jalanan ini. Anak-anak muda, sesama musisi jalanan, atau tukang parkir, selalu bersalaman ketika melihat bang Ter. Sungguh pemandangan yang jarang kujumpai dalam lingkungan kehidupan di tepian jalan. Ada sisi lembut di balik kerasnya kehidupan jalan yang diselami oleh bang Ter.

Pembicaraan kami berlanjut dengan topik berbeda, bang Ter menanyakan tentang kesibukanku akhir-akhir ini. Aku bilang padanya kalau belakangan ini sesungguhnya diriku sedang tidak sibuk, alias menganggur. Kutanyakan tentang postingan di Facebook bang Ter, yang menampilkan dokumentasi hasil pementasannya di sebuah tempat makan. Lalu ia juga menceritakan kalau dirinya sedang mendapat pekerjaan lain di luar menghibur pengunjung di tempat makan itu. Ahh, aku sedikit iri kepadanya. Sesekali, aku pun mengutuki diri sendiri dalam hati karena belum mampu untuk hidup mandiri.

Pikiranku terbawa hembusan angin malam itu, tercium aroma rumah yang baru saja kutinggal tiga puluh menit lamanya. Kesadaranku sedikit melayang ke tempat-tempat yang penuh dengan rasa aman. Membayangkan mobil BMW berwarna hitam metalik yang sedang parkir di pinggir toko sepatu, tidak lagi menjadi kekhawatiranku di masa depan. “Temanmu yang bertatto itu gimana kabarnya?” tanya bang Ter melenyapkan lamunanku. “ohh… yang waktu itu ketemu di acara pementasan?” jawabku dengan mimik wajah sedikit terkejut. “ya, dia.” “kabarnya saat ini baik-baik saja. Tapi dia masih gemar mabuk, karena kalau tak mengambang, sulit menangkap pengetahuan baru. Katanya, ‘ilmu-ilmu jaman sekarang gak napak di tanah’.” “Aku pikir, dia sudah berhenti mabuk-mabukan. Padahal, hal itu tidak ada untungnya dan bukannya nambah pengetahuan, tapi malah nambah masalah hidup.” jawabnya muram, setelah kupikir ia akan tertawa mendengar penjelasanku. “memang abang pernah mabuk?” “Aku tidak akan bicara seperti itu kalau belum pernah merasakannya sendiri. Tidak ada dampak positifnya! Kemungkinan besar, cenderung melakukan hal negatif jika mencari penyelesaian dengan cara mabuk-mabukan.” Aku diam saja mendengar penjelasan bang Ter barusan. Sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku meneguk alkohol. Tentu saja, aku ingat, tiga minggu yang lalu. Kemudian aku juga ingat kalau setelah mabuk, aku bermalas-malasan dan tidak mandi seharian. “Ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup ini. Coba, kalau kita sadari nikmat-nikmat yang kecil, lalu mensyukurinya, hidup akan begitu indah, lalu terasa aneh jika dihabiskan hanya untuk menyiksa dan mengutuki diri sendiri.” Lanjut bang Ter sembari meneguk kopi yang mulai tampak ampasnya.

**

Aku pulang ke rumah dengan membawa perasaan terancam setelah mengobrol dengan bang Ter. Tidak nyaman jika aku harus tidur berbantal gelisah di kepala. Akhirnya kuputuskan untuk memutar film di laptop berjudul SE7EN untuk mengalihkan kegelisahanku. Film yang disutradarai oleh David Fincher ini, kutonton sampai selesai. Aku mengamati ceritanya seolah-olah aku adalah detektif ketiga di film tersebut?—?Film itu menceritakan tentang dua orang detektif yang sedang mengungkap pembunuhan berantai. Garis besar dari film SE7EN kurangkum di kepala?—?Aku tidak peduli David Fincher akan berkata apa. Tentang tujuh dosa manusia: rakus makan, keserakahan, kebanggaan, nafsu seks berlebihan, iri hati, kemarahan, dan kemalasan. Menurut rangkuman di kepalaku, film ini ingin menunjukkan bahwa tujuh dosa manusia, secara tidak sadar sangat sering kita jumpai dalam hidup. Bahkan kita sendiri adalah pelakunya. Beberapa dosa telah kurasakan dan kuperbincangkan dengan bang Ter. Kemudian perasaanku semakin merasa terancam dengan film garapan David Fincher tersebut. Namun, pada bagian akhir dari film SE7EN, aku mengingat kembali, ada kutipan dari Ernest Hemingway, “Dunia adalah tempat yang baik dan layak diperjuangkan.” Pikiranku, seperti wajan dengan minyak di atas kompor yang sedang menyala. Kalimat bang Ter dan kutipan Ernest Hemingway seakan meminta dimasak menjadi sebuah menu makan malam yang bijak, “ada banyak hal yang patut disyukuri dalam hidup ini, karena dunia adalah tempat yang baik dan layak diperjuangkan.” Begitulah cara yang kudapatkan, mengolah ancaman malam itu menjadi sebuah hidangan. 

  • view 67