Rebutan kepentingan di sepakbola nasional

Muhamad Fadhol Tamimy
Karya Muhamad Fadhol Tamimy Kategori Bola
dipublikasikan 20 Maret 2016
Rebutan kepentingan di sepakbola nasional

Beberapa waktu yang lalu kita sempat tercengang dengan kabar, ketua umum PSSI saat ini LNM dijadikan tersangka atas tuduhan kasus korupsi dana hibah APBD jatim, ketika ia menjabat sebagai ketua umum KADIN jatim, priode 2010-2014. Penetapan tsk dalam kasus tersebut bedasarkan keputusan kejaksaan bernomor 11/0.5/Fd.1/03/2016 tertanggal 16 Maret 2016, menindaklanjuti surat perintah penyidikan (spirindik) bernomol Print - 291/0.5/Fd.1/03/2016 tertanggal 16 Maret 2016 tersebut seperti dikutip dalam laman kompas (17/3/2016).


Atas perintah oleh kejaksaan tinggi jatim tersebut maka telah sah dan resmi ketua umum PSSI LNM saat ini ditersangkakan statusnya. Kisruh yang dihadapi PSSI sebagai induk sepak bola nasional saat ini seperti tak berujung, induk organisasi itu seperti menjadi harta karun bagi setiap kepentingan terkhususnya perpolitikan dan ajang bisnis orang-orang berduit dibaliknya.


Akhirnya induk orgainsasi tersebut tak lagi disibukkan dengan rencana jangka panjang demi sebuah prestasi seperti pembinaan, kompetisi, hingga kesejahteraan para pelaku sepakbola di dalamnya. Mimpi untuk berpartisipasi di piala dunia seakan luntur tertutupi gagap gempitanya laga kisruh antara menpora dan LNM.


Jika mengaitkan perseteruan yang terjadi di kancah sepak bola nasional, saling sikut antara kepentingan yang terjadi akan selalu menjadi sorotan oleh berbagai kalangan, bahkan presiden pun dengan manisnya juga tengah memperhatikan. Bayangkan saja, persepakbolaan yang sejatinya menjadi sebuah ajang hiburan, kesehatan dan kebugaran maupun prestasi berubah menjadi ajang laga para politisi untuk meraih simpati.


Semenjak hiburan yang tak lucu itu terjadi dengan sang lakon utama LNM, sepak bola kita sudah berada di ambang kehancuran. Hal tersebut terjadi ketika LNM dengan mantap melalui KPSI berniat menguasai PSSI, lewat PSSI tandingan di era kepemimpinan JAH. Liga tandingan, timnas aspal pun dibentuk dengan nahkodanya coach Alfred Ridel. Lantas mengharamkan para status pemain timnas yang turut berlaga membela bangsa pada saat itu.


Pemain tentu menjadi korban, karena dalam kondisi tersebut para pemain tak mampu berbuat apa-apa, mereka hanya ikut apa kata bos sang pemilik di dalam klub. Wajarlah apabila mereka tak bisa berbuat apa-apa, karena hanya dengan ikut apa kata boslah, mereka bisa tetap mencari sesuap nasi dari sepakbola.


Akibat dagelan tersebut maka terlihatlah sebuah nafsu kepentingan di dalamnya. Nafsu kepentingan yang tak sebatas pada kekuasaan dan perpolitikan semata, namun telah masuk ke relung bisnis di dalamnya. Bukan tak mungkin daya tarik sepak bola saat ini mamupu untuk menjadi mesin upeti pundi-pundi oleh oknum yang berkepentingan. Mengingat memang sepak bola adalah olahraga terpopuler di indonesia.


Saling klaim dan beku membekukan, bersurat legal kuasa atas nama pemerintah pun gencar di lakukan oleh menpora saat ini. Dengan gaya akrobatik saling terabas tak memperdulikan statuta FIFA pun berani untuk di lakukan. Hal tersebut akhirnya dianggap benar oleh sang pemegang kendali olahraga negeri ini, bahwa perbaikan persepakbolaan nasional adalah dengan jalan panjang kekerasan dan kesewenang-wenangan. Langkah tersebut adalah langkah yang tak ditempuh oleh menpora pendahulunya Roy Suryo yang lebih memilih jalan diplomatis mempersatukan seluruh pihak yang bertikai demi sebuah kepentingan yang lebih tinggi yaitu kepentingan bangsa dan negara.


Bagaimana kita tak jadi su?udzon atas polemik yang dihadapi persepakbolaan indonesia saat ini, jika para petarung di puncak pimpinan organisasi yang beseteru adalah orang politik semua. Sejak kisruh yang terjadi di tubuh PSSI saat ini memang merupakan buah rentetan panjang, kisah yang melibatkan sosok LNM ini.


LNM menganggap diri sebagai orang yang benar, begitu juga dengan Menpora. Namun konflik dan kisruh yang menimpa persepakbolaan nasional saat ini sejatinya hanya dapat diselesaikan dengan saling legowo menerima hasil yang telah diputuskan. Menpora yang harus menaati hasil putusan penolakan MA, dan Ketua Umum PSSI yang harusnya legowo untuk mundur untuk menyelesaikan kasus hukum tersebut.


Sudah lelah kita melihat konflik yang tak berkesudahan, Hingga sanksi FIFA yang tak kunjung berkesudahan. Harus menunggu berapa lama lagi kah kita bersabar menantikan nama indonesia terpampang sebagai salah satu finalis piala dunia. Angan-angan melihat bendera merah putih berkibar di panggung world cup sudah kuat terazam dalam setiap mimpi pemain yang tersemat di dadanya lambang kebanggaan negara, Garuda.
Tak perlu menjadi berazil kedua untuk menjadi juara, cukup dengan pembinaan yang baik, mumpuni disertai dengan dukungan induk organisasi dan suport dari negara niscaya melebihi brazil pun bisa. Dan ketika kejayaan tersebut datang pada waktunya maka gelora kebersamaan dalam satu muara prestasi akan nikmat nan mempesona.


Semoga para petinggi yang berkuasa mendengar dan membaca, sebuah keluh kesah dari sang penikmat sepakbola.

  • view 112