Mengkomersilkan Tayangan Air Mata

Muhamad Fadhol Tamimy
Karya Muhamad Fadhol Tamimy Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Februari 2016
Mengkomersilkan Tayangan Air Mata

Air mata merupakan simbol dari keharuan, ia adalah luapan ekspresif dari hati. Membuat terenyuh penuh empati orang yang memandang. Menjadi ajang pemberitahuan informasi tentang keadaan seseorang. Di sisi lain air mata terkadang merupakan senjata ampuh menjaring simpati. Perkasa tak mudah ditebak oleh strategi, namun ampuh meluluhlantakkan perasaan emosi.


Selain menjadi objek manifestasi perasaan air mata juga mampu membuat orang lain yang melihat merasakan iba terhadapnya. Air mata terkadang menjadi misteri, karena kita belum tentu memahami makna air mata yang mengalir di pipi tersebut, halusinasikah, atau sekedar tipuan berbalut penyembunyian jati diri.


Membicarakan air mata tak pernah ada habisnya, karena ia adalah simbolisasi ekspresif alamiah yang semua orang mampu melakukannya. Yang menjadi pembeda adalah makna tersembunyi dalam setiap tangisan yang menyertainya. Bahagia, sedih, atau hanya sekedar kepura-puraan belaka.
Kita dahulu hanya melihat tangisan seseorang dikala tersendunya ia dalam do?a yang penuh ketulusan, kesedihan karena kehilangan, ataupun luapan kegembiraan tak tertahankan. Ataupun tangisan drama dalam kebohongan di tengah tersudutnya ia dalam bahaya yang mengancam, macam maling ayam yang ketangkapan.


Hari ini kita dihadapkan pada kenyataan hidup di era globalisasi yang cenderung menganut sistem kapitalisme. Untuk urusan sederhana yang dahulu dianggap tabu saja sekarang terang benderang terintegrasi secara sistematis dan massiv di dalam industri pertelevisian nasonal demi memburu gelimang rente.


Tangisan yang dahulu merupakan simbol sakral penuh khidmat, sekarang malah laku menjadi ajang dagangan di aneka stasiun televisi. Ia tak lagi menjadi luapan emosi yang sakral penuh arti ketulusan karena tekanan keadaan. Industri televisi hari ini seakan berlomba-lomba untuk menampilkan sisi ketidakberdayaan seorang anak manusia dalam tangisannya.


Cara yang di ambil ini memang sangat ampuh mendongkrak rating karena memang sebagian besar animo masyarakat terhadap tayangan yang mengumbar tangisan makin populer. Kepopuleran tersebut tidak serta merta muncul begitu saja di tengah masyarakat indonesia. Secara psikologi masyarakat indonesia memang sebagian besar dibentuk oleh karakter sungkan dan tidak enakan. Budaya ketimuran yang sopan santun tentu memang turut andil dalam membentuk manusia yang mudah terenyuh melihat penderitaan orang lain yang di citrakan dengan tangisan.


Konsekwensi ini akhirnya cerdas dimanfaatkan oleh para pemburu rating di dunia bisnis pertelevisian indonesia. Tayangan yang ada bak jamur di musim hujan merebak di mana-mana. Unsur reality show, quiz, acara musik, acara sahur, dan iklan mulai keranjingan membuat selipan kesedihan di dalamnya.


Jangankan ruang terbuka macam televisi, beberapa kasus penggerebekan ?mesum? oleh aparat satpol PP ataupun inisiatif yang dilakukan oleh warga saja, syarat dengan suasana haru oleh pasangan yang ketangkapan. Mereka akan menangis sejadi-jadinya dengan harapan agar di lepaskan.

Tak jarang petugas tertipu oleh sandiwara ini, karena bisa jadi mereka melakukan hal yang sama di tempat lain dan memakai jurus yang sama agar di lepaskan kembali.


Akibat banyaknya tayangan yang menyajikan unsur kesdihan di dalam acara televsi hari ini, terkadang membuat kita iseng tak sadar untuk menebak ataupun beradu argumen. Aslikah atau hanya sekedar sandiwara semata? Acara musik yang dahulu menyajikan kreativitas musik para seniman musik di tanah air, berganti menjadi acara ?alay? tak jelas. Di satu sisi menampilkan teriak-teriak penghinaan di sisi lain tiba-tiba muncul fase games dengan sosok peserta yang meminta belas kasihan.


Jualan penderitaan hidup keluarga tak malu lagi mereka pamerkan demi merebut simpati penonton televisi. Ketika simpati penonton televisi meningkat otomatis yang di untungkan adalah para konglomerat empunya stasiun televisi. Sponsor berkerumun rebutan mengiklan di lokasi yang lagi ngehits penontonnya.


Televisi yang mudah di akses menjadikan metode mengeruk keuntungan lewat jualan kesedihan yang pada akhirnya ramai di ikuti oleh segerombolan sindikat pengemis terkordinir di indonesia saat ini. Kebanyakan pengemis yang kita temui cerdas berpenampilan cacat mengenaskan guna merebut iba para pengguna jalan.


Lihatlah anak bayi sekarang bukan lagi menjadi seorang yang harus diberikan perhatian dan kasih sayang, namun oleh para pengemis bayi ini dijadikan seperangkat properti layaknya bahan pelengkap sayuran macam garam dan bawang.


Menurut Bambang Sugiharto (25/06/15), seorang Guru besar filsafat budaya Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat, beberapa tayangan di televisi terkesan hanya ingin meraih pemirsa terbanayak dengan menjual sensasi yang mudah dijangkau masyarakat, seperti gosip, hiburan, dan cerita dengan alur luapan emosional yang tidak masuk akal.


Seharusnya media memiliki tanggung jawab sosial untuk menayangkan program bermanfaat yang bermanfaat bagi masyarakat, sekalipun tidak populer. ?tanggung jawab media untuk menyajikan tayangan informasi bermanfaat dan mencerdaskan masyarakat. Dan kita sebagai masyarakat diharapkan kian melek media dan pandai untuk memilih tayangan yang bermanfaat.


Pada akhirnya manakala air mata hari ini tidak di ekspresikan sebagaimana mestinya niscaya, kehidupan akan ramai oleh gagap gempita kebingungan dalam kepalsuan. Begitu ngerinya ekspresi ketidakberdayaan yang telah di perbudak hingga dikendalikan oleh nafsu kapitalis menyebabkan kita semakin terseret oleh identitas lain yang tak lagi humanis ala kemanusiaan kita. Kemanusiaan yang tau terhadap batas-batas sisi kemanusiaan tanpa dirasuki sikap materealistis buta.

?