Ngemis Perhatian di sosial media

Muhamad Fadhol Tamimy
Karya Muhamad Fadhol Tamimy Kategori Lainnya
dipublikasikan 04 Februari 2016
Ngemis Perhatian di sosial media


Pemandangan pada timeline twitter, personal massage BlackBerry messenger, serta aneka status yang silih berganti menghambur di dinding facebook nyaris memiliki pola yang sama di setiap waktunya.

Tak ketinggalan salam pesan siaran yang menggurita di BlackBerry messenger bermunculan, mulai dari sekedar numpang jatah promo iklan ekonomis, menebar hoax, memposting sajian tuntunan ibadah, hingga memperkenalkan teman yang entah si penerima Broadcast Massage mengenalnya ataupun tidak. Status facebook pun beragam, meskipun masih di rajai oleh status pengantar cinta untuk sang doi disana, namun tulisan memohon doa ataupun kegiatan harian rutin tetap berdampingan menyertainya. Kicauan twitter pun sekarang tak ingin ketinggalan updatenya, kalau dahulu twitter digunakan untuk cuitan tentang para pujangga mencari cinta sekarang bergeser ke ranah bagi-bagi info otw (on the way) ke suatu tempat.


Hal ini mungkin terlihat biasa namun ketika kita cermati terdapat hal yang lucu dan bahkan membuat senyum kecut memandang layar. bayangkan saja dahulu orang pamer hanya memakai cara-cara tradisional dengan bertatap wajah, bertia dari mulut kemulut, ataupun tindakan konyol mengambil mikrofon mushola dari marbot untuk sekedar memberi tau bahwa dia telah berinfaq seribu rupiah di kotak amal 2 minggu yang lalu. Namun ketika haegemoni Mark Zuckenberg merajalela dengan platform facebook nya, kegiatan pamer dewasa sekarang ini sudah mulai canggih, dari yang tua sampe yang muda, dari yang kecil sampe yang besar, dan dari yang imut-imut sampai yang amit-amit pun tidak ingin ketinggalan eksis di media sosial ini.


Tata cara pamer sekarang menjadi lebih elegan, hanya dengan berdoa mengumbar syukur atas apa yang telah di dapat maupun hanya sekedar share colongan dengan motif do?a atas kesedihan yang tengah di alami, anda telah terkenal mendadak dengan rating tolak ukur like yang di dapatkan. Rasa syukur karena mendapatkan laptop baru, pacar baru, prestasi baru, atau ?om-om? baru tak luput dari kepameran ranah sosial media.

Tak berbeda jauh dengan kepameran dalam ibadah pun menjamur, ibadah shunnah macam puasa senin-kamis, nisfu sya?ban mengalahkan kewajiban untuk menutup aurat. Tak kalah eksis postingan sholat tarawih un mengalahkan ke eksisan kewajiban sholat wajib maghrib. Dalam berbagai timeline twitter tak kalah heboh hingga seolah-olah keutamaan sholat lima waktu tertutupi kewajibannya. Tak cuma itu informasi perjalanan sekarang kian mentereng ?terpampang nyata?, kini kita diperlihatkan di berbagai akun sosial media BlackBerry messenger, path, instagram, twitter dan lain sebagainya hanya digunakan untuk menuliskan ?at, at, at dan atttttt?.


Pernahkah kita sedikit merenung akibat yang ditimbulkan dari perilaku kita tersebut terkadang membuat orang memandang kita sebagai pribadi yang pamer?. Budaya Indonesia yang kental akan rasa malu dan rasa tidak enakan kini bergeser menjadi salah satu penghuni sosial media yang kental dengan rasa tak tau malu dan sifat pamer, sombong hingga perasaan superioritas diatas orang lain. Nilai penghargaan berubah menjadi seberapa besar anda mendapatkan like atas postingan yang telah anda munculkan.


Arus hubungan kemasyarakatan kita sekarang bukan lagi bentuk interaksi pertemuan secara langsung nan sakral atau pertemuan dengan asas kekeluargaan, ciri khas dari budaya keindonesiaan. Semua bentuk pertemuan tersebut tergantikan dengan hubungan keakraban yang individualis, kita merasakan sosialisasi hanya karena telah memperhatikan layar gadget lalu berfantasi di dunia sosial media. Padahal dalam aspek tinjauan psikologi, apabila kita berada di tengah kerumunan namun tengah asik menyendiri di tengah keramaian akan memicu rasa ketidak pedulian terhadap lingkungan sekitar dan sesama. Manakala hal ini terus menerus berlangsung dan jumlahnya semakin banyak, indonesia akan punah secara budaya keramah tamahannya. Ramah tamah menjadi identitas bangsa indonesia, hanya dengan ramah tamah lah Indonesia menjadi tempat favorit orang dari mancanegara selain kondisi alamnya yang memang indah.


Pentingnya sadar diri untuk menahan diri dari pengaruh seni ?keranjingan posting? di sosial media perlu digalakkan, terlebih hal ini telah merangsek masuk dalam menggeser budaya serta nilai-nilai kearifan lokal. Kebebasan berekspresi melalui sosial media akan lebih tepat ketika dapat bersinergi dengan nilai-nilai keindonesiaan yang mengutamakan prilaku harmoni, keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dengan manusia lain, hingga hubungan antara manusia dengan tuhan yang maha esa dalam menjalani hidup.


Mungkin pemberitahuan info atau jalan-jalan lumrah saja, selama hal itu tidak mengganggu orang yang melihat. Namun ketika itu sebuah doa sebaiknya kita renungkan bersama untuk lebih bijak dalam menyikapinya. Allah lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dalam kesepian, bukan di media sosial yang berisik. Juga kegiatan ibadah akan lebih terpuji manakala kita tidak menyebar-nyebarkan ?secara berlebihan? amalan sunnah yang telah atau akan kita lakukan, karena hati seorang manusia rawan dari sifat ria.


Dari itu semua mari kita renungkan lagi etika kita dalam berinteraksi dengan sesama para netizen agar segala tindak tanduk perbuatan yang diakibatkan oleh prilaku kita di dalamnya tidak menimbulkan kerugian dan menyusahkan orang lain. Karena hanya dengan menghargailah, landasan persatuan bangsa, persatuan bangsa yang kuat akan menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama, manakala itu semua sudah selaras dan harmoni maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang ramah dan sejahtera. Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Manusia banyak belajar dari pengalaman tapi kadang terlupa untuk belajar dari kebenaran.


Hanya mengingat Allah lah hati kita akan menjadi tenang. ?Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar. (HR. Bukhari).