TANI

Ari Firmansyah
Karya Ari Firmansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Desember 2016
TANI

Entong ini seorang pelaku tani yang menggerus keringatnya demi kehidupan. Ia pun seorang anak yang mampu berfikir untuk mempertahankan keluarganya agar tetap bernafas dengan tenang. Mempunyai ayah yang buta karena penyakit. Dan juga ibu yang tak mampu berjalan karena kecelakaan sewaktu muda. Entong menjadi seorang special dalam keluarga itu. Karena ia sendiri yang mendapat kasih sayang penuh dari orang tua. Mereka selalu berusaha membuat Entong tersenyum dan tertawa. Pastinya sebelum Entong merasa sadar harus berjuang lebih kuat. Seorang diri kelak. Tanpa belas kasih lain.

 

“bu, bapak dimana…?” Tanya Entong yang baru sekali bangun di pagi itu.

“bapakmu ada di depan rumah nak” sahut dengan datar sambil terbaring di atas ranjang.

 

Entong pun bergegas menengok bapaknya yang sedang duduk termangun tanpa bergerak. Ayahnya suka sekali duduk di depan rumah persis untuk menyegarkan diri dengan udara segar. Bersama fajar yang mulai naik. Terasa nyaman memang dengan kondisi pagi yang damai tanpa bising riuh kendaraan. Seperti kehidupan kota.

 

Rumah Entong persis sekali dibawak kaki gunung papandayan. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan alasnya adalah kayu saja. Sulit menemukan jalan beraspal. Hanya gundukan tanah yang berfariatif batu. Dikelilingi petak sawah yang berujung dengan hutan. Sunyi keadaan disana. Karena hanya beberapa keluarga saja yang tinggal disana. Sunyi saja yang didapat ketika malam tiba. Hanya suara jangkrik dan katak saja yang sibuk berderu. Tenang sunyi dari aktifitas.

 

“Bapak sudah makan belum…?” sambil membawakan segelas penuh air teh hangat.

“belum tong, nanti saja, bapak juga belum lapar” sambil tersenyum menoleh ke sumber suara si Entong.

 

Seketika Entong beranjak menuju kembali menghampiri ibunya. Mempersiapkan ibunya untuk dimandikan. Ibunya memang sudah sulit sekali beranjak dari tempat tidur. Duduk pun apalagi. Karena memang sudah cukup berumur. Entong pun mulai mengusap badan ibunya dengan kain untuk memandikannya. Menggantikan baju ibunya. Lalu memopohnya keruang tengah agar tidak jenuh. Setelah itu Entong mempersiapkan makan untuk mereka dengan seadanya. Memasak nasi dan menu tambahan yaitu ikan yang dibakar hasil pancingan Entong. Itu saja. Karena masa panen yang masih lama dan tidak terprediksi.

 

“pak makan dulu. Entong sudah siapkan” menuntun bapaknya menuju hidangan sederhana yang masih hangat.

 

Tak banyak yang dikomunikasikan ketika mereka berkumpul. Entong sibuk menyuapi ibunya. Dan terkadang menyisihkan duri ikan agar mudah dimakan bapaknya. Si Entong tidak makan banyak. Karena ketika Entong pergi bertani sampai sore hari. Bapak ibunya pun tidak banyak berbuat. Pula dengan makan. Hanya menunggu saja yang kerap mereka lakukan.

 

Entong sudah bersiap untuk ke sawah ketika dirumah sudah siap untuk ditinggal pergi. Beranjak bergegas dengan penuh semangat. Tampak letih Tak terlihat dari bahasa tubuh. Badan yang besar hanya melihatkan bahwa Entong itu selalu kuat. Selalu dapat bertahan.

 

Sebenarnya ketika sampai disawah, ia hanya menjaga, lalu memerikasa pengairan dan sesekali memberi asupan untuk padi agar tumbuh segar. Entong bisa beristirahat di saung ditengah petak sawah yang cukup luas. Jarang ia memberi asupan makanan untuk tubuh. Karena ia pun bingung pa yang mau dimakan. Atau apa yang mau dibawa untuk bekal. Dirumah saja hanya untuk dimakan dirumah. Tidak ada yang berlebih. Tapi ketika ia memang terasa lapar. Ia akan mencari buahan disekitar hutan yang dapat dimakan. Tapi terlalu sering ia mencari makanan lagi untuk dibawa kerumah, agar bapak ibunya serta ia dapat makan pada malah hari.

 

Entong suka bermain suling atau hanya tiduran saja ketika berdiam di saung. Terkadang Entong juga membuat mainan atau kerajinan tangan dari tangkai pohon. Ia suka bermain sendiri. Kalaupun ada petani yang lain, mungkin hanya sekedar berbincang dan bersantai hingga terlelap. Memang sangat membosankan perasaan Entong yang telah menggeluti waktu sepanjang hidupnya di sawah.

 

Petakan sawah yang dijaganya bukanlah milik keluarganya ataupun Entong sendiri. Melainkan dia hanya diperdayakan oleh saudagar di daerah tersebut. Sang saudagar melihat Entong yang masih muda dan sehat. Juga membutuhkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.diperbantukan lah Entong oleh saudagar itu. Tak hanya Entong, masyarakat setempat pun hampir semua nasibnya ditangan si saudagar. Datang seperti larva yang selalu menggerogoti apa saja yang ada agar mendapat asupan, dan ketika datang ke piring penuh kilau emas bermetamorfosa masyarakat desa lah menjadi semut yang tak kenal lelah terus berjuang. Tak sempat pikirkan soal pendidikan mereka karena tak sanggup. Tak kuat untuk mereka.  (Bersambung ….)

  • view 114