TANI part 2

Ari Firmansyah
Karya Ari Firmansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Desember 2016
TANI part 2

Entong hanya pernah mengeyam pendidikan sekolah dasar hingga kelas tiga saja. Ekonomi. Klasik memang persoalannya. Apalagi melihat kondisi masyarakat di desa Entong dan khususnya keluarganya sendiri. Cukup butuh kesabaran yang ditanamkan dalam dirinya. Walau terkadang pelajaran hidup terus dicarinya. Pelajaran bagaimana bertani, berjualan, mencari pengasilan lain, dan yang terpenting pelajaran bagaimana ia bisa membuat keluarganya bertahan hidup.

“Pak Entong ingin mencari pekerjaan tambahan biar kita bisa memperbaiki hidup..!” berbahasa halus sambil menyuapi ibunya untuk makan dimalam harinya.

“Pekerjaan apa yang ingin kamu lakukan tong…?” menyeringat sang bapak ketika Entong tiba-tiba berkata.

Entong telah lama berfikir tentang merantau atau mencari pekerjaan lain. Ia sadar bahwa bergantung pada hasil panen saja tidak merubah segalanya secara cepat. Pula membaik bagi keluarganya. Walaupun ia sadar yang akhirnya menjadi buruh serabutan kasar menjadi pilihan utama. Lebih keras dan berat. Cukup menguras tenaga berbanding dengan tani. Pekerjaan tani memang tak bisa dipandang sebelah mata. Tetapi dengan keadaan Entong, itu cukup menyita harapan. Harapan menjadi lebih baik dari kodisinya sekarang. Walau lama dan perlahan. Walau cukup mustahil menjadi seorang seperti saudagar. Tak menutup kemungkinan. Tapi tak juga menjadi ketinggian angannya Entong.

“Bapak tahu keadaan kita seperti ini” lanjut percakapan yang sempat hening

“Bapak pun meminta maaf kalau kau merasa letih dari semua letih yang kau rasakan. Bapak pun ingin kau menjadi besar, tapi bapak bingung dengan caranya…!”

“harus bingung dengan apa pak…?” Entong yang terus fokus.

Sebenarnya tantangan dari keputusan Entong adalah keluarga. Orang tuanya. Mereka yang sudah terlalu bergantung dengan Entong. karena tak sanggup lagi melakukan hal lain seperti Entong. karena kondisi fisik yang lebih berpengaruh. Fisik yang terus menua dan membuat lemas setiap waktunya. Dan kondisi fisik yang kurang lengkap seperti kebanyakan orang.

“Kamu tahu kondisi bapak dan ibu sudah tua dan tak sanggup lagi bergerak aktif, dan keluarga kita ya hanya kita saja tong” rawut wajah yang menunjukan kesedihan dan sebenarnya ingin menangis kalaupun bisa.

“Ibu sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menunggu kamu saja tong.”

“Ibu sudah sulit beranjak kemana-mana. Hanya kamu yang bisa mengerakan ibu.” Sang ibu yang tak sanggup berdiam bisu menyimak percakapan mereka.

Si ibu sudah memikirkan kondisi ini sebenarnya dijauh waktu. Ia pun sempat memikirkan kapan akhir nafasnya. Apakah menunggu sang suami atau bahkan yang pertama dari kedua lelaki yang ada dihadapannya sekarang ini.

“Ibu tahu telah membesarkanmu dalam kesakitan. Dalam kesulitan. Maafkan ayah dan ibumu ini. tapi tolonglah untuk tetap bersama kami hingga kami terus tertidur untuk selamanya” bendungan air yang dibangun ibunya runtuh karena perasaan. Runtuh sekejap mata. Hancur tak terkendali. Membanjiri bulu matanya hingga merayap cepat menuruni pipi.

Hening sangat percakapan mereka setelah ibunya menangis. Sang bapak tak sanggup melanjutkan. Entong pun hanya menahan kesedihan agar tak berlanjut. Sambil mengusap air mata sang ibu lalu menggendongnya menuju kamar walau makanan yang mereka santap pun belum habis. Kembali lagi Entong untuk menuntun cepat bapaknya menyusul ibunya didalam kamar.

Merapihkan hasil makan malam mereka dilanjutkan dengan langsung mencucinya. Disambil berfikir keras bagaimana untuk mencari jalan mambawa perubahan dalam hidup keluarganya. Hingga ia terbaring lemas diruang tengah. Belum tertutup matanya. Belum terasa kantuk walau sudah berat matanya. Kegelisahan menimpa pemuda ini dengan hantaman. Kuat sekali menghantam. Membuat dunianya serasa terguncang seakan tsunami menghantam. Kapan akan selesai cobaan ini menimpanya. Menguntit hidup keluarga kecil ini.

“Apa yang aku lakukan. Haruskah aku pergi tak berpamit kepada mereka..?” merenung Entong sambil terlentang, menatap langit-langit rumah. Tak terasa ia sudah masuk dunia angan yang memberi cerita bahagia dan haru. Ia sudah sukses karena telah beranjak menjauh dari gubuk yang ia tinggali. Dapat kesuksesan yang tak pernah terangan sebelumnya. Memberi kecukupan dirinya. Memiliki istri nan baik, satu anak yang cantik telah hadir dalam keluarga itu. dengan hidup sederhana, namun tak ada gangguan kesengsaraan. Hingga drama itu langsung membawanya kehadapan orang tua Entong. Entong melihat orang tuanya tersenyum. Senyum yang sangat bahagia. Bahagia sekali. Namun gambaran itu sangat mengejutkan Entong. mereka tersenyum bahagia bukan karena Entong, melainkan kedua orang tua itu hidup bahagia tanpa kehadiran Entong. Hidup normal tanpa lahirnya Entong dikeluarga itu. tetap sederhana, tetapi tak melarat seperti sekarang. Mereka berdua mesra. Dalam dunia mimpi itu Entong terheran, kenapa gambaran yang dilihatnya itu sangat timplang dengan kenyataannya. Sempat tersirat bahwa kehadiran Entong dalam keluarga itu membawa kesengsaraan. “Apa kehadiranku dalam keluarga ini menjadi permasalahannya. Apa karena kelahiranku mereka susah”.

Terbangunlah Entong seakan mendapat mimpi buruk. Mimpi yang membuatnya merasa bersalah. Membuatnya makin gelisah. Hujan dibalik mata itu mulai deras. Terus turun tak terbendung. Entong sangat sedih memikirkan mimpi itu. hal yang tak pernah terpikir. Tak pernah tertanam dalam benaknya kalau ia lah yang menjadi akibat semua ini. terus terisak dengan sunyi. Takut kalau bapak dan ibunya menyadari bahwa ia terus memikirkan untuk merantau. Mengetahui bahwa Entong sedang menangis.

Terburu-buru Entok bernjak dari tidurnya menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Waktu subuh telah tiba. Segera ia basahi tubuhnya dengan wudhu itu. dengan air yang cukup dingin karena suasana pagi. Memanjatkan doa. Meminta pertolongan dalam doa itu. meminta jawaban atas kegelisahannya selama ini. memohon ampun atas pikirannya ini. pikiran yang telah membuata sedih bapak ibunya. Memohon untuk orang tuanya agar selalu sehat dan dapat hidup tentram. Kacau sangat pikirannya saat ini.

Kembali aktifitasnya pada pagi hari. Mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan makan. Memandikan ibunya. Bertani lagi. Melamun juga. Bertani lagi. Merenung lagi. Mempersiapkan makan. Membersihkan rumah itu. terus berfikir lagi. Kembali sunyi. Kembali bermimpi. Mimpi yang kacau, walaupun tak sama. Sangat abstrak. Bangun lagi. Beranjak lagi. Mempersiapkan makan. Membantu bapak ibunya. Bertani. Melamun.

Sudah seminggu pikiran itu terus terlintas. Seperti permanen. Tak mau lepas. Tak juga mau hilang walau sementara. Bagaimana caranya. Cara untuk tidak memikirkan hidup dia yang dalam hayal itu. menghayal kalau ia ingin pergi untuk berusaha merubah hidup. Merubah hidupnya. Merubah kebahagian keluargnya kepada lebih baik lagi.  [Bersambung..]

  • view 159