Lelaki Pemalu

Ari Firmansyah
Karya Ari Firmansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 November 2016
Lelaki Pemalu

Tidak ada yang peraturannya kau harus menyukai siapa dank au harus disukai oleh siapa saja. Tapi kenapa sulit persoalan ini terasa rumit ya. Otak dan perasaan si abang selalu digerogoti hal macam itu. Ketidak pastian yang ada terus-terusan. Resah yang mengikutinya. Dan juga kikuk yang bermain bersamanya. Bukan hal tabu persoalan ini. tapi juga bukan yang harus disembunyikan setiap waktu.

Tak begitu tampan memang. Juga tidak menampilkan buruk dari penampilannya. Sederhana lebih tepatnya kalau melihat si Abang. Taip bepergian dia selalu sekenanya. Tak terlalu berfikir dengan kondisi. Tak menghiraukan pula ocehan dari temannya. Apapun yang dia lakukan harus tidak ada yang merugi. Itu menjadi pacuan agar si Abang percaya diri untuk bergerak. Sama halnya dalam soal cinta.

Si abang selalu merasa tertarik dengan perempuan cantik. Itu menjadi lumrah kalau mempunyai perasaan normal. Si abang pun sadar kebiasan itu. Tapi dia selalu malu. Tak sanggup memberikan gerakan isyarat. Pula dengan perasaan yang dia pendam ketika menyukai teman sendiri. Si abang tertarik dengan Lala yang sudah menjadi temannya sejak empat tahun silam. Sejak dia mengenalnya di kampus. Lala adalah mahasiswi Fakultas Ekonomi. Hanya terpaut satu tahun dengan si Abang yang sudah terdaftar lebih dulu di Kampus itu. Si abang adalah mahasiswa yang memiliki dua jurusan. Yaitu Nongkrong dan jurusan retorika. Fakultas formalnya terasa tidak berpengaruh hingga kini.

Tak jelas memang si abang tertarik dengan lala karena apa. Tapi kebiasaan si abang adalah memikat perempuan yang sudah kenal dekat saja. Bukan orang baru. Sebenarnya si abang pernah mendapat bocoran persoal lala sempat menyukainya. Tapi itu dianggap sekedar isu buat si abang. Karena statement yang didapat dari dari temannya.

“bang…bang. Kamu ko ga pacaran saja sama lala” sahut cungkring dalam obrolan santai.

“memangnya kenapa..?” terheran mendengar ucapan cungkring.

“kemarin pas lala ikut ngumpul di kostan, dia sempat diserang sama anak-anak soal perasaan”

“makasudnya gimana sih” sok menanggap dingin untuk mendapat hal lebih detail.

“ya soal siapa pria yang dia suka.

“terus…?”

“pas disebut nama mu. Dia langsung salah tingkah. Dan, sempat menganggukan kepala”

“yang bener. Ko tiba-tiba membahas itu?”

“ya hanya iseng saja karena obrolan kita sudah basi waktu itu”

“ah biarlah” malas menanggapi bercampur senang karena mendapat info itu.

Si abang sebenarnya tidak pernah menceritakan kesukaannya kepada siapa pun. Termasuk cungkring. Teman kampusnya yang sering nongkrong bareng.

Sebenarnya si abang sudah sendiri sejak tahun kedua ia menjadi anak kampus. Karena terlalu asik dengan aktifitas kampusnya. Pula dengan kesukaannya memendam suka.

Si abang sempat melakukan strategi pendekatan kepada lala. Berkomunikasi langsung yang intens. Juga dengan godaan yang konsisten tentang pacaran. Tidak dengan pesan singkat atau sekedar chatting. Beralasan pertemuan lala dan si abang sangat sering terjadi dalam kampus. Jadi untuk apa sekedar menanyakan lagi apa atau basa basi untuk ngajak makan lewat pesan singkat. Toh bisa langsung ditemui. 

Strategi itu hanya dapat bertahan sebulan saja. Mungkin pagar betis lala terlalu rapat. Pula dengan kemalasan si abang yang harus melakukan serangan tiap waktu. sulit mendobrak pagar betis agar bisa dia rubah menjadi pagar ayu. Dan komunikasi yang biasa pun tetap lanjut dengan rasa hambar.

 “ah bodoh sekali ternyata menjadi seorang pemalu”. “malas benar aku untuk berucap saja” suara pikiran si abang yang terlena kemalasan.

Episode demi episode terus berjalan tanpa ada alur cerita yang jelas. Yang tidak punya maksud. Tidak ada tujuan.tak memiliki estetika. Tanpa hiasan rasa percintaan. Tapi tetap ada rasa suka dalam kemaluan. Malu untuk berterus terang. Malu akan penjelasan. Malu akan menentukan hubungan. Dan seperti kebiasaan si abang.

  • view 179