Membaca Mengajariku Ada

Tajdidah Fikry
Karya Tajdidah Fikry Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 November 2016
Membaca Mengajariku Ada

Permulaan kubisa menyelesaikan buku dengan ratusan halaman adalah novel. Membaca karya sastra yang satu ini selalu bisa terbawa alur cerita yang digiring rasa penasaran. Sangat jarang untuk tidak menyelesaikan sebuah novel. Jika ia pun, karena ada beberapa faktor.

Salah satu penyebab biasanya karena alur cerita yang membosankan atau ending yang terlalu mudah ditebak.

Dari novel lah aku mulai membuka wawasan, membuka jendela ilmu. Pun dari novel lah aku mencoba memasuki dunia menulis. Jika tulisan adalah sayap, maka buku adalah udara yang membuat sayap tetap mengepak.

Karena hobi itu pula yang membuatku pernah memasuki jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di UPI Bandung. Walau hanya kujalani empat semester, namun sungguh sangat membekas.

Kala itu jika ada teman bertanya mengapa aku sangat gemar membaca novel jawabanku karena ini salah satu ikhtiarku untuk mencari ilmu. Ilmu tentu tak hanya kita dapatkan di ruang terbatas bernama kelas. Cakupannya sangat luas, dan salah satunya dari sini.

Lalu pertanyaan lainnya, kenapa aku memilih novel ketimbang buku non-fiksi. Jawabku karena aku baru saja mulai membaca, maka aku baru bisa melakukannya dari novel; sesuatu yang aku gemari. Lalu beberapa waktu setelah itu, barulah aku mulai merambah buku yang lebih serius.

Dari mana kudapatkan buku?. Aku menyisihkan uang bulanan untuk membeli buku. Budgetnya bisa Rp.200.000 per bulan kala itu. Tapi tak jarang aku menyempatkan waktu untuk meminjam buku di perpustakaan daerah. Kalkulasi kasarku mungkin butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk menyelesaikan membaca buku disana. Tentu yang menarik minatku saja.

Jadi tidak ada alasan untuk kita yang tinggal di kota untuk tidak membaca buku dengan alasan tidak bisa membeli buku.

Lantas bagaimana dengan meminjam buku pada teman?. Jujur saja, aku termasuk tipe 'keras' dalam menjaga buku. Jika ada yang meminjam buku, aku selalu mewanti-wanti agar tidak melipat halamannya sebagai pembatas. Aku juga mengingatkan agar buku kembali dalam kondisi tetap rapih. Alasannya sederhana, buku harus bisa diwariskan. Jadi tentu perlu dijaga sejak kini.

Jika aku yang harus meminjam buku, tentu aku akan sangat menjaganya. Aku tidak akan berani membaca buku sambil ngemil, karena remah sisa makanan pasti sulit dihindari. Dan tentu saja aku selalu menggunakan pembatas buku, tidak melipat satu pun halamannya.

Soal minat membaca memang tidak bisa dipaksakan, sungguh. Tapi tentu harus ada upaya dari dalam diri untuk memulainya. Ingat, seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil. Ya, satu langkah kecil saja. Di tengah fase cyber sastra, kita bisa memulainya dengan membaca tulisan dalam media daring. Sungguh mudah kini untuk menemukan puisi, cerpen, dan bahkan novel untuk dibaca. Hanya kita yang perlu memantiknya dengan satu langkah kecil.

Aku pun terkadang mengalami fase tidak produktif membaca. Yang tentu saja berakhir dengan tidak produktif menulis. Untukku cara mengatasinya cukup sederhana, buka media sosial. Banyak temanku yang mengupdate status atau caption dengan kata-kata puitis. Itu sudah cukup memantik hasratku untuk membaca dan menulis lagi.

Kututup dengan salah satu puisi Chairi Anwar; Doa

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

 

Biar susah sungguh

mengingat Kau penuh seluruh

 

cayaMu pa papas suci

tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

 

Tuhanku

 

aku hilang bentuk

remuk

 

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

 

Tuhanku

dipintuMu aku mengetuk

aku tidak bisa berpaling

 

Dan ucapan salah seorang sahabat nabi Ali bin Abi Thalib

"Setiap penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti."

 

Selamat berkarya 

  • view 282