Berapa Jumlah Guru yang Tersisa

Silivester Kiik
Karya Silivester Kiik Kategori Renungan
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Berapa Jumlah Guru yang Tersisa

"Peran kaum guru dalam perubahan, seperti keberadaan nabi-nabi tanpa senjata" (Niccolo Machiavelli, filosof Italia: 1456-1527).

Guru sebagai sosok panutan yang perlu dihargai profesional dan jasanya. Gurulah yang membuka jendela membaca dunia bagi setiap orang. Guru sebagai seorang pahlawan karena dengan ketulusannya dalam mengajar, membimbing, melatih seseorang dengan penuh kasih sayang untuk menjadi teladan menuju sebuah kemerdekaan.

Guru begitu mulia dan berharga jasanya. Pahlawan bukanlah hanya seseorang yang rela berkorban darah demi sebuah tujuan, dan merdeka bukanlah hanya sebuah pengakuan yang tertulis dan terlihat. Suatu kemerdekaan dari kebodohan serta kemiskinan dengan ilmu yang telah diajarkan olehnya.

Guru dengan penuh kesabaran dan lemah lembut demi mencerdaskan anak-anak kita (bangsa Indonesia). Apakah pernah terpikirkan seorang guru untuk menjadi pahlawan? Sungguh tidak, namun gelar itu telah tersemat dengan gagah di pundaknya karena apa yang telah dilaksanakannya dengan mulia.

Melihat seorang guru bagaikan melihat sebuah masa depan cerah yang telah terpampang dan menjanjikan untuk dunia ini. Ingatkah kita ketika Negara Jepang pernah terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh serangan bom Amerika? Jepang saat itu lumpuh total, korban meninggal mencapai jutaan, bangunan gedung mewah hangus bagaikan padang pasir putih yang mengkilau di pinggir pantai tanpa halangan apapun, efek radiasi bom yang diperkirakan membutuhkan 50 tahun lamanya untuk menghilangkan semuanya.

Jepang saat itu terpaksa menyerah kepada sekutu, dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jenderalnya yang masih hidup dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?“. Para jenderalnya pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru. Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang, akan tetapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan”.

Cerita diatas mengajarkan dan dijadikan sebagai renungan kita bersama terutama para guru, apakah guru-guru yang dimiliki bangsa ini merupakan guru-guru yang pantas dibanggakan sebagaimana guru-guru Jepang yang dibanggakan Kaisar Hirohito pada tahun 1945 silam? Oleh karena itu, guru perlu dihargai karya pengabdiannya. Penghargaan pengabdian kepada guru perlu ditingkatkan pada semua wilayah Kesatuan Republik Indonesia.

Guru sebagai pencetus generasi muda yang cemerlang untuk mempertahankan Kedaulatan Negara. Sungguh luar biasa membicarakan sosok seorang guru di mata dunia, di mata orang-orang sukses, di mata orang-orang pandai, karena mereka pasti sepakat bahwa tak ada pahlawan yang lebih berjasa bagi mereka selain guru.

Guru dengan karya pengabdiannya akan mencetak generasi yang baik dan senantiasa memberikan kontribusi yang luar biasa bagi dirinya, keluarganya, bangsanya, serta negaranya. Kondisi Bangsa Indonesia yang semakin hari semakin kehilangan jati diri dan martabatnya sebagai bangsa yang maju, yang semakin hari semakin dijajah secara tidak langsung oleh negara lain, maka tersirat sebuah kewajiban dan perintah untuk segera membenahi segala hal, terutama membenahi generasi penerus bangsa ini untuk meraih kemerdekaan yang sebenarnya.

Gencarnya masyarakat saat ini semakin memberhalakan harta dan jabatan, hidup dengan kepentingan-kepentingan individual tanpa peduli sesama. Kekerasan berlabel sara sudah tak terhitung jumlahnya. Lalu apa solusinya? Menurut para filosof, "pendidikanlah" senjata paling ampuh untuk menepis serangan radikalisme, hedonisme, dan eksklusivisme semacam itu.

Pendidikan sebagai sarana humanisasi diharapkan mampu melahirkan wakil-wakil Tuhan untuk mengatur alam semesta dan peradabannya. Tentu peradaban yang selalu memihak pada kebenaran, keadilan, kesenjangan, kebodohan, dan keserakahan (korupsi), serta menghapus hukum rimba, seperti yang dikatakan Thomas Hobbes (1588-1679), manusia adalah pemangsa manusia lainnya, "homo homini lupus". Kemudian diganti dengan "homo homini socius", manusia adalah adalah sahabat bagi sesama.

Pendidikan yang dilakukan dengan kasih sayang akan melahirkan pengasih-pengasih selanjutnya, generasi yang peka dengan keadaan sosial, demokratis, inklusif, toleran, penuh persaudaraan dan perdamaian. Bukan generasi angkuh, egois, dan radikal (Sugianto, 2017).

Guru adalah kaum intelektual yang membantu murid-muridnya untuk mencapai tujuan pendidikan dan kebenaran sejati. Namun perlu diingat, guru juga manusia biasa, bukan malaikat. Seperti nabi yang hanya sebagai penyampai pesan dan pemberi peringatan bagi kaumnya.

Ingatlah satu hal bahwa generasi penerus yang baik tersebut takkan pernah lahir dan takkan pernah siap untuk dipanen tanpa campur tangan seorang guru. Hiduplah Guruku, Hiduplah Pahlawanku, karena tugasmu sangat mulia.

Maju terus pahlawan tanpa tanda jasaku, kami menghormatimu, menghargaimu, dan sangat berterimakasih kepadamu. Mungkin peduliku (bangsa) belum bisa sepenuhnya untukmu, tapi kami bangga akan jasa-jasa dan perjuanganmu.

  • view 116