Centaurus

Silivester Kiik
Karya Silivester Kiik Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Agustus 2017
Centaurus

Terkadang suasana membosankan bagiku. Suasana yang membuat diri ini kaku bagaikan batu tua yang terpojok di persimpangan jalan. Kegelisahan selalu mengusik benak ini. Gelisah akan sosok dirimu yang saat ini terhalang oleh gelapnya hiruk pikuk keramaian kota.

Di suatu senja, aku berdiam diri menunggu akan kehadiranmu. Walau sebentar saja, biar hari-hariku penuh cerita. Tahukah kamu bahwa pada siapakah aku harus mengadu. Bukankah kamu?

Senja mulai membenamkan auranya yang penuh pesona, dengan penuh harap akan cepat kembali lagi untuk mengulanginya. Biar dipuji, dibanggakan, dijadikan wallpaper agar teringat bahwa senja itu indah. Itu indah bagi mereka yang sedang menikmatinya, namun tidak indah bagiku saat ini.

Sang waktu terus memaksa agar segera menyudahi pesona senja itu. Aku hanya menatapnya dengan penuh harap, siapakah yang akan datang dibalik berlalunya senja itu. Aku berharap dirimu, bukan pesona senja itu. Senja terlalu berani mengingatkanku untuk merindukanmu, tapi aku tidak bernyali untuk mengatakan aku rindu. Karena aku hanya bisa mengatakannya pada Centaurus.

Secara perlahan sang kegelapan memunculkan auranya yang serba menakutkan. Aku hanya berharap dalam diam, agar tidak terjebak dalam kegelapan itu. Pintaku “Dalam kegelapan ini, aku hanya berharap padamu Centaurus. Datanglah, jadilah penerang bagi kegelapan ini. Karena hanya kamulah aku berharap. Tidak untuk siapa, tapi kamu. Ya… hanya kamu”.

Cepatlah bersinar, agar hidup ini penuh cerita. Cerita tentang kita. Karena kita yang memulai, kita yang menjalani, dan kita yang mengakhiri. Cerita yang selalu kau doakan dalam mimpi, cerita yang selalu kau impikan dalam kenyataan, dan cerita yang memotivasimu untuk memulai.

Cerita indah tiada hentinya kau ungkapkan, cerita yang selalu membuatku merindukanmu. Saat ini aku hanya berharap pada Centaurus untuk menemaniku dalam kesunyian ini. Aku juga berharap saat inipun sang Centaurus sedang menerangi kesendirianmu. Menemani untuk terus memulai, menemani untuk terus bermimpi, menemani untuk terus bercerita.

Bisikku lewat angin malam, “dikesunyiaan ini, sampaikan padanya bahwa aku selalu ada dalam cerita mimpinya. Jaga hatinya dan simpanlah cerita cintanya padaku”. Jika saat ini ia merasa, maka ia sedang merindukanku. Tapi pintaku “jangan rindu, biarkan aku saja jika kau tak sanggup”. 

Aku berharap dalam kata doaku. “Di suatu senja, ketika sang Centaurus mulai memunculkan auranya kau akan merindukanku sebagai sesuatu yang tak kau temui dalam setiap langkah kakimu”. Ketahuilah bahwa yang bersamamu saat ini adalah dia yang takut akan kehilangan dirimu.

Jika kamulah akhir dari pencarian ini, maka aku akan berlabuh di hatimu saat ini juga. Tidak untuk sebentar saja, namun untuk sekarang, esok, dan sampai memutih rambut ini. Tetaplah ada bersamaku untuk mengurai kata indahmu. Kata yang membuatmu kuat, sabar, dan tekun, kata yang membuatmu untuk bercerita mimpi itu. Bermimpilah untuk kita, karena kelak kita adalah kita untuk selamanya. Amin.

 

  • view 50