Sastra Wangi, Propaganda Perempuan Anti Patriarkhi

Syifa Yaumatur Rahmah
Karya Syifa Yaumatur Rahmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Sastra Wangi, Propaganda Perempuan Anti Patriarkhi

Kini karya sastra menjamur, baik genre puisi, prosa dan drama. Toko buku mulai didominasi oleh buku-buku sastra 2000 terutama genre prosa dari penulis lama atau penulis baru yang sedang merintis karir. Sasarannya remaja puber bahkan orang tua yang menyukai karya sastra. Maka dari itu karya sastra teenlit lebih banyak, tetapi tak jarang karya dewasa pun beredar disana.

??????????? Karya sastra yang sedang banyak dibicarakan adalah karya sastra feminis dengan kata lain karya sastra itu menceritakan wanita atau pengarangnya adalah wanita. Karya sastra feminis dianggap mampu menguak perihal wanita yang tidak bisa diungkapkan secara gamblang oleh pria, feminisme mengangkat tema tentang pemberontakan kaum wanita yang belum bisa dijamah oleh penulis lain. Tak menutup kemungkinan juga para pengarang feminisme ini mengangkat tentang realita pria atau hal lain. Karya sastra feminis adalah bentuk pernyataan secara tegas dan lugas bahwa perempuan memiliki sisi lain yang bisa dibanggakan selain menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.

Menurut Weedon (1987) paham feminis adalah politik, sebuah politik langsung yang mengubah hubungan kekuatan kehidupan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat.(Sugihastuti dan Suharto,2002: 6). Kenapa karya sastra feminis banyak dibicarakan? Sebenarnya, wanita yang dijadikan objek karangan dari dulu sudah tercipta, banyak cerita yang menggunakan wanita sebagai tokoh utama. Pun dengan saat ini, dalam serial teenlit tokoh wanita selalu menjadi bintang dan akhirnya bertemu pangeran berkuda impiannya. Memang sangat sederhana dan datar cerita pada teenlitkekinian persis seperti FTV atau sinetron yang tayang setiap hari di layar kaca kesayangan. Jadi apa yang menjadikan feminis begitu heboh dibicarakan ? Tidak lain karena munculnya karya sastra wangi. Sastra wangi adalah sastrawan perempuan yang menciptakan karya secara terbuka, bebas,dan ciri khasnya penuh ekspresi pengarang dalam hal-hal yang dianggap tabu di masyarakat, semisal mengangkat tentang seksualitas. Sastra wangi adalah perempuan-perempuan urban yang muncul di tengah dominasi kaum pria, keberanian mereka mengungkap hal tabu itulah yang banyak menuai pro dan kontra.

Para sastra wangi ini hadir begitu memukau dengan menceritakan sebuah realita yang nyata pada diri laki-laki dan perempuan ke atas meja karya sastra. Realitas masyarakat kekinian yang memang sudah menjadi rahasia umum lagi jika membicarakan seks atau lebih mengeksploitasi tubuh. Perempuan dan laki-laki sama derajatnya dalam karya sastra wangi. Dimana kelamin mereka hakikatnya sama dan berhak ?ditelanjangi?. Namun, sepertinya masyarakat kekinian sudah tidak memikirkan hal itu tabu untuk dibicarakan karena masyarakat membutuhkan karya tersebut sebagi bentuk hiburan. Hal tabu telah dikalahkan oleh logika dan kebutuhan seksual mereka tentang kepuasaan batiniah masing-masing.

Tema sastra wangi yang berbau seks dan dinyatakan vulgar tidak berarti bacaan ini hanya sebatas menghibur pembaca saja, justru dengan tema tersebut lebih mendekatkan bacaan dengan hati pembacanya, ini membuat norma baru (misalnya perlakuan pria terhadap wanita, kemampuan wanita, dan sebagainya) yang dibentuk lebih mudah masuk pada pembaca, masayarakat bisa tahu bahwa ada sisi lain dari kehidupan ranjang yang ditulis sebagai ?perlawanan? ?kaum feminis. Contoh dalam cerpen karya Djenar Maesa Ayu yang berjudul ? Menyusui Ayah?, Djenar begitu lugas, jelas, dan terbuka membicarakan alat kelamin pria atau kegiatan seks yang dilakukan tokoh.?Padahal saya sudah rindu. Tapi ayah malah menyangkal ! Katanya ia tidak pernah menyusui saya dengan penisnya.? (Menyusu Ayah, Djenar Maesa Ayu). Para pembela feminis beranggapan bahwa persoalan seksualitas perempuan sebenarnya hanya metafora untuk menggambarkan masalah sebenarnya pada perempuan yaitu, ketertindasan yang masih terjadi, baik secara fisik maupun mental, eksploitasi tubuh perempuan pada film-film porno, majalah, maupun media iklan membuat wanita secara pasrah dan sukarela mempertontonkan tubuhnya padahal itu adalah harga diri yang harus mereka kunci agar tidak dinikmati oleh khalayak umum. Sastra wangi inilah yang menunjukan bahwa bukan hanya tubuh atau diri perempuan sajalah yang bisa dinikmati oleh khalayak umum, tapi tubuh laki-lakipun bisa menjadi bahan konsumsi publik.

?Hakikat karya sastra feminis ingin menunjukan bahwa perempuan sama derajatnya dengan laki-laki. Tidak bisa kita mengatakan kemunculan karya-karya sastra wangi itu kesalahan besar dalam dunia sastra atau menyimpang dari norma-norma yang ada karena memang seharusnya kita tidak melihat karya tersebut dari satu sudut pandang. Karya para sastra wangi itu mampu menggambarkan kehidupan wanita yang ditekan oleh budaya phatriarki. Dalam hal apapun perempuan harus tunduk dan patuh terhadap laki-laki termasuk seks, tetapi budaya patriarkhi tersebut akhirnya ditekan hingga perempuan dan laki-laki sama dalam urusan seks. Inilah yang menjadi kelebihan dari karya sastra wangi, perempuan mampu mengeksplor segala permasalahannya.?

Sastra wangi sebuah karya sastra yang lahir dari kaum feminisme ini pada akhirnya akan terus memperjuangkan hak-hak perempuan dengan cara apapun. Perempuan mencoba bangkit dari ranah yang dianggap selama ini maskulin. Para penulis sastra wangi mencoba mendobrak pathriarki yang dinilai selama ini sumber penderitaan bagi perempuan, dan mencoba melepaskan diri dari pemarginalan hidup bahwa perempuan hanya berhak di kotak-kotak tertentu. Dengan munculnya penyiksaan terhadap perempuan, eksploitasi tubuh, pelecehan dan diskriminasi diberbagai bidang karya sastra wangilah yang mencoba menjadi pendobrak bahwa perempuan punya kesetaraan intelektual dengan laki-laki. Perempuan mampu bangkit setidaknya dari segi penggambaran pada karya sasta, karena karya sastralah yang mampu mempengaruhi atau menyampaikan secara cepat dan efektif persoalan-persoalan yang terjadi.

Perempuan, Bangkit melawan penindasan !!!

  • view 312