Zaman Posesif Masyarakat Religi: Kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari

Syifa Yaumatur Rahmah
Karya Syifa Yaumatur Rahmah Kategori Buku
dipublikasikan 24 Februari 2016
Zaman Posesif Masyarakat Religi:  Kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari

Judul Buku : Malaikat Tak Datang Malam Hari

Penulis : Joni Ariadinata

Tahun Terbit: 2004

Penerbit: Mizan

Halaman: 218

ISBN; 9797520293

?

??????????? Dunia kepenulisan kedatangan tamu, penulis-penulis baru lahir. Banyak penerbit merekrut tulisan mereka sesuai dengan prinsip penerbitannya. Mizan salah satu penerbitan yang akhir-akhir ini intens mengeluarkan buku-buku dari penulis-penulis baru tentunya bertemakan religi, sebab itu tema religi menjadi salah satu tema ?mainstream? di kalangan penulis. Tapi kumpulan cerpen (kumcer) Joni Ariadinata diantaranya malaikat tak datang malam hari, dongeng penunggu surau, pencuri malaikat, tentang lelaki bergamis yang mencintai Tuhan, kita mengadu kepada mayat, jalan lurus menuju mati, Tuhan bolehkah kami bunuh diri, dan kanjeng sunan ikut bersama kami, berbeda. Kumcer ini mengangkat tema religi yang terjadi di masyarakat namun tidak biasa. Fenomena sesat, fanatisme, apatis,bahkan atheis yang diangkat pada cerpen.

??????????? Sisi religiusitas masyarakat kekinian memang tengah terombang-ambing oleh posesifnya keadaan zaman. Kesibukan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadikan mereka sedikit mengganakatirikan agama. Hal ini pula yang diangkat Joni dalam cerpennya. Misalnya dalam cerpen dongeng penunggu surau,

?Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Seperti biasa. Laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak. Jangankan surau, bahkan sekolah selalu kosong? Muazin Ali

??????????? Katanya. Jadi sunyi. Imam Mathori terpaksa tertawa lantas murung. Ada gurat tak jelas ketika ia meludahkan batuk keras keluar jendela,?Bahkan tak ada waktu untuk Tuhan. Begitu katanya ?? tiba-tiba. Muazin Ali mengangguk, tersentak

?Tak ada ilmu agama, Kiai? Tentu tak perlu ilmu. Tak butuh agama. Mereka telah membunuh Tuhan. Dengan bengis. Karena yakin, hidup ini abadi. Tidak akan mati?

Cerpen dongen penunggu surau ini menceritakan tentang surau yang selalu sepi dan hanya diisi oleh empat orang, orang-orang kampung sibuk dengan musim tanamnya bahkan ketika sudah panen pun mereka masih sibuk hingga tak ada waktu untuk ke surau sekedar beribadah. Cerita tersebut juga terjadi dalam dunia nyata, masyarakat sibuk dengan urusan-urusannya dengan alasan untuk menunjang kehidupan. Fenomena melupakan Tuhan seolah menjadi hal lumrah di masyarakat. Tapi proses melupakan Tuhan tidak hanya disebabkan oleh kesibukan Joni juga menggambarkannya dalam fenomena lain, terlihat di cerpen kita mengadu kepada mayat.

??????????? ?kecuali mereka itu. Hem... kamu bilang apa tadi, Kanap? Oya, betul namamu Kanap? Heh...jadi, hanya orang Kampung Hitut yang suka bersemedi di pekuburan,,,?

? Sunan Bledek Kingking. Betul, saya Kanap. Mereka memang memuja dedemit. Maksud saya orang-orang kampung Hitut. Agar bisa kaya.?

Cerpen itu menceritakan dua kampung yaitu Asamketek dan Hitut yang sama-sama memuja pekuburan atau orang yang dikubur didalamnya dengan dalih-dalih dia sunan. Warga Asamketek merencanakan pembunuhan terhadap seorang kiai untuk dikubur disana dan dijadikan tempat pemujaan juga sama seperti di kampung Hitut. Joni Ariadinata menggambarkan kealpaan masyarakat terhadap Tuhan dengan pemujaan terhadap seseorang atau sesuatu secara berlebihan, dianggap dapat membawa berkah atau pertolongan secara instan daripada Tuhan. Ternyata fenomena tersebut juga terjadi di masyarakat kini, banyaknya tempat-tempat yang dikeramatkan menggambarkan bahwa keimanan masyarakat sudah mulai tipis. Lebih mempercayai keberkahan tempat keramat itu dibandingkan keberkahan doanya sendiri yang jelas-jelas berdoa itu berhadapan langsung dengan Tuhan. Namun Joni disini membuat akhir ceritanya mengantung karena awalnya tokoh utama itu adalah Kiai namun diakhir cerita tokoh Kanap lah yang berperan, karena akhirnya menggantung sehingga ada makna yang tidak sampai kepada pembaca.

Joni bukan hanya membuat cerita tentang menganaktirikan Tuhan, namun ada sisi religius yang teramat fanatik misalnya dalam cerita malaikat tak datang malam hari. Tokoh Kawit yang beribadah terus menerus tanpa memikirkan urusan duniawi bahkan urusan dengan istrinya,

Pagi. Angin belum subuh menampar wuwungan. Kemerotak suara desis kayu bakar, menelusup, warna merah: abu dan cericit tikus melintas pagu. Sunyi. Kawit belum pulang. Selepas magrib ia pergi, tentu, biasanya tiba kembali pada pukul tiga. Makan sahur dengan tergesa, kemudian pergi lagi. Pulang saat fajar. Begitulah. Setiap angin bertiup sebelum subuh, ketika kentongan surau berbunyi dua kali, Hasnah tersiksa menahan gigil kantuk.

Kawit hanya beribadah dan terus beribadah, padahal Tuhan mengajarkan kita untuk menghargai hidup. Hal ini pula yang terjadi dalam masyarakat kita banyak orang-orang yang begitu fanatik terhadap Tuhannya tapi malah hal itu membuatnya menyakiti sesama manusia. Masyarakat kini mengatasnamakan kefanatikan itu untuk menjatuhkan orang lain, karena menganggap dialah yang paling benar. Orang fanantik menganggap ilmunya lebih tinggi atau kadar keimanannya lebih tinggi dibanding orang-orang yang tidak terlalu fanatik. Kefanatikan itu tergambar juga dalam cerpen Joni yang bejudul kanjeng Sunan ikut bersama kami

Disimpulkan Tuhan menghendaki. Kajian marhabanan bagi pujian terhadap Kanjeng Nabi, kemudian qadiran bagi ruh Aulia Syaikh Abdul Qadir Zailani, perantara makbulnya doa di hadapan Allah, 62 jamaah mengepung satu baskom besar air kembang. Air suci dari niat suci dan doa suci. Botol-botol kecap, Aqua, plastik-plastik disiapkan. Air, doa seratus kali bacaan Ya Sin, seratus masing-masing wirid dengan kekhusyukan orang-orang terdekat: hamba-hamba terpilih: ditasbihkan gerimit Sang Guru Abah haji Johar yang mendongkak terseruk bergulung dan menangis, bila perlu menjerit menghiba hanya dihadapan Allah. ?

Kefanatikan dalam cerita tersebut adalah orang-orang yang berguru kepada Abah Haji Johar dan mereka menganggap orang-orang yang tidak berguru kepada abah Haji Johar sesat. Masyarakat kekinian juga seperti dalam cerita-cerita tersebut, banyak orang-orang yang dianggap sesat atas tuduhan dari orang lain hanya karena beda cara beribadah. Antar kelompok saling memploklamirkan bahwa dialah yang paling benar di hadapan Tuhan. Padahal belum tentu dialah yang benar. Masyarakat kekinian juga melakukan seteru antar kelompok kepercayaan padahal agama mereka sama hanya beda madzhab, bermusuhan bahkan saling tidak mengakui sebagai saudara. Allah Taala berfirman, "Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-Taubah: 31)

Dan ternyata banyak dari umat Islam yang mengkultuskan ulama dan kiai dan menempatkan mereka pada posisi Tuhan yang suci dan tidak pernah salah. Demikianlah pendapat mayoritas ulama jika sudah menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan mentaatinya maka itulah bentuk penyembahan terhadap ahli agama. Dan ini pula yang banyak menimpa umat Islam, mereka mentaati secara buta apa yang dikatakan ulama atau kiai padahal bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits

Zaman sekarang begitu mengekang kehidupan masyarakat, masyarakat satu dengan yang lain melakukan persaingan secara tak sehat. Keegoisanpun menjadi karakter lumrah, dimana hanya dirinyalah sendiri yang benar dan orang lain salah. Termasuk dalam kehidupan beragama, masyarakat sudah mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadinya, agama sudah menjadi alat untuk mencapai kemenangan dalam persaingan hidup. Cerpen Joni adalah cermin datar dimana keadaan masyarakat pada nyatanya benar-benar digambarkan dalam cerpen. Teori sosiologi sastra menyebutkan karya sastra adalah cermin masyarakat (Welleek), menurut Plato ?Sastra adalah tiruan dari kenyataan?. Menurut Nyoman K. Ratna (2003:1) Sosiologi sastra merupakan ilmu yang dapat digunakan untuk menganalisis karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya. Paradigma sosiologi sastra berakar dari latar belakang historis dua gejala, yaitu masyarakat dan sastra: karya sastra ada dalam masyarakat, dengan kata lain, tidak ada karya sastra tanpa masyarakat.

Banyak fenomena-fenomena yang digambarkan Joni dalam cerpennya terjadi juga di masyarakat. Namun fenomena-fenomena tersebut ternyata tidak begitu berani digambarkan Joni secara gamblang, banyak cerita-cerita yang berakhir menggantung. Kalimat Joni yang ringkas dan padat nyatanya kurang mampu membuat pembaca gereget.

Begitulah kumpulan cerpen Malaikat Tak Datang Malam Hari merepresentasikan kehidupan nyata masyarakat kekinian. Joni Ariadinata membuka keposesifan zaman terhadap kehidupan beragama. Baik dan buruk karya tersebut nyatanya mampu menjadi salah satu buku yang patut diperhitungkan keberadaanya. Salam Sastra, Salam Budaya!.

Dilihat 505