Hingar Bingar Televisi

Syifa Yaumatur Rahmah
Karya Syifa Yaumatur Rahmah Kategori Lainnya
dipublikasikan 23 Februari 2016
Hingar Bingar Televisi

Televisi, sebuah benda berbentuk kotak kadang cembung kadang flat yang sepertinya sudah menjadi sahabat terbaik di era digital ini. Mungkin sahabat kedua terbaik setelah Wi-fi. Sebenarnya bukan gara-gara lomba ini saja saya membuat "keresahan" tentang televisi tapi memang resah betul saya dengan konten-konten di televisi. Beberapa bulan kebelakang Aliansi Jurnalis Indpenden (AJI) pernah menyerukan cerdas memilih media. Memang betul kita sebagai konsumen harus cerdas memilih media. Tapi bagi saya memilih bukan hanya persoalan?take and give tapi harus give and give. Maksudnya adalah bukan hanya penonton yang harus cerdas memilih media tapi media juga harus cerdas menayangkan?konten.?

Pernah ga sih?merasa bahwa televisi tepatnya konten televisi adah pelarian paling sempurna dari beban pekerjaan kantor atau beban aktivitas sehari-hari. Tapi ketika kita menyalakan televisi kita malah disuguhkan oleh acara-acara yang bagi saya malah menambah beban. Misalnya sinetron-sinetron yang lebih banyak mengedepankan perkelahian, percintaan, masalah rumah tangga, dan lainnya. Bukankah kita malah jadi kesal sendiri melihat konflik di dalam sinetron ? Bukankah kita jadi berpikir keras tentang kelakuan para tokoh sinetron? Bukankah akhirnya kita menjadi pembenci pemeran tokoh itu ? Bukankah pada akhirnya kita tidak bersitirahat dengan rileks karema disuguhkan permasalahan pada sinetron. Sinetron yang pada awalnya dibuat sebagai konten hiburan justru tidak berdampak demikian. Sering kita mendengar ada artis yang sedang jalan-jalan ke Mal tiba-tiba dicubit oleh ibu-ibu yang membenci tokoh yang ia perankan. Betapa media televisi itu melekat dalam kehidupan masyarakat. Belum lagi beberapa hari yang lalu saya melihat di salah satu media sosial ada yang memposting sepasang muda mudi SD berperilaku layaknya pasangan tokoh dalam sinetron yang mereka tonton. Berpelukan-lah, bermesraan-lah, dan lainnya. Hal itu tidak sepantasnya dilakukan oleh anak-anak SD yang notabene dia masih dibawah umur. Pantaskah? Risihkah? Jelas saya risih, saya sebagai masyarakat merasa telah gagal mendampingi penayangan konten televisi itu. Setidaknya kita memiliki hak, mana yang pantas ditayangkan atau tidak. Lalu apa yang dilakukan produser? apakah produser pernah berpikir mengenai dampak dari barang dagangannya pada konsumen ? saya rasa tidak mereka hanya mementingkan rating. Saya lebih tidak habis pikir justru sinetron yang meresahkan itulah yang mendapat rating paling tinggi bahkan sampai ratusan episode. Banyak anak-anak yang pada akhirnya termakan oleh adegan-adegan yang mereka anggap baik. Mungkin memang bukan murni kesalahan medianya tapi kesalahan dari pengawasan orang tua juga yang minim.?

Keterpurukan itu terjadi setiap hari bahkan saat weekend yang lebih banyak diisi oleh acara-acara gosip. Gosip yang tidak lebih dari hanya menceritakan kehidupan artis. Secara pribadi saya mengatakan untuk apa kita tahu persoalan rumah tangga artis? gunanya apa bagi kehidupan pribadi dan bermasyarakat ? kadang acara-acara seperti itu tidak lebih dari mengumbar aib seseorang. Apalagi tayangan gosip hanya memperlihatkan hal-hal yang tidak mendidik. Bagaimana tidak, mereka adalah public figure tapi kadang yang ditayangkan tidak bisa diambil contoh. Kawin cerai, narkoba, prostitusi, dunia malam, kehidupan glamour terus apa lagi yang bisa kita ambil hikmahnya? ?Nothing. Kita hanya tau kehidupan mereka yang nantinya akan menjadi bahan pembicaraan dengan teman yang lain. ?Lalu bagaimana dengan anak-anak yang menonton acara gosip itu? Bagaimana dengan fans yang mengelu-elukan artis kesayangan mereka? ?Sudah barang tentu mereka akan mencontoh. Biar bagaimanapun artis itu dijadikan rule mode bagi mereka.

Keniscayaan itu tidak hanya terjadi pada berita hiburan saja, tapi menyentuh berita "serius" juga . Acara-acara berita atau liputan terkadang mengabarkan informasinya ?terlalu berlebihan sampai diulang berkali-kali, malah dijadikan breaking news atau satu topik berita yang dibahas dari awal sampai akhir yang ujungnya tidak jelas dan tidak solutif. Berita kadang juga men-judge sesuatu yang belum diputuskan, kadang yang belum tentu salah menjadi salah, yang belum tentu benar sudah dianggap benar. Kita sebagai penonton jadi susah memilah dan memilih mana yang penting atau tidak. Karena yang penting seperti jadi tidak penting. Dan yang tidak penting menjadi penting sekali. Belum lagi keberpihakan stasiun televisi pada pemegang saham di stasiun televisi tersebut. Sehingga menanyangkan berita yang memihak. Seharusnya media menjadi alat yang netral. Sehingga masyarakat tidak terombang-ambing arus politik yang digadang-gadang oleh media nasional tersebut. Ketidak akuratan berita lah yang masyarakat akan dapatkan.?

Betapa hebatnya konten televisi mengubah sudut pandang penontonya. Haruskah kita menelan konten televisi ini setiap hari ? ibarat menelan racun yang lama-kelamaan akan mengendap ??

seperti sebuah parodi yang dibuat di You Tube

Kita jadi bisa pacaran dan ciuman
Kar?na?siapa?
Kita jadi tahu masalah artis cerai
Kar?na?siapa?

Kita Bisa Pandai dibimbing TV
Kita jadi lebay dibimbing TV
TV bak pelita penerang gelap gulita

Jasamu tiada......

GIMANA MAU MAJU? NONTONYA ITU
?
Saya akui, tidak semua konten ?televisi berpengaruh buruk. Tapi betulkah pepatah yang mengatakan, "karena nilai se titik rusak susu sebelanga" karena konten yang tidak mendidik, semua konten yang mendidik menjadi bias. Ayo kita sama-sama berbenah, karena sejatinya hidup adalah saling.Bukan cuma mengambil keuntungan untuk beberapa pihak. Tontonan kita dan generasi mendatang adalah tanggung jawab bersama.