malaikat tak berginjal

syifa dzikro
Karya syifa dzikro Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
malaikat tak berginjal

Semenjak kelahiran adikku, Fatina rosyida, kehidupanku berbalik 360 derajat.

Aku tidak lagi si anak tunggal yang menerima limpahan kasih sayang dari keluarga.

Tapi kini aku menjadi si sulung yang harus mengalah dan menderita.

Padahal ketika itu aku baru berumur 3 tahun.

Pulang kerumah seperti pulang ke tempat romusa (kerja paksa).

Baru datang dari sekolah saja, ibu langsung teriak:

?kakak?.., bantu ibu cuci piring?.

?Habis itu masak nasi dan jangan lupa ngangetin ikan tadi pagi....?!

Tak ada waktu untuk bermain dan istirahat.

Saat ibu bekerja, aku selalu dipanggil ibu untuk mengerjakan pekerjaan rumah menggantikannya.

Sedangkan Tina bebas melakukan apa saja.

Meskipun kami sudah besar, diskriminasi seperti itu terus berlanjut.

Malam 08.00 pm

Di ruang keluarga, kami berkumpul seperti biasa.

Akupun memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang sejak lama ingin aku katakan pada ibu.

?Bu??, panggilku memecah obrolan Tina, ayah dan ibu.

?Dalem, ada apa ndok??, tanya ibu spontan.

?Ehm...., ini seminggu lagi ada perayaan hari ibu. Ami ingin ibu datang.?

Tiba-tiba, belum sempat ibu menjawab, si bungsu, Tina toon itu menyambar dengan menggebu-gebu:

?Oh y Bu, seminggu lagi di sekolah Tina juga ada acara hari ibu loh. Malah Tina dan teman-teman akan menampilkan drama tentang ibu.?

?Wah ? wah ibu sekarang kebanjiran undangan nih,? sambar ayah dengan jenaka.

Ibu tersenyum tersipu.

?Kalo ke tempat kakak, ibu tidak bisa.

Ibu ada kondangan.

? Tapi kalo ke tempat adek, Insyaallah ibu sempatin. Soalnya kondangannya dekat sekolah Tina.?

?Kakak sama ayah aja ya,? pinta ibu dengan nada menyesal.

?

?Iya! ? tapi ntar, kalo di sekolah ada perayaan hari ayah,? jawabku dengan ketus sembari berlari menuju kamar.

?Gbrakkk!? Kubanting dengan keras pintu kamarku.

?

?Benciiiiiiiiiiiiii!?,

teriakku menjadi-jadi.

Sampai tak kurasakan lagi derasnya airmata membuat mataku seperti telur rebus.

Pagi ini aku pergi sekolah lewat jendela kamarku yang berada di lantai 2.

Niatnya sih mau pergi gak bilang-bilang, biar disangka kabur.

Ini cara protesku pada ibu yang selalu tidak adil padaku.

Kuikat kuat-kuat ujung tali pada tiang jendela dan perlahan- lahan kuturunkan tubuhku yang tambun dengan sedikit rasa cemas.

Saat kakiku terlepas dari jendela menuju kubawah.

Kurasakan tubuhku melayang di udara.

Tapi belum sampai kakiku menyentuh tanah, hordennya lepas;

?aaaaaaaaaaaaaaa.?

Akupun terhempas ke bawah, tepat di bawah jejeran pot bunga.

Tak banyak yang kuingat, tiba-tiba saja aku sudah berada di ruangan darurat rumah sakit.

?Ibu?,? panggilku dengan parau.

Entah mengapa namanya masih saja kupanggil meski perlakuannya membuatku kesal.

?Ada apa sayang??

?Ibumu lagi ke luar sebentar,? kata tante Ani.

Kupandangi wajah ayah.

?Apa aku ini anak pungut ya yah?,? ceracauku mengagetkan ayah.

?Hush, kakak kok mikir yang macem-macem!

Lebih baik kakak sekarng istrirahat ya!,? kata ayah pelan.

Hari berganti hari. Sudah lima hari aku di rumah sakit. Tapi tak sedikitpun kulihat ibu menjengukku.

Setiap kali kutanyakan keberadaan ibu,

ayah selalu bilang ibu mengantar adik lah, ibu menjemput adik lah, ibu inilah, itulah.

Intinya tidak bisa datang menjagaku.

Akhirnya dokterpun membolehkanku pulang.

Akupun di antar oleh ayah sekeluarga pulang ke rumah, kecuali ibu.

Ah entah dimana dia sekarang akupun tidak lagi ingin mencari tau.

Belum seminggu aku di rumah, teriakan romusa itu kembali menggema.

?Kakak?..!?

Hufh tak kuhiraukan lagi panggilan ibu. Kututup telingaku dengan bantal, sampai kurasakan teriakan itu semakin mendekat.

?Ayo bangun, anak perawan kerjanya tidur aja!,? sergah ibu dengan nada tinggi.

?@#$%$#@@#$?...... satu persatu omelan keluar membuatku tak tahan juga, akupun bangun dan pergi dari rumah tanpa menghiraukan teriakan ibu.

**********************************

Kini Sudah 2 hari aku menginap di rumah Rini, sahabatku di sekolah. Saat ku sedang asyik bercanda dengan Rini, tiba-tiba Tina? datang dengan tergopoh-gopoh menghampiriku dan menarikku berjalan menuju suatu tempat.

?Ada apa sih?,? teriakku penuh jengkel.

Tak ada jawaban. Yang kudapati hanya wajahnya yang pucat dan tegang, membuat jantungku juga ikut tegang.Tak terasa beberapa menit kami naik turun angkutan. sampailah kami pada sebuah gedung. Aku ikuti langkahnya yang terburu-buru menuju sebuah ruangan yang disesaki oleh keramaian orang.
Semakin mendekati ruangan itu, aku semakin mengenali wajah-wajah kerumunan itu. Kudapati wajah tante Ani, ayah, om Yahya, nenek dan kakek. Juga berapa sanak saudara lainnya berada di luar ruangan.

?Ibu sakit parah kak, dan sekarang koma,? serak suara Tina memecah kebisuan.
?ibu sakit apa??, Jawabku bingung.

?Ibumu terkena komplikasi,? tante Ani bercerita berurai air mata.

?Saat kau berumur 2 tahun, dokter memfonismu terkena syindrom aktif. Jika kamu tidak melakukan aktifitas, kamu akan mudah kejang-kejang dan demam tinggi. Ibumu rela menjual ginjalnya untuk biaya pengobatanmu.?

?Dan untuk mengatasi penyakitmu, ibumu selalu menyuruhmu mengerjakan pekerjaan rumah agar kamu bergerak?.

?Kamu tau ketika kamu di rumah sakit kemarin??. ?Sepanjang malam ibumu menungguimu di rumah sakit.? Saat pagi tiba ibumu pergi mencari pinjaman hutang kesana kemari untuk membiayai rumah sakitmu.?

Belum selesai tante bercerita, akupun setengah berlari menuju ibu yang terbujur kaku.

?Bu, bangun bu,?.. gak apa lo ibu mau teriak2 , ngomel-ngomel, nyuruh ami sesuka ibu. Yang penting ibu bangun bu?.!?

Tak ada reaksi dari ibu, hanya bunyi alat deteksi jantung yang terus bergerak lemah.

Sabtu, 22 Desember 2013

Hari ini hari terindah bagi ibuku karena penyakit dan kesusahan yang melilitnya satu persatu pergi. Hari ini kulihat senyum indahnya . Aku, ayah, Tina dan seluruh keluarga menemani ibu menuju tempat impian ibu.

Langit begitu sejuk,

sesejuk pandangan ibuku meski sepanjang perjalanan

tak sedikitpun ibu bicara mengungkapkan perasaannya.

Entah karena menikmati kebebasan hari ini ataukan sejenak meresapi udara pagi yang begitu indah, kupeluk tubuhnya dan kubisikkan ditelinganya

? met hari ibu bu? maafkan ami ya bu bisikku setengah terisak. Dia hanya tersenyum terdiam didalam pelukanku .

Setelah menempuh perjalanan 20 menit sampailah kami di suatu tempat sepi dipenuhi pepohonan kamboja dan rumah-rumah teduh tak berpenghuni.

Aku dan seluruh keluarga membopong ibu disertai kalimat tahlil.

Rumah terakhir ibupun sudah siap. Tubuhnya perlahan-lahan tenggelam dalam tumpukan tanah. Inilah hari pertama dan terakhirku melewati hari Ibu bersama guardian angelku.

  • view 83