Mencerita Kota, Berbau Kopi, Bersusun Puisi

Syifa Annisa
Karya Syifa Annisa Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Januari 2016
Mencerita Kota, Berbau Kopi, Bersusun Puisi

_

:

1.
Di satu titik
Di kota tua yang jauh, dingin
Di mana gelap lekas datang..
Ada namaku di salah satu sudut kota itu

Di kota itu..
Hujan berwarna lain
Seseorang berjalan menangis
Membawa beragam warna dari airmatanya Membungkusnya dalam temaram
Sepercik kelam yang bukan malam

Kota adalah banjir
Rumah-rumah berdesakkan
Gedung-gedung ditinggikan
Jalan air tak terpikir

Di kota itu
Udara menyusutkan diri
Seperti racun
Membuat mata rabun

Ditepi Kota itu
Ornamen sajak tersusun
Bersama senja merah
Membenam dalam tabah
Untuk kembali merekah
Esok selepas siang lelah

Semesta pun tau siapa aku :
Rembulan pucat yang bersandar dibayang lidah mentari :
Terseok menapaki malam
Beradu terang dengan bintang pari

2:
Kopi adalah ranting Tuhan
Tempat dimana mimpi mulai berbuah perlahan
Sunyi ini adalah dingin
Menghirup kopi hangat yang mulai kehilangan aroma

Di punggung wanita yang sedang menikmati kopi
Ada puisi paling sedih yang dibaca oleh sepi
Sungguh melankolisnya tersaji
Rasa pahit tercecer bersanding elegi
Mencari tempatnya sendiri
Sementara jari menari
Mengabadikan sebuah nama ke dalam puisi
Mengemas cemas sebelum pukul tiga pagi

3:
Dan ketika fajar jadi penanda jeda
Ada yang tetiba menyelinap pergi sementara
Mungkin satu babak, dua episode atau tiga musim
Bagus!
Teruslah diam atas nama tak tega
Maka semua akan tampak lazim
Meski tak mengubah apa-apa

?

?

?

?

?

?

  • view 248