Surgamu Belum Ku Dapatkan

Syarif Dy
Karya Syarif Dy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juli 2016
Surgamu Belum Ku Dapatkan

Suatu hari aku merajuk meminta kepadanya agar aku segera dicarikan kesibukan karena waktu terus berjalan dia hanya bilang nati, dan nanti. Ku kembali bertanya dengan sedikit ku tinggikan nadabicaraku seketika raut wajahnya berubah. Dan hanya menjawab "Nanti." Aku mulai bosan. Hari demi hari ku lalui dengan berfikir, sesekali aku coba melangkahkan kaki menginjak bangunan megah. Karena aku belum tahu prosedurnya. Surat yang aku kirim hanya mendapatkan jawaban "Nanti datang kesini lagi" Lelaki keturunan tionghoa itu berlalu dengan santainya. Beberapa hari kemudian semuanya sudah aku beli kemeja biru dan sepatu warna hitam menjadi salah satu senjata yang ampuh menahklukkan meja hijau itu. Namun, hari demi hari tak kunjung ada jawaban dari pihak terkait atas surat yang ku tulis lalu  ku bungkus dengan amplop besar itu. Aku mulai resah. Hitungan waktu pun semakin melaju. Dan aku hanyalah manusia yang merugi. Kembali beliau ku tanya lagi. "Kapan pak?" Beliau kembali menjawabnya "Nanti." Hari itu hari yang ke tujuh berjalanya bulan suci ramadhan. Amarhku meluap. Ku hempaskan pintu kamarku. Ku tendang lemariku. Ku hambur seluruhnya. Katanya "Kenapa kau, hah?!" Ku biarkan tegurannya dan kembali kuhempaskan pintu dapur. "Doooorr!" Dalam hati aku menggerutu "Dasar pembohong" Adzan menggema disusul lantunan puji syukur atas tibanya waktu berbuka puasa. Dengan amarah ku berbuka puasa waktu itu.

  ****  

Waktu itu. Sesaat kemudian dia angkat bicara lebih banyak tak seperti biasanya dan menguraikan apa yang dia rencanakan. Aku cukup mendengarkannya seperti angin yang berlalu begitu saja. Dalam hatiku "Bohongmu adalah senjatamu!" Sesuai rencananya sehabis bulan ramadhan dia akan mencarikanku kesibukan, tapi kembali yang terlihat dan ku dengar hanyalah kebohongan! Aku mulai muak kenapa harus alasan dan kebohongan yang ada. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun aku menahan amarahku. Kebohonganmu dan cerita anganmu itu membuatku muak. Janji-janji terbaikmu tak terbukti. Aku khawatir akan nasibku yang terjerumus dalam kehidupanmu yang akan membuatku semakin jauh atas surga yang aku dambakan. Aku takut mendengarkanmu karena bualan yang aku terima. Aku tak menyalahkanmu, tapi aku menyalahkan kebohongan yang sering kau ucapkan kepadaku, tapi aku tak mengelaknya suatu saat nanti pasti aku akan melakukannya. Sama halnya dengan dirimu sekarang bahkan aku akan lebih besar berbohong nantinya kepadaketurunanku. Aku tak mampu berdamai dengan situasi ini. Aku punya harapan di masa yang akan datang untuk merubah dan menghentikan sandiwara murka ini. Sering kali aku mengungkit masa lalu dan berandai-andai kesempurnaan dan keharmonisan orang lain. Aku sadar lewat kacamataku ini aku telah mengkufuri kenikmatannya. Aku takut kemurkahan Tuhan, tapi tak sebanding dengan rasa kecewaku karena melalui keridhahan dia adalah keridhahan Tuhan akan aku peroleh.

Bersambung...

  • view 155