Lautan Ini

Syarif Dy
Karya Syarif Dy Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 April 2016
Lautan Ini

Kala waktu itu aku ditumbuhkan di suatu tempat yang mana di situlah aku dirawat dan didik oleh seorang nenek yang telah lama hidup seorang diri. Sejak kedatanganku dia memiliki teman untuk menemani kehidupanya. Beliau sangat sungguh-sungguh merawatku dan menghawatirkanku setiap saat. Dulu, kala itu umurku masih lima tahun aku belum cukup tahu menahu apa yang sedang terjadi sebenarnya. Kenapa aku berada di sini? Aku cuek dengan semuanya aku tetap riang gembira menghadapi kehidupanku. Umurku terus bertambah aku masih suka bermain lepas jauh dari rumah yang mulai dibangun dengan matreal yang lebih baik dari pada sebelumnya. Bermain dengan teman-teman. Berburu ikan, burung, dan lain sebagainya. Sangat lama aku terus menjalani kehidupan yang tak mau tahu menahu itu. Dan pada akhirnya aku merasakan rindu. Aku belum tahu apa yang sedang kurindukan waktu itu. Hari raya idul fitri yang setiap orang muslim merayakanya dengan penuh gembira. Teman-teman seusiaku juga terlihat gembira dengan apa yang mereka miliki, dengan baju barunya dan tangan kanannya memegang beberapa uang tangankirinya memegang tangan ayahnya. Dan kami menuju masjid bersama ikut meramaikan masjid dengan mengumandangkan takbiran. Ikut takbiran keliling desa membuatku aku lupa untuk pulang. Nenek menghampiriku memarahiku. Karena tidak segera pulang malampun sudah larut. Hanya masjid yang masih bertakbir dengan tenang.

****

Pagi itu setelah sholat Idul Fitri di masjid kebiasaan dari umat muslim adalah silaturrahim kerumah saudara ataupun tetangga-tetangga. Aku lihat mereka teman-temanku bersama dengan orang tua mereka. Sedangkan aku cukup saja dirumah menemani nenekku menjamu para tamu-tamu. Dan saudara-saudaraku sudah datang rumah itupun sekejap ramai dan aku ikut merasakan kebahagiaan hari raya itu. Aku juga dapat uang jajan dari mereka. Betapa bahagianya diriku.

"Ini dari pakde." Kata pakdeku.

"Trimakasih" Ucapku.

"Orang tuamu ga kesini?" Tanya pakdeku itu.

"????????@#@#@##@@" aku terdiam.

"Ga untuk tahun ini. Mereka belum sempat waktu kesini" Kata nenek dari kejauhan.

"Oh.. Jadi begitu rupanya. Yah. Ga papa" Timpal pakdeku.

Aku ketika itu malah asyik bermain dengan saudaraku memainkan mainan barunya yoyo yang filemnya sering diputar pada hari minggu. Aku ingin memiliki mainan itu. Aku bongkar tabunganku tan kutambah dengan uang pemberian saudara-saudaraku. Sejurus kemudian aku memiliki mainan itu dan aku terus memainkanya sampai hanya ada kata suka gembira saat itu. Malam menjelma seperti lautan yang teduh diatasnya gumpalan awan-awan yang membentuk macam -macam rupa. Begitupun malam ini yang mana aku telah lelah dan mata ini mulai berat sehingga tidur dengan sendirinya.

****

Ayah memberiku mainan. Mainan terbaru. Entah apa itu namanya, dan ibuku sibuk mengejarku berusaha memakaikan kaos. Aku sibuk dengan mainan terbaruku. Dan ibu yang cerewet itu meminta mainanku terlepas dari itu ibu tersenyum dan memakaikan kaos ketubuhku dan mengembalikan mainan itu padaku. Dan ayah telah pergi entah kemana. Ibu juga mulai sibuk dengan urusan dapurnya.

****

Nenek sudah memulai kegiatan paginya menyapu halaman rumah. Membelikan sarapan dan hari itu aku mulai tahu bahwa aku sebenarnya hidup dengan kedua orang tuaku dan mereka dimana? Sedang apa? Kenapa aku berada disini? Aku tak tahu jawabanya. Sarapan telah siap karena nenek selalu menyiapkanya tepat waktu dan kita sarapan bersama. Rasa penasaranku mulai meluap. Ku tanya nenek kapan ibu ayahku pulang? "nek. Kapan ayah dan ibu kesini?" Lama. Nenek terdiam. Nampak dari raut wajahnya beliau sedikit kebingungan mau menjawab apa. "tahun depan mungkin" Dan aku gembira mendengarnya.

?

Lautan Lepas, 04 April 16'