RESENSI Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Buku
dipublikasikan 26 Januari 2016
RESENSI Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Judul: Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat
Penulis: Adian Husaini
Penerbit: Gema Insani Press
Cetak: Ketujuh, Oktober 2015
Tebal: 316 hlm

Topik pembahasan yang berat seperti ?Liberalisme? bisa dikemas dalam cerita yang mengalir dengan pembahasan yang memahamkan pembaca tentang ?apa itu Liberalisme ?? Novel ini secara lugas menyatakan tentang perang pemikiran yang selama ini menyerang umat Muslim di dunia baik sadar maupun tidak. Dr. Adian Husaini telah menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa ?perang pemikiran? memang sedang terjadi di negara kita.


Novel ?KEMI, Cinta Kebebasan yang Tersesat? telah disusun secara gamblang, dengan cerita persahabatan, cinta, dan kesetiaan. Dimulai dengan persahabatan Kemi dan Rahmat. Kedua pemuda berprestasi, cerdas, santri teladan, serta kesayangan dan kepercayaan Kyai Aminudin Rois pimpinan pesantren Minhajul Abidin Madiun, Jawa Timur. Tetapi persahabatan itu berubah ketika Kemi ingin meninggalkan pesantren.


Kemi terpengaruh kakak kelasnya yang lebih dulu meninggalkan pesantren. Farsan menjanjikan kehidupan yang sejahtera dengan beasiswa kuliah di Universitas Damai Sentosa. Ternyata Farsan mempunyai niat buruk, yaitu menjadikan Kemi sebagai salah satu aktivis liberal seperti dirinya. Kemi sudah menjadi manusia bercorak baru. Kecerdasan Kemi telah mengantarkannya pada kegairahan intelektual baru. Dia terus mendalami ide-ide pluralisme, multikulturalisme, kesetaraan gender, dekontruksi syariah sampai desakralisasi kitab suci.


Terjadi perdebatan panjang antara Kemi Dan Rahmat ketika akan mengantar adiknya ke Pesantren. Dalam perdebatan itu Kemi menyangkal pendapat Rahmat bahwa liberal bukanlah bebas tanpa hambatan melainkan Islam yang membebaskan, membebaskan dari kejumudan, kekauan, kekolotan, kefanatikan, dan kesempitan berpikir.? Selanjutnya Kemi beranggapan bahwa lingkungan dan pergaulan yang membentuk dan mempengaruhi pemikiran seseorang. Hal itu dibantah rahmat bahwa teori Kemi salah dengan memaparkan kisah Nabi Ibrahim As yang tetap beriman walau lingkungannya adalah penyembah berhala. Bahwa penyebab berubahnya Kemi karena penyakit dalam hati dan lemahnya pendirian.(hlm 50-55)


Kemudian dalam diskusi mereka , Kemi menggunakan teori Kesatuan Transendensi Agama-agama (Transendent Unity of Religion). Teori ini melihat agama-agama adalah hasil budaya manusia. Teori ini mengandaikan agama-agama hanya berbeda pada level eksoterik (aspek luar seperti cara ibadah), tetapi akan bertemu pada level esoterik (aspek batin). Inilah yang merupakan teologi abu-abu, yang tak lain adalah pluralisme yang mana orang-orang yang melihat agama-agama pada posisi seperti itu telah menjadi netral agama.(56-57). Tidak hanya itu diskusi mereka juga menukik ke soal kedudukan nama Tuhan, tidak diakuinya kebenaran eksklusif islam, logika-logika yang salah tapi seolah-olah ilmiah, serta posisi netral agama yang mengarah pada teologi global.(hlm 61-69)


Akhirnya rahmat pun memperdalam ilmunya baik dari Kyai Rois dan Kyai Fahim Rupawan (hal. 108) yang terkenal mumpuni dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam. Setelah dirasa cukup dan mampu, akhirnya Rahmat dikirim ke Jakarta untuk mengemban amanat dan misi dari Kyai Rois untuk menyadarkan dan membawa kembali Kemi ke pesantren.


Di kampus Damai Sentosa, Rahmat menemui kehidupan baru. Rahmat memasuki dunia Kemi dan bertemu dengan teman-teman Kemi termasuk Siti Murtafiah perempuan aktivis Liberal yang pernah ikut menolak RUU Antipornografi, mendukung perkawinan lintas agama dan kawin sesama jenis. Pemikiran yang bebas sudah sangat sebebas-bebasnya membaur dan merasuk ke setiap mahasiswa di kampus itu. Tetapi Rahmat tetap kepada pendiriannya, menjaga imannya dari setiap keyakinan yang tidak sesuai dengan Syariat agama Islam.


?Bahkan pada suatu saat, pada acara perkuliahan perdana yang diikuti Rahmat, Rahmat bertemu dengan Profesor Abdul Malikan. Pemikiran-pemikiran Profesor Malikan menyatakan, bahwa truth claim pada masing-masing agama merupakan pemicu adanya konflik, maka metode pandangan obektif dan netral dalam studi agama-agama harus dikembangkan, ditentang keras oleh Rahmat.(hlm 162-163) Setiap pernyataan yang disampaikan Profesor Malikan dibantah dan dipatahkan oleh Rahmat sehingga membuat Profesor Malikan kelabakan, Rahmat mampu menaklukkan Rektor Universitas tersebut, Profesor Malikan (hal. 139).


Kedatangan Rahmat bagaikan angin segar buat seorang Siti yang mencoba berontak dari jeratan liberalisme yang menjeratnya selama ini.Siti seorang aktivis liberal yang tak berdaya lagi melawan pikirannya sendiri. Siti mengakui bahwa posisinya dan Kemi adalah korban dari oknum-oknum berkepentingan dalam proyek-proyek liberalisasi agama.
Pada suatu kesempatan Rahmat memiliki waktu luang untuk meneliti riwayat pendidikan dan pemikiran sejumlah tokoh liberal. Rahmat ingin mengetahui apakah aspek ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya dengan perubahan dan perkembangan pemikiran tokoh tersebut. Dan hal itu disimpulkan Rahmat bahwa kondisi kejiwaan seseorang bisa berpengaruh dengan kuat. Seperti kasus Farid Essack dan Ahmad Wahib, pemikiran mereka terkait aspek lingkungan dan ekonomi.begitu juga yang diamatinya dari dialog wartawan Bejo Sagolo dan Dr.Demiwan Ita seorang tokoh feminis terkemuka, dan kasus-kasus aktivis kesetaraan gender yang mengakui kekecewaan dan kegagalannya pada seorang laki-laki yang menyeretnya menjadi aktivis gender.(hlm 202-203)


Pada kesempatan lain, Rahmat menghadiri acara diskusi terbatas di kampus Damai Sentosa. Pembicara pada acara diskusi ini adalah serorang Kyai yang sudah dianggap tercerahkan, sangat pluralis, tidak lagi ngotot soal syariah dan sangat concern dengan masalah gender, dia bernama Kyai Dulpikir.


Dalam diskusi ini Kyai Dulpikir mengutip surat Al-Baqarah ayat 62 untuk mendukung gagasan pluralisme agama, ?ayat ini membuktikan islam adalah agama yang sangat mendukung paham pluralisme?.(hlm 237) Rahmat pun? mendebat dan mematahkan pemikiran dan pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Kyai Dulpikir. Rahmat sudah mempermalukannya, Kyai Dulpikir merasa sadar bahwa Allah mengingatkan akan semua kesalahannya. Pada akhirnya Kyai Dulpikir terjatuh dari kursinya di ruang diskusi. Dia tidak sadarkan diri sampai akhirnya meninggal dunia. Kyai Dulpikir merasa menyesal atas semua perbuatannya dan dia pun sempat mengucapkan istighfar.


Pergulatan Rahmat dalam membela pemikiran yang benar sesuai dengan syariat terus berlanjut, sampai akhirnya semua tahu mana yang salah dan mana yang benar. Bukan hanya Kyai Dulpikir yang menyadari kesalahannya, Kemi dan Siti pun merasa sadar bahwa mereka sudah sangat tersesat jauh, walau keduanya harus terjebak dalam insiden yang hampir merenggut nyawa. Pertemanan yang terjalin antara Rahmat dan Siti diam-diam menimbulkan benih cinta diantara mereka, tapi sayang jalinan rasa cinta itu tidak bisa mereka wujudkan karena mereka memiliki amanah untuk mengabdi di pesantren yang tidak bisa mereka tinggalkan.


Novel garapan Dr. Adian Husaini ini benar-benar unik, dari gaya bahasa yang disampaikan benar-benar menunjukkan bahwa penulisnya adalah seorang intelektual. Novel ini serasa mengajari kita agar memahami jalan pikiran yang salah, dan juga bagaimana seharusnya kita bisa memiliki pemahaman yang baik sesuai dengan syariat Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadits Rasulullah SAW .