Ujian Cinta

Ujian Cinta

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Januari 2016
Ujian Cinta

Ketika berbicara tentang cinta tentunya tidak sebatas keindahan belaka. Karena air mata pun menyertai cinta. Gundah gulana pun membersamainya. Cinta bukan hanya semua tentang? cerita manis saja, tapi ia juga akan diuji dengan pahitnya rasa, kelamnya jiwa dan gelapnya asa.


Lantas harus kah kau menjauh dari cinta? melarikan diri karena kecewa? mengubur rasa yang sebenarnya adalah karunia? tidak, bukan begitu menghadapi ujian cinta. Walau banyak anggapan dan penilaian serta pandangan-pandangan seseorang terhadap cinta, cinta itu merupakan sebuah anugerah yang diberikan Allah Ta?ala pada ciptaaanNya.

Bila cintamu diuji maka siapkanlah cinta yang lebih besar. Pertanyaannya adalah untuk siapa? pastinya untuk Sang Maha Cinta.Kesalahan terbesar seorang yang kecewa karena cinta adalah dengan serta merta tidak ridho akan apa yang telah dialaminya. Dan akhirnya ia hanya akan menghujat cinta, membalasnya dengan luka serupa, dan musnahlah cinta seketika.


Ketika ujian cinta menghampiri kita, pastinya ada lembar jawaban yang tak akan selalu berwarna merah jambu terkadang jawaban itu hadir dalam selembar kertas hitam dengan cerita kelam yang menyakitkan.Rasa yang menyesakkan, dendam yang tak terkatakan, bahkan hati pun seketika membeku oleh pedih dan kejamnya balasan ketulusan.


Tapi yakinlah itu cara Allah mencintai hambaNya. Cinta yang menggiring ke arah cinta suci nan hakiki. Dalam sebuah ungkapan sebagaimana dikutip dari Ibnu Qoyyim Aljauziyah, "Cinta itu laksana pohon di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yang dicintai, dahannya adalah mengetahuinya, ranting-ranting adalah ketakutan kepadanya, daun-daun adalah malu kepadanya, buahnya adalah ketaatan kepadanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut namanya. Jika di dalam cinta ada satu bahagian yang kosong, berarti cinta itu kurang. Allah telah mensifati Diri-Nya, bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang mukmin dan mereka pun mencintai-Nya."


Ketahuilah cinta kepada makhluq itu fana dan fatamorgana, maka dari itu bingkailah cinta dengan iman dan taqwa bukan berbalut nafsu dan syahwat belaka. Cinta hendaknya dibangun? dan tumbuh atas dasar keridhoan Ilahi, kesucian jiwa dan kecocokan tabiat, bukan Cinta yang tumbuh karena alasan keindahan, keelokan, harta, dan keturunan terpandang. Sehingga jika tidak ada keindahan, keelokan, dan harta, maka tiada pula cinta.

Ketika cintamu telah berlandaskan iman dan taqwa maka kau tak lagi gila akan cinta makhlukNya, namun dirimu akan hanya berharap cinta dari Sang Maha Cinta dengan keyakinan bahwa Allah titipkan cinta di hatimu pada orang dan waktu yang tepat.
Wallahu a?lam..

_Syara Mukti
Depok, 20 februari 2015

  • view 918