Televisi Oh Televisi

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Februari 2016
Televisi Oh Televisi

Televisi, siapa yang tak punya tabung ajaib ini, mayoritas masyarakat dari menengah atas, hingga menengah kebawah memiliki televisi di rumahnya. Kotak yang menyulap berbagai hal menjadi mungkin disaksikan dalam jarak dekat, bahkan informasi tentang dunia bisa dengan mudah dibroadcast layaknya komunikator berhadapan empat mata dengan komunikan.


Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak/live) yang bisa bersifat politis, bisa informatif, hiburan, pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Meski begitu banyak potensi dari media tersebut. Tudingan terhadap televisi sebagai media yang berdampak buruk bagi perilaku masyarakat sudah terjadi sejak lama.


Lalu posisi kita ada di mana?! Yang pro atau yang kontra?! Bagi insan media sendiri tudingan tersebut dianggap nyiyiran, yang minim untuk ditanggapi. Kemudian apakah sejauh ini bentuk protes masyarakat telah diapresiasi dengan serta merta menghapus program yang menjadi kontrovesi. Tentu tidak begitu bukan...?!


Dan yang lebih lucu lagi walau banyak hujatan, rating sinetron x tetap tinggi. Televisi oh televisi, memang tayanganmu ampuh sekali, walau dihujat berbau kekerasan, konsumtif, sadisme, erotik, bahkan sensual. Kamu tetap saja ditongkrongi.


Sebenarnya semua kembali kepada individu tersebut, karena remot control tv pun, kita yang pegang bukan?! Industri media tak lebih hanya memikirkan rating dari program, terlepas apakah layak ditonton atau tidak. Walaupun pihak media sudah berusaha untuk meletakkan tanda D (Dewasa), BO (Bimbingan Orang Tua), SU (Semua Umur), namun tetaplah keluarga khususnya orang tua yang memegang kendali. Lebih selektiflah memilih tontonan buat anak-anaknya, kalau perlu didampingi, meski ironisnya pada jaman sekarang orang tua lebih memilih dengan gadgetnya dari pada mendampingi anak sendiri.


Hampir terlihat jelas bahwa tayangan televisi tak sepenuhnya menjadi penyebab atas keresahan para orang tua, akan perilaku anak. Karena sejatinya televisi bisa berdampak buruk, positif atau tak berdampak sama sekali. Lagi dan lagi, yang paling penting di sini adalah kualitas keluarga itu sendiri, dalam berkomitmen untuk memegang nilai-nilai baik dan akhlak islami.

?


Daripada protes kita tidak ditanggapi, lebih baik kita matikan televisi. banyak gagasan yang bermunculan, menjawab keresahan para masyarakat akan nilai-nilai yang akan luntur akibat tayangan Tv. Contoh Gerakan Matikan Televisi adalah gerakan? yang dicanangkan para pemerhati anak, dan pendidikan keluarga. Adapula Gerakan 1821, di mana dari jam 18.00-21.00 para orang tua di tantang unuk mematikan segala jenis kotak: Tv, Laptop, Hp, Mesin cuci, dan fokus untuk belajar, bermain dan ngobrol antar anggota keluarga. Ada juga Sehari Tanpa Tv, banyak gagasan bagus yang lebih layak untuk kita apresiasi dari pada larut dalam kontrovesi. Toh pada akhirnya kalo ratingnya turun, tayangan x akan tereliminasi.

Depok, 12 Feb. 2016

  • view 152