Medan Tempur Pemuda Masa Kini

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Februari 2016
Medan Tempur Pemuda Masa Kini

?Kepada pemuda: Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya? langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!?


Berikut merupakan ungkapan Buya Hamka untuk para pemuda, beliau mengingatkan akan sulitnya perjalanan para pemuda. Medan tempurnya dalam skala berat bahkan penuh dengan ranjau berduri. Lalu tinggallah pemuda yang akan memutuskan apakah dia akan mundur ke belakang atau maju gagah berani.


Namun bila melihat pemuda masa kini, rasanya hanya segelintir saja yang akan menyiapkan pundak yang kuat untuk tanggung jawab berat. Dari berbagai lembaga survei pun telah menunjukkan bahwa remaja indonesia hampir 31% lebih memilih gaya hidup hedonis dibanding menyibukkan diri dalam kegiatan yang bermanfaat. Mereka lebih cendrung memilih mejeng di mall, menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, membuat geng motor, menghabiskan waktu bermain game online, melihat konser musik,tawuran, ngebully teman, rebutan pacar, pergaulan bebas dll.


Berikut di atas, adalah sederet bahaya yang terus mengintai muda-mudi, pantaslah Buya Hamka berpesan pada kawula muda untuk menguatkan jiwa dan pribadi. Karena kehidupan ini keras, ombaknya bisa tiba-tiba menggulung, tiupan anginnya bisa merobohkan, kobaran apinya cepat menyambar. Jika kau tak sekuat karang, tergulunglah engkau bersama ombak dan gelombang. Jika kau tak siap jadi penampang, maka tiupan angin adalah lawan. Jika kau tak cepat menghindar maka kau akan hangus terbakar.


Mungkinkah kau biarkan tubuhmu hanyut tanpa sampai ke tujuan, jatuh ditiup angin hingga terinjak tiada nilai, menguap dengan asap sisa-sisa pembakaran?!? Sungguh hidup ini amat bernilai, untuk sekedar disia-siakan. Karena sejatinya, umurmu makin hari kian? berkurang. Setidaknya kau sempatkan sesaat untuk merenungkan. Bahwa di masa depan ada hati-hati yang tak sanggup menahan peri, untuk menerima kenyataan pahit jika kau karam dalam pergaulan. Akan ada lautan air mata yang tak bisa terbendung, kecewa, menyesal menanggung cela dan hinaan, hingga hanya jeritan nestapa yang kau dengar.


Tidak ada kata terlambat, untuk kembali melesat laksana kilat, dalam penggalan puisi Kahlil Gibran berjudul ?Anakmu bukan Anakmu!? ?Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan sang pemanah?. Perbaiki akhlak, perkaya pengalaman, dan teruslah belajar dengan begitulah masa depan akan kau genggam. Segala cita dan angan akan mudah kau gapai, hingga ungkapan ?Sepuluh pemuda mengguncang dunia? bukanlah guyonan. Salam Perubahan..!

?


Depok, 9 Februari 2016

?

Gambar dipinjam dari sini