Kenapa Ku Goreskan Tinta, dan Ku Tinggalkan Jejak

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Februari 2016
Kenapa Ku Goreskan Tinta, dan Ku Tinggalkan Jejak

?Pada usia ini, darah muda masih mengalir deras dalam diri, dan khayalan serta sentimen masih memenuhi jiwa? berikut merupakan salah satu ungkapan Buya Hamka yang? menjadi favoritku, sungguh memotivasi bahwa pada masa muda, ialah masa yang penuh imajinasi dan gairah tinggi apabila digunakan untuk hal positif maka tak ayal sesuatu luar biasa akan terjadi.


Kutipan selanjutnya adalah dari senior Denny JA ?menulis ibarat burung yang berkicau, berkicau tanda sehat, berkicau tanda hidup?. Lalu menulislah atau kau akan lenyap, bahwasanya sepintar dan sebanyak apapun ilmu seseorang apabila ia tidak menuliskan gagasan, ide, dan pemikirannya, maka dia akan hilang ditelan masa, berarti jelaslah bahwa menulis adalah mengabadikan eksistensi dan menyebarkan manfaat tanpa batas. Tak mengenal waktu, tak mengenal tempat, tak terhalang sesiapa saja yang mengambil manfaat.Pantaslah Imam Zarkasyi berkata ?Jika saya tak berhasil mengajar dengan cara ini, maka saya akan mengajar dunia dengan pena?. ?


Terlepas dari bagus atau tidak, sederhana atau biasa-biasa saja, mungkin ada satu atau dua kalimat yang mengilhami selainmu. Tak perlulah kecewa akan cibiran mulut-mulut hasad, hingga larut dalam rasa minder dan tergelincir dalam keterpurukan, karena selagi ada azzam dalam jiwa maka kita akan tetap menjadi kaya, karena miskin bukan berarti miskin harta-benda melainkan miskin tekad dan cita-cita.


Menuangkan tulisan mungkin hampir semua orang bisa, namun tak semua orang berpikir untuk membaginya dengan yang lain, maka pentinglah meninggalkan jejak agar siapa saja bisa menyelami manfaat dari lembaran-lembaran penuh hikmat. Agar menjadi amal jariah yang tak terputus selagi tetap bermanfaat. Mengutip Imam Zarkasyi ?karya yang bermanfaat merupakan salah satu bentuk ibadah dan realisasi ketakwaan serta menjadi ukuran kebesaran seseorang?.


Lalu satu ungkapan lagi yang membuat aku semakin penasaran ingin menulis yakni ?menulislah setiap hari, maka lihatlah apa yang akan terjadi? ungkapan penuh misteri tapi sungguh memotivasi. Jelas apapun itu yang akan terjadi nanti, yang ingin aku nikmati sekarang adalah proses perjuangan ini, seperti nasehat seorang penulis senior kepadaku Teteh Pipit Senja ?Menulis adalah Perjuangan? perjuangan menyelami lautan ilmu, perjuangan menghayati taburan hikmat, dan perjuangan menebar manfaat.


Mungkin aku sekarang hanya seorang amatiran yang tidak akan berhenti belajar. Karena sejatinya orang bodoh adalah yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya sekarang. Karena semesta ilmu masih sangat luas, jangan pernah bosan untuk memburu hikmat, dan hikmat akan tetap menjadi milik seorang mukmin (yang hilang) di manapun ditemukannya, maka ia berhak untuk mengambilnya.


Berikut pula amanat ayahandaku tercinta, bahwa ketika ideku tersesat di satu ruangan dan tak menemukan jalan keluar, maka beliau mengingatkan, ?Bahwa gelas keilmuanmu belum melimpah?, teruslah belajar, teruslah berlatih, teruslah mengkaji hingga ia melimpah dan menemukan jalannya untuk mengalir deras bersama tinta-tinta. Teruslah berkarya...!

Depok, 7 februari 2016

?

Gambar diambil dari sini

  • view 193