Trending Topic di Februari

syara mukti
Karya syara mukti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Februari 2016
Trending Topic di Februari

Valentine selalu menjadi trending topic di Februari, entah kenapa euforianya selalu digadang-gadangkan. Fenomena Valentine Day telah menyedot perhatian banyak kalangan terutama kawula muda nusantara. Hampir semua pihak tak mau ketinggalan menyemarakkan event ini, lagi-lagi dengan tujuan yang tak lain adalah promosi. Seakan terlihat bahwa event ini merupakan bentuk usaha mengelabui publik hanya untuk kepentingan melejitkan angka pemasaran produk masing-masing, mulai dari coklat, bunga, boneka,kartu ucapan, sampai ke produk yang lebih ekstrim lagi yang sengaja dibagi-bagikan? secara gratis yaitu ?kondom?. Jadilah Valentine Day ajang bisnis menggiurkan bagi kaum kapitalis. Umpan bisnis pun disebar lewat berbagai media baik elekronik maupun cetak, dari iklan, program televisi, spanduk dan sebagainya.


Sepenggal gambaran tadi merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang muncul dari selebrasi Valentine Day. Hari seks bebas juga merupakan salah satu sebutan yang melekat dengan Valentine Day, para muda-mudi seakan didukung untuk menjadikannya momen pembuktian cinta, hingga merembet ke arah yang lebih amoral yakni aktivitas seksual dalam skala serba terbuka. Angka penjualan kondom pun meningkat ke 40-80%.


Sebegitu parahnya, apa masih pantas selebrasi ini untuk dibela. Rasanya, kalo pembelaan dan dukungan terus diberikan pada kalangan pemuda dengan membebaskan mereka merayakan Valentine Day, mungkin nurani bangsa ini yang sudah cedera. Pembodohan atas nama cinta yang sarat kepentingan telah menyeret para generasi bangsa dalam musibah.


Lalu para pejuang HAM angkat bicara, selebrasi Valentine Day tidak sepatutnya dihujat. Atas nama toleransi, ohh begitu indahnya, inilah bentuk racun yang terselubung dalam manisnya coklat. Dan ketika para anak dara menangis pada ibunya, bahwa perawannya telah hilang bersama hari kasih sayang, siapa yang akan menanggung beban kepedihan. Sungguh mirisnya, seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul, jelas lebih berat penderitaan orang yang mengalami. Tinggal kemalanganlah yang merundung diri.


Jadilah fenomena sosial ini berubah menjadi fenomena krisis moral yang tak bisa diabaikan begitu saja.Banyak para pemegang kebijakan yang sebenarnya mampu meredam gejolak euforia perayaan Valentine Day, baik institusi pendidikan, pemerintah,terutama orang tua dll. Setidaknya siapapun itu yang memiliki nurani, menolak hal ini dengan bentuk usaha apapun yang dia bisa.


Ambil peranmu, selamatkan pemuda bangsa. Bagi orang tua rangkullah anak-anakmu lebih akrab, arahan yang bersahabat lebih diapresiasi mereka. Para pendidik sibukkan peserta didikmu dalam kegiatan bermanfaat, karena pemuda ingin selalu dilihat sebab darah muda masih mengalir deras. Siapa pun kamu, ada banyak cara untuk selamatkan generasi hebat.

?

Depok, 6 Februari 2016

?

Gambar diambil dari sini

  • view 212

  • Syahrul WriterPreneurship
    Syahrul WriterPreneurship
    1 tahun yang lalu.
    sip

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Kebaikan dan keburukan merupakan dua kata yang akan terus berlangsung hingga populasi manusia punah. Tak heran dengan apa yang menjadi tren dalam "Valentine's Day" yang sebenarnya maknanya sudah diselewengkan oleh para generasi muda. Arti sebuah kasih sayang yang suci namun maknanya berubah menjadi bencana moral dan banyak digandrungi. Jaman terus berubah dan berevolusi yang menggiring pada dekadensi moral. Akhir Jaman, ya ! memang itulah adanya. Kita berharap dan berdoa serta menyelamatkan orang terdekat kita dari hiruk-pikuknya jaman. Apalah diri kita yang tidak memiliki kekuasaan penuh (Pemerintah) untuk meniadakan momen ini. Seandainya ada Perda tentang tidak bolehnya mengikuti kegiatan Valentine, mungkin masyarakat indonesia akan akan terminimalisir dari penyelewengan "Valentine's Day".