Sufiks "Aken" pada Bahasa Jawa Cirebon

M. Syakir Niamillah Fiza
Karya M. Syakir Niamillah Fiza Kategori Lainnya
dipublikasikan 21 Februari 2016
Sufiks

Oleh Muhammad Syakir Niamillah

Dalam laman resmi kabupaten Cirebon, Cirebonkab.go.id, kabupaten Cirebon merupakan bagian dari wilayah propinsi Jawa Barat yang terletak di bagian timur dan merupakan batas, sekaligus sebagai pintu gerbang Propinsi Jawa Tengah.

Cirebon memiliki dua bahasa daerah, yakni bahasa Jawa Cirebon dan bahasa Sunda karena Cirebon merupakan daerah perbatasan antara dua bahasa besar, yaitu antara Bahasa Jawa di sebelah Timur dan Bahasa Sunda? di sebelah Barat dan Selatan.[1] Biasanya, di wilayah selatan atau yang berdataran tinggi, menggunakan bahasa Sunda, sedangkan di wilayah pantura menggunakan bahasa Jawa Cirebon. Namun bahasa Jawa Cirebon digunakan sebagai bahasa resmi karena pengaruh keraton-keraton Cirebon. Awalnya, Cirebon hanya memiliki satu kesultanan, yakni Kasepuhan. Lalu pecah menjadi empat, Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan.

Dalam buku Sosiolinguistik, Abdul Chaer dan Leonie Agustina menyatakan, dalam kasus bahasa Jawa dialek Banten dan bahasa Jawa dialek Cirebon, sebenarnya kedua bahasa itu sudah berdiri sendiri-sendiri, sebagai bahasa yang bukan lagi bahasa Jawa. Tetapi karena secara historis keduanya adalah berasal dari bahasa Jawa, maka keduanya juga dapat dianggap sebagai dialek-dialek dari bahasa Jawa.[2]

Dianggap berdiri sendiri karena sudah terlalu banyak perbedaan antara bahasa Jawa yang digunakan oleh kebanyakan masyarakat penggunanya. Perbedaan itu tidak saja pada kata untuk menunjukkan suatu arti, tetapi yang paling terlihat adalah aksen, intonasi, pula morfologinya. Memang, bila ditinjau dari perspektif sejarah, bahasa Jawa Cirebon berakar dari bahasa Jawa. Karena pengaruh letak geografisnya dan juga kedekatannya dengan bahasa lain, yakni Sunda, maka perbedaan itu sedikit melenceng jauh dari asalnya. Tapi karena memang asalnya adalah bahasa Jawa, maka bahasa Jawa Cirebon dianggap sebagai dialek dari bahasa Jawa.

Bahasa Cirebon itu sangat kaya ragamnya. Jangankan dibandingkan dengan daerah luar, masih dalam wilayah Cirebon sendiri juga sudah sangat terlihat perbedaan aksennya, bahkan dalam satu kecamatan dan lebih-lebih dalam satu desa sudah berbeda aksen dan bahasanya. Di desa Buntet, hanya terpisah kebun yang kurang dari 100 meter itu sudah berbeda bahasa. Sebelah timur kebun berbahasa Jawa Cirebon sedangkan sebelah baratnya berbahasa Sunda. Desa Mertapada Kulon bagian barat sangat berbeda bahasanya dengan bagian timur karena bagian barat dalam wilayah pesantren sehingga bahasa yang digunakan adalah bahasa dengan ragam krama inggil sedangkan di bagian timur itu terkenal dengan daerah yang banyak terdapat preman maka bahasa yang digunakan pun bahasa ngoko. Itu (desa Mertapada Kulon dan desa Buntet) masih dalam lingkup satu kecamatan, belum lagi beda kecamatan.

Dalam bahasa Indonesia dikenal sufiks kan ataupun konfiks me-kan, Jawa mengenalnya dengan ake atau nge-ake, sedang Sunda menyebutnya dengan keun atau nga-keun, adapun bahasa Jawa Cirebon mengucapkannya dengan Aken atau nge-aken menggunakan vokal tengah, bukan depan, atau bila kita transkripsikan ke dalam bentuk fonetis akan tertulis ak?n.

Dr. Nuryani dalam perkuliahan Sosiolinguistik yang saya ikuti pernah menyatakan bahwa bahasa di dunia ini terbagi menjadi dua, bahasa Austronesia dan Non-Austronesia. Tidak aneh bila bahasa di wilayah Asia Tenggara ini tidak jauh berbeda, termasuk dalam sufiks. Sufiks kan dalam bahasa Indonesia, pada asalnya merupakan akan dalam bahasa Melayu, namun berubah seiring berkembangnya bahasa. Sufiks aken dalam bahasa Jawa Cirebon sepertinya terpengaruh dengan sufiks keun dari bahasa Sunda. Namun karena bahasa Jawa sebagai akarnya masih sangat kuat sehingga penghalusan dengan nasalisasi itu tidak bisa diucapkan oleh orang yang berbahasa Jawa sehingga timbulnya hanya ken.

?

[1] Ayatrohaedi, Bahasa Sunda di daerah Cirebon, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), hal. 221

[2] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 63.

  • view 330