Jual Beli Perempuan, Laris Tapi Miris

Cahaya
Karya Cahaya  Kategori Buku
dipublikasikan 23 Januari 2016
Jual Beli Perempuan, Laris Tapi Miris

Buku ini cukup untuk membuat kita tak bisa bangun di pagi hari karena mengetahui semua ini terus berlangsung.

?Babi gendut yang mandi keringat itu hampir mencapai klimaks dan ia mulai menggumam, ?Oh, Natasha!? Natasha!?? Awalnya kupikir aneh juga rasanya dipanggil dengan nama lain.? Tapi aku segera menerimanya sebagai pelarian.? Ketika aku larut dalam pikiran dan impian, aku adalah Marika?yang bebas dari penjara ini.? Tapi ketika aku sedang bersama seorang laki-laki, aku menjadi seorang perempuan lain?pelacur bernama Natasha yang mati dan dingin dalam diriku.

Natasha adalah mimpi burukku.? Marika adalah penyelamatanku.? Aku tak pernah memberitahu nama asliku kepada semua laki-laki itu. Dan mereka tak pernah bertanya. ?Kami adalah fantasi seks mereka.? Manusia-manusia bejat itu berjalan masuk bordil dan sambil nyengir mereka memanggil ?Natasha!? seolah-olah kami ini semacam boneka Rusia.? Dan kami harus tersenyum dan menghampiri mereka.??

Itulah sepenggal cerita pilu salah seorang korban trafficking, Marika, dalam buku ini. Liputan investigasi yang dalam dan berani ini membuka mata kita tentang apa yang terjadi dalam dunia trafficking?lebih daripada sekadar industri seks, melainkan perbudakan sekejam-kejamnya.

Di tengah masyarakat modern yang konon menjunjung nilai humanistik (meninggikan harkat dan martabat manusia), kejahatan ini terus bergerak dan tumbuh pesat. Lebih dari dua juta orang di dunia terlibat ke dalam perdagangan seks global ini setiap tahun, baik sebagai pembeli ataupun penjual. Keuntungannya fantastis:? lebih dari 12 milyar euro per tahun (sekitar 144 triliun rupiah!) di seantero dunia.

Berbagai perangkap

Ada yang langsung diculik, ada yang sudah ditunggu ketika mereka keluar dari panti asuhan, ada yang ditipu dengan iklan pekerjaan di luar negeri. Modus terakhir paling banyak. Mereka diiming-imingi pekerjaan yang layak dan gaji banyak, seperti menjadi pengasuh anak di Yunani, pekerja rumah tangga di Italia dan Prancis, pelayan di Austria dan Spanyol atau menjadi model di Amerika Utara dan Jepang.

Kenyataannya, Menurut malarek, para Natasha itu dikirim ke seluruh penjuru dunia. Mereka hadir di jalan-jalan daerah lampu merah di Austria, Italia, Belgia, dan Belanda. Mereka mengisi rumah-rumah bordil di Korea Selatan, Bosnia, dan Jepang. Mereka bekerja tanpa busana di panti pijat di Kanada dan Inggris. Mereka dikurung sebagai budak seks dalam apartemen di Uni Emirat Arab, Jerman, Israel, dan Yunani.

Mereka dijual ke mucikari, brothels, dsb., dipaksa melayani lusinan-puluhan laki-laki semalam, tidak mendapat cuti sakit atau cuti haid, dan bahkan tidak dibayar untuk kerja mereka. Semua uang masuk ke kantong si mucikari. Sering mereka disekap beramai-ramai di sebuah kamar, jendelanya dipaku dan pintunya dijaga oleh penjaga yang kekar, tidak boleh keluar. Beberapa bahkan disekap di ruang bawah tanah tanpa ubin dan tanpa kamar mandi, hanya diberi makan satu hamburger per hari dan hanya dipanggil keluar ketika dibutuhkan untuk seks. Dan, ketika mereka ?terlalu tua, terlalu sakit, atau terlalu terjangkiti penyakit, mereka dibuang begitu saja.? (hal. 9).

Mudah, Murah, Laris

Sebagai wartawan, Malarek ikut beberapa aksi penggrebekan, mengobrol langsung dengan bos mafia, dan menemukan: ternyata amat mudah membeli perempuan untuk industri seks. Hanya butuh koneksi dan sebuah panggilan telepon. Begitu sebuah brothel ditutup, misalnya, dan para perempuannya dipulangkan, dalam seminggu mereka bisa mendapat ?fresh meat? dan siap beroperasi kembali. Harga satu perempuan cantik dan muda bisa $10,000, tapi dalam seminggu modal itu bisa kembali dan setelahnya laba murni. Bahkan, sekarang mereka bisa dilelang lewat Internet.

Singkatnya, dengan keuntungan luar biasa, kemudahan transaksinya, dan hukuman yang ringan, wajar saja industri ini bisa berkembang sepesat-pesatnya.

Tak Peduli dan Korupsi

Selain itu, ?yang berwenang? pun sepertinya tidak peduli. .Malarek menggambarkan bagaimana sikap banyak politisi dan polisi yang acuh tak acuh dalam menindak kasus trafficking ini. Mereka mengetahui dan mendengar tapi tak mau berbuat apa-apa. Bahkan, mereka termasuk pihak yang terus mendapatkan keuntungan material dari "perangkap" prostitusi yang bertentangan dengan hak azasi manusia ini.

Ketika tertangkap, banyak bos mafia, mucikari, pemilik brothels ini hanya mendapat hukuman ringan: tiga bulan sampai 2 tahun penjara dan denda yang tak seberapa dibanding penghasilan mereka memperbudak lusinan gadis. Sedihnya lagi, jika pun terselamatkan, gadis-gadis ini tidak diberi perlindungan saksi dan sebagian besar hanya langsung dipulangkan ke negara asalnya. Di sana mafia sudah menanti dan menciduk mereka kembali. Beberapa dibunuh karena berani bersaksi melawan mucikarinya.

Malarek juga secara detail dan lugas mengungkapkan berbagai korupsi yang dilakukan para petugas perdamaian PBB di Serbia, Kosovo dan Bosnia. Termasuk berbagai skandal prostitusi yang melibatkan Eropa, Israel, dan AS

Bagaimana dengan kita?

Buku ini bisa jadi cermin bagi masalah serupa di Tanah Air. Di Indonesia kasus traffcking bukanlah fenomena baru. Manajer Program IOM Indonesia, Elizabeth Dunlap, mengungkapkan korban trafficking pada periode Maret 2005 sampai Januari 2008 mencapai 3.042 orang. Yaitu bayi perempuan (5), anak perempuan (651), anak laki-laki (134), perempuan dewasa (2.048), dan pria dewasa (206). Dalam standar nasional, biasanya mereka dijual di Batam, Riau, Bangka Belitung, Manado, Papua, DI Yogyakarta, DKI Jakarta. Pada skala internasional, mereka banyak dijajakan di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, Australia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Mesir, Palestina, Jordania, Eropa, Inggris, dan AS (Kompas:18/2008).?

Data tersebut bukanlah data yang pasti dan keseluruhan, karena kasus trafficking merupakan kejahatan yang sangat ilegal, tersembunyi, dan terorganisasi dengan rapi sehingga tidak bisa dideteksi kepastiannya.

Meskipun telah disahkan UU No. 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) tetapi sampai saat ini perdagangan manusia terutama perempuan, masih tetap marak di dunia dan bahkan menjadi konsumsi umum yang diekspos di media, tentang perempuan menjadi korban dan dikorbankan.

Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat, tahun 1999 hingga Desember 2007 terdapat 514 kasus. Dengan perincian melibatkan 1.015 orang dewasa (81 persen) dan 238 anak (19 persen). Dari jumlah itu, 422 pelaku ditangkap dengan 278 kasus dalam peradilan, dan 274 kasus dalam penyidikan. (Kompas 18/2008).

Harus berbuat apa?

Jelas, tutur buku ini, tak satu pun negara atau lembaga yang bisa memerangi trafiking secara efektif sendirian. Sindikat kejahatan ini bergerak internasional.

Kita perlu tekad bulat dan komitmen tegas seluruh dunia untuk mengatasinya. Pemberantasannya harus menjadi kewajiban moral, legal, dan politis. Salah satunya adalah ratifikasi protokol antitrafiking PBB di seluruh dunia dan pelaksanaannya dengan serius.

Kita juga perlu membereskan faktor pendorongnya?kondisi ekonomi dan sosial yang mendorong kaum perempuan pergi dari tanah airnya untuk mencari pekerjaan. Tanpa itu, para pelaku trafiking akan terus punya tempat perekrutan yang subur di antara kaum perempuan yang miskin..Negara harus mencari cara membantu para perempuan itu, tidak hanya dengan pelatihan kecakapan kerja tetapi juga tawaran pekerjaan yang tak menuntut mereka menanggalkan pakaian. Tanpa itu, para pelaku trafiking akan terus punya tempat perekrutan yang subur di antara kaum perempuan yang miskin.

Tidak seperti Jakarta Undercover, Malarek benar-benar terkesan peduli. Ada call-to-action. Buku ini cukup untuk membuat kita tak bisa bangun di pagi hari karena mengetahui semua ini terus berlangsung. Para ?Natasha?? bukanlah pelacur yang memang memilih sendiri secara sadar ?profesi tertua di dunia? ini. Mereka adalah budak. lantas siapakah yang peduli?

?

Foto diambil dari: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=460571250630376&set=a.445350115485823.98824.100000325147928&type=3&theater

  • view 839