Tatapan Sukinem

Cahaya
Karya Cahaya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Januari 2016
Cerpen

Cerpen


Kategori Acak

819 Hak Cipta Terlindungi
Tatapan Sukinem

Oh Sukinem, aku tak mengerti kenapa kau mencintaiku. Kau laksana bulan jelita yang terbit di atas pusaran Jawa. Bahkan, siang seakan lupa menggantikan malam karena ia terkesima memandang wajahmu. Kau adalah representasi keindahan Candi Prambanan yang bersemayam kecantikan Sang Putri Roro Jonggrang.

Sehari setelah kita jadian, aku masih tak percaya. Kenapa? Karena dalam mimpi pun tak mungkin bakal terjadi. Bagiku ini sebuah keajaiban dari kekuatan magis atau kekuatan cinta buta; ketika matamu tak mampu melihat namun hatimu merasakan debarannya. Aku sampai menelungkupkan pahatan mukaku ke dalam bantal supaya hatiku yang riuh menjadi tenteram.

Sejujurnya oh Sukinemku, sejak kejadian itu, sejak kakekku yang sudah meninggal dan baru saja kumaafkan membawaku ke tukang cukur, bencana itu menimpaku. Aku, semula merasa bak pangeran kecil tampan dengan rambut ikal keemasan yang panjang tiba-tiba berubah menjadi anak lelaki buruk rupa. Melalui cermin besar yang? terpampang di atas kepalaku, aku melihat diriku seperti seekor kodok yang baru dikutuk oleh nenek sihir. Aku tak percaya bagaimana perubahan drastis ini terjadi.

Dari salon aku langsung pulang ke rumah dalam keadaan marah. Aku ingin mengadukan apa yang terjadi padaku kepada ibuku. Aku tidak memercayai kaca laknat itu. Aku hanya percaya pada apa yang selalu dikatakan ibuku kalau aku ini rupawan. Sesampainya di rumah, tak kusangka, aku merasakan sesuatu yang lain. Mereka, termasuk ibuku yang biasanya matanya memancarkan kasih berubah menjadi ekspresi kaget dan tatapan aneh.

Oh Sukinem, bidadariku, kau tak kan bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Aku menangis tersedu-sedu dan mempertanyakan apa kenakalanku sampai aku pantas menerima semua ini? Aku ingin tetap tampan dan menjadi pusat perhatian di keluargaku. Tapi suara batinku malah mempertanyakan masihkah itu mungkin??

Sukinemku, cintaku, kiranya bagaimana kau menatapku? Tiga hari setelah kita jadian, aku masih bertanya kenapa kau mencintaku? Aku masih bimbang mau melihat diriku di cermin yang sudah lama kukubur di samping jasad kakekku. Apakah mukaku sudah berubah lagi meskipun aku tidak pernah pergi ke dokter permak wajah?

?Ah, kau banyak bertanya, aku mencintaimu sebab cinta tak butuh alasan,? katamu. Kau benar, cinta tak memiliki definisi tapi frekuensi rasa. Kau merasakan suatu getaran padaku meski sulit kau jelaskan. Selamat sayangku, menurut Sang Filsuf Erick Fromm, kau telah mencapai tingkat cinta yang paling tinggi: ketika kau mampu mencintai dengan penuh kesadaran. Jawabanmu itu membuatku seperti terlahir kembali. Aku menjadi pemeran utama dalam sebuah dongeng, seorang pangeran yang dikutuk bertemu dengan seorang gadis cantik yang mencintainya dengan tulus, maka kutukannya langsung hilang. Aku kembali menjadi manusia yang meskipun aku ragu apakah ketampananku juga kembali. Bagiku itu tidak lagi penting.

Sukinem binti H. Abdul Majid, cintamu seperti hujan yang menyelamatkan keindahan langit dari kabut legam yang menyelimutinya. Aku mulai menyembulkan kepalaku dari tempurung, tempat persembunyianku. Aku tak hanya tampil apa adanya di depanmu, tapi aku juga mulai berani menampakkan diriku di hadapan mereka. Rasanya aku telah membunuh ketakutanku. Aku mulai kritis dan sensitif terhadap semua bentuk ketidakadilan yang kurasakan. Lambat laun aku pun gencar menyuarakan perasaan-perasaanku yang selama ini terpendam. Pita suaraku bergerak ketika aku menyaksikan ulah para koruptor yang menipu dan menyengsarakan rakyat, mengecam kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, dan berkongsi dengan para mahasiwa untuk melakukan demo menurunkan pejabat-pejabat yang tidak pantas untuk memimpin. Itu semua karena pesonamu yang membakar geloraku.

Oh Sukinem, pujaanku, aku menjadi tenar sebagai seorang aktivis kemanusian. Tentu aku tak pernah melupakanmu sedetik pun meskipun aku sibuk. Kau adalah sinar, sedangkan aku hanya pancaranmu. Jika kau redup, aku akan menjadi malam gelap kelabu. Dalam setiap kesempatan, dengan bangga aku menyebut namamu sebagai kekasih hidupku. Tak jarang aku juga menggambarkan pada mereka rasa gula aren senyumanmu. Tapi malangnya, tak banyak yang percaya pada kataku-kataku bahwa kau kekasih hatiku seperti saat mereka terhipnotis dengan kalimat-kalimatku ketika aku menjadi orator para demonstran. Mereka meledekku berhayal tinggi untuk memiliki pasangan sempurna sepertimu meskipun setiap hari mereka melihatmu di sisiku.

Ada kalanya angin usil mengundang kabut untuk membuat satu titik kecemasan dalam hatiku. Aku bukan tak percaya padamu, lebih tepatnya aku hanya ingin memuaskan jiwa tirani yang selama ini menjajahku dan ternyata masih mengendalikanku. Aku ternyata tak bisa mengacuhkan kelekar teman-temanku. Urat sarafku rasanya menjepit otakku saat aku mendengar, ?Perempuan secantik dia tak mungkin mencintaimu, Kawan. Dia mencintaimu hanya karena membutuhkanmu.? Aku sudah berusaha untuk tak mengindahkannya, sayangnya aku gagal. Tepat tiga bulan kita menjalin kasih, aku kembali mempertanyakan kenapa kau mencintaku? Karena ternyata tiang yang mengibarkan proklamasi cinta kita mulai bergoyang karena tatapan ketakpercayaan mereka. Aku membutuhkan jawabanmu cepat. Tapi jawaban dari seorang malaikat penyelamat.

?Aku mencintaimu karena kita sehati,? jawabmu. Saat kau mengucapkannya, kau memang tak menatapku. Aku menyaksikan kau menundukkan paras cantikmu. Senyummu terlihat begitu manis meski aku memandangmu dari samping. Aku tahu gerak-gerikmu menunjukkan kau malu. Maafkan aku, gadisku.

Aku terus tersenyum. Saat aku duduk di sampingmu dengan jarak satu senti, ingin sekali aku mengecup keningmu tapi aku tak berani. Sejak kita jadian, aku memang belum pernah menciummu, sebab kau hanya memperbolehkan aku memegang tanganmu. Kau bilang, kata bapakmu, ?Perempuan harus tetap mawas diri sebelum datang utusan.? Kau terus mengatakan itu setiap kali aku ingin menempelkan bibirku di bibirmu. Aku memang masih belum menyuntingmu, karena aku ingin mempersiapkan diriku secara lahir dan batin. Jiwaku baru ?terjaga? dan secara materi aku juga masih belum memiliki apa-apa. Meskipun aku hanya pantulan cahayamu, tapi cita-cita yang nempel dalam relung jiwaku adalah hidup berkecukupan denganmu dalam istanaku.

Tentu cinta adalah cinta. Seperti kata Marx, sang filsuf nyentrik itu, cinta hanya dapat ditukar dengan cinta, kepercayaan dengan kepercayaan, dan seterusnya. Dengan pernyataanku itu, bukan maksudku mau menukar cintamu dengan pemberian material yang ingin aku sediakan untukmu nanti.

Aku hanya punya alasan untuk membahagiakanmu dengan materi. Bagiku material salah satu elemen penting untuk membangun sebuah keluarga. Semua itu karena aku berkaca pada masalaluku. Aku sangat mencintai ibuku dan ayahku. Namun ayahku meninggalkan kami untuk selamanya. Aku menerima kepergiannya karena aku tahu tak ada yang selamanya mampu bertahan hidup seperti halnya pohon beringin tua di samping rumahku, peninggalan nenek moyangku yang akarnya mencengkram ke bumi tiba-tiba tumbang karena angin puting beliung. Dari situlah aku mengerti tentang hidup. Aku tetap senang hidup berdua dengan ibuku, sebab ia memberikan cinta yang aku butuhkan. Namun ternyata semua itu tak bertahan lama, karena kondisi perekonomian kami, ibuku harus menikah dengan lelaki lain demi menopang hidup kami. Saat itulah hidupku tampak menyedihkan, cinta dan perhatian ibu tak lagi berlimpah untukku karena dibagi dengan bapak tiriku. Dan aku bersumpah, aku harus berkerja keras demi kesejahteraan hidup istri dan anakku meskipun nanti aku meninggal.

Sukinemku, maafkan aku. Aku yakin kau bukan perempuan matre. Kau memilihku bukan untuk mencari keuntungan materi, sebab kau tahu aku tak punya apa-apa. Kau juga tak sedang kesepian, sebab kau tak membiarkan aku atau menciptakan kesempatan untuk melampiaskan instink hewaniku. Cintamu memang cinta murni untukku. Karenanya aku optimis, cinta kita adalah manisfestasi benih-benih cinta kemanusiaan yang akan kita sebarkan nantinya.

?Jika dia benar-benar mencintaimu, ajaklah dia ke pelaminan. Kalau dia mau dalam kondisimu yang sekarang ini, berarti cintanya memang tulus,? kata kawanku suatu hari. Aku ingin mengabaikan tantangannya, tapi aku tak sanggup. Ini bukan soal diriku tapi demi kehormatan Sukinemku yang dilecehkan oleh mereka.

Menjelang sore saat sedang menunggu pentas Sendratari Ramayana yang akan mulai tampil pukul 19.30. Aku dan kau duduk di Gazebo, Purawisata. Ada banyak stok cerita untuk mengisi waktu kita, termasuk kau bercerita tentang buku berjudul Cinta Kontroversial Yusuf dan Zulaikha terbitan Lentera Hati yang baru saja kau selesai baca dan katamu bagus. ?Cinta yang penuh perjuangan dan pengorbanan memang layak untuk kisahkan.?

Aku tiba-tiba berpikir untuk membicarakan sesuatu padamu. Mumpung momennya kita membicarakan cinta. ?Sayang, meskipun cinta kita tak sekontrovesi Yusuf dan Sulaikha, tak seheroik Laila dan Majnun, juga tak sedramtik Arjuna dan Drupadi, cinta kita lebih layak untuk dikenang, diperbincangkan, dan dijadikan contoh sebagai cinta suci oleh generasi berikutnya. Kemurnian cintamu seharusnya diperingati sebagai hari kasih sayang yang dirayakan setiap bulan,? kataku menyanjungmu. Kau hanya menanggapinya dengan senyuman yang manis sekali seakan kau menyerap rasa manis tebu untuk menambah kemanisan senyumnu.?

?Sayang, kenapa kau mencintaiku?? pertanyaanku ini dalam sekejap mengubah air tebu menjadi air comberan yang keruh. ?

?Kenapa kau selalu bertanya seperti itu setiap tiga bulan sekali. Aku bosan dengan pertanyaanmu. Kau kira untuk apa aku bertahan selama ini denganmu?? ucapmu ketus. Kau bangkit dan hendak meninggalkan aku. Tapi aku berhasil menenangkanmu. Ini untuk pertama kalinya kau marah padaku. Aku merasa sangat bersalah. Aku mengutuk diriku juga pada temanku.

Aku tak dapat memejamkan mataku karena jiwaku gelisah. Aku ingat ekspresi kecewamu. Oh Sukinem sayangku, aku janji tak akan bertanya lagi padamu untuk yang kelima kalinya. Semoga kau berusaha tuli dari bisik-bisik mereka, sebagaimana aku berusaha buta dari tatapan mereka tentang cinta kita. Sebab aku tidak mau kehilangan dirimu seperti aku berjarak dengan keluargaku. Aku tidak mau lagi melarikan diri dari kehampaan dengan membenamkan wajahku dalam petikan huruf dan memajangnya di dalam bangunan tua tempat buku-buku tebal berjejer.

Sukinem, bidadari yang mendarat di bumiku, pembawa pesan cinta dari langit, kini, saat aku membaca, buku itu berisi pujian-pujian untukmu yang kutuliskan dengan gairah dan geloraku. ?Cinta bukan lagi kesunyian saat kau datang membawa selimut sutra. Sebab purnama tercebur dalam dirimu kala khayalnya menuai bara.?

Sukinem, aku terus menulis tentangmu di sela-sela kesibukanku. Hari-hariku dipenuhi dengan aksi untuk meneriakkan kebenaran pada keegoisan pemerintah, cengkeraman kaum borjuis, dan kesombongan kaum intelektual tapi api itu tetap menjadi penerang kala bersamamu.

Tiga bulan dari tiga bulan selama dua belas bulan hubungan kita, di suatu malam bulan sabit, tepat tanggal tiga, ba?da Isya, pada malam Jumat, kita bertemu di rumahku. Kau tak mau masuk ke dalam, sebab katanya kau ingin mendengarkan nyanyian jangkrik yang telah kau pesan. Hal yang tak biasa darimu malam ini, kau memintaku untuk tidak menerima tamu seorang pun yang menemuiku sehingga aku menyewa tukang ojek berjaga di ujung lorong rumahku.

Sukinem, apa pun permintaanmu aku turuti. Aku tahu ini bagian dari protes radikalmu atas waktuku yang selama ini tersita untuk aktivasku yang sering tanpa kehadiranmu meskipun setiap hari, walau sebentar kita bertemu. Aku senang, aku suka, sebab aku sangat membutuhkanmu. Aku juga ingin mengutarakan hal besar padamu. Dalam keberduaan kita, aku ingin berbaring di pangkuanmu seperti dulu, baru dua kali aku melakukannya. Dan aku ingin melakukannya lagi sambil ingin merefresh pertanyaan, ?Kenapa kau mencintaiku??. Namun aku langsung menampar mulutku dan ingin mengulangi menamparnya lagi tapi kau menahan tanganku. Aku lupa kalau kau pernah marah saat aku mempertanyakan keempat kali. Aku hanya rindu dengan jawaban manismu saat aku bertanya pada pertama, kedua, dan ketiga kalinya.

?Parjo, aku tak tahu harus berkata apa. Aku ke sini hanya ingin bilang, kalau aku mau mengakhiri hubungan kita,? katamu jelas dan padat. Aku bangkit dari tidurku. Aku menatap lekat matamu yang perlahan menurun. ?maafkan aku ya, aku harus pergi sekarang,? lanjutmu.

Saat kau pergi dalam ketertegunanku yang tanpa ekpresi, aku lunglai. Gambarannya, ketika aku sedang asyik bercinta denganmu dan sedikit lagi mencapai orgasme, tiba-tiba malaikat maut datang menghampiriku. Kemanakah perginya rasa kenikmatan itu?

Kini, aku ingin melihat cermin. Aku ingin tahu apakah rupaku sudah berubah lagi? Apakah kau berhenti mencintaiku karena kau melihatku jelek seperti mereka memandangku? Apakah dalam sangkaanmu aku tidak pintar lagi seperti tuduhan bapak tiriku? Sebab karenamu cadangan kepercayaan diriku terkuras dalam sekejap.

Tidak! Aku menolak jatuh berkali-kali karena pandangan orang lain, termasuk kau!!! Aku tidak boleh ditentukan oleh pandangan kau atau siapa pun baik itu positif atau negatif. Aku memilih perlawanan. Aku manusia. Aku punya kebebasan penuh atas diriku yang tak bisa ditentukan oleh siapa pun. Di depan cermin, aku pun berpidato; bahwa sesungguhnya kebebasan itu adalah diri manusia yang tidak ditentukan dan tidak diembel-embeli oleh apa pun.

Pada petualangan cinta selanjutnya, aku memilih kebebasan!

?Aku ingin terbang tinggi seperti elang

Melewati siang malam menembus awan

Ini tanganku untuk kau genggam

Ini tubuhku untuk kau peluk

Ini bibirku untuk kau cium

Tapi tak bisa kau miliki, aku ...?

Lagu ?Elang?, Dewa 19 menjadi favoritku dan aku pun dikenal dengan Si Penakluk Perempuan Berhati Dingin.[]

*Foto diambil dari?https://www.facebook.com/photo.php?fbid=333622766658559&set=a.333621949991974.78866.100000325147928&type=3&theater


  • Tukang Kutip
    Tukang Kutip
    1 tahun yang lalu.
    "Aku tidak boleh ditentukan oleh pandangan kau atau siapa pun baik itu positif atau negatif. Aku memilih perlawanan. Aku manusia. Aku punya kebebasan penuh atas diriku yang tak bisa ditentukan oleh siapa pun. Di depan cermin, aku pun berpidato; bahwa sesungguhnya kebebasan itu adalah diri manusia yang tidak ditentukan dan tidak diembel-embeli oleh apa pun."

  • Anick Ht
    Anick Ht
    1 tahun yang lalu.
    keren...

  • Abdullah Sajad 
    Abdullah Sajad 
    1 tahun yang lalu.
    wow