Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 4 Mei 2018   21:17 WIB
Bukan Ego Seorang Pendidik

Akulah ratu kelas.

Akulah pembuat peraturan.

Akulah juara dan kebenaran dari setiap pertikaian.

Benarkah ini hanya sebatas ego-ku saja yang selalu ingin menjadi pemenang dan pengatur segalanya saat mendidik mereka?

Aku akan meminta mereka mengulang berkali-kali jika tidak sempurna dalam berwudhu dan tidak tertib ketika shalat.

Tidak peduli walau harus belasan kali, walau harus menyita waktu bermain mereka bahkan menghilangkan waktu istirahatku sendiri. Dan aku tetap tidak peduli meski mereka hanya si mungil yang baru berusia 6 tahun.

Persembahkanlah ibadah terbaikmu Nak, kepada Zat yang Maha Kuasa atas segala pergerakan sendi-sendi tubuhmu.

Bukankah idola kita semua berkata bahwa "Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat." (HR. Tirmidzi)

Aku tidak akan menyerah membuat anak yang sedang memukul untuk segera menghentikan aksinya. Entah dengan nasihat atau dengan balasan pukulan yang setimpal oleh orang yang didzaliminya. Tidak peduli walau pukulannya kadang meleset ke arahku. Tidak peduli walau pelajaran matematika harus terhenti. Aah andai semua orang sadar, bahwa adab lebih penting daripada "kali bagi tambah kurang".

Nak, orang yang kau pukul adalah saudara sesama Muslimmu. Tahan hawa nafsumu. Sudahi pukulanmu. Ibu menghargai kekuatanmu. Tapi, pukullah orang yang tepat. Di luar sana masih banyak orang yang lebih layak kau pukul. Orang-orang kafir yang tak ada hentinya menjajah negeri Palestina. Kau masih ingin tetap memukul? Mari Ibu antar kesana.

Bukankah qudwah terbaik kita pernah berpesan bahwa “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah” (Muttafaqun ‘Aleih)

Aku akan selalu mencari cara untuk membuat mereka menjadi orang yang jujur sekalipun hanya dalam permainan sepak bola. Kenyataannya, bukan hanya orang dewasa yang sering bertikai karena permainan ini, anak kecilpun sama. Ku tanyai seluruh rekan yang ahli dalam peraturan bermain sepak bola yang benar. Tidak peduli walau harus menjadi wasit dadakan demi mengawasi permainan mereka. Tidak peduli meski mereka kesal dan terganggu saat ingin mencoba berbuat curang dan aku tahu. 

Nak, untuk apa kau menang tapi dengan cara yang curang? Itu bisa membuatmu tidak diakui sebagai umat Nabi kita.

Bukankah Superhero kita berpesan bahwa "siapa yang curang bukan termasuk golongan kami. (HR. Muslim).

Aku tidak akan lupa mengingatkan mereka untuk tidak makan dan minum sambil berdiri bahkan berjalan, apalagi tidak berdoa. Meski harus 300 kali per-hari untuk satu orang. Aku tidak akan membiarkan mereka melanjutkan 1 kunyahanpun sampai dia sudah benar-benar berdoa lalu duduk menghadap meja dengan kaki yang rapi.

Nak, yang kita cari adalah berkahnya sarapan, catatan malaikat Rakib saat kita berdoa menjelang makan siang, dan murkanya iblis saat kita tidak menyisakan makan malam buat mereka karena terhalangi oleh adab makan yang disukai Allah. Bukan hanya sekedar rasa kenyang dan terpenuhinya nafsu makan kita.

Bukankah Nabi kita pernah memberi nasihat bahwa “Apabila salah seorang di antara kalian hendak makan, maka ucapkanlah: ‘Bismillaah’, dan jika ia lupa untuk mengucapkan bismillaah di awal makan, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaah awwaalahu wa aakhirahu’ (dengan menyebut Nama Allah di awal dan akhirnya). (HR. Abu Dawud).

Tidak ada sedikitpun hasrat dan ambisi mencari kepuasan untuk memenangkan perdebatan dengan murid saat mereka melakukan kekeliruan.

Bahkan saat aku melemparkan seluruh barang yang dia punya oleh sebab dia yang melemparkan barang-barang milik temannya terlebih dulu, bukan karena aku ingin bermain lempar-lemparan barang dan mengajarkan sifat pendendam kepadanya. Bukan. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang suka didzalimi, sekalipun manusia itu pernah mendzalimi orang lain dengan perbuatan yang sama.

Sumber gambar :

http://www.emplea.universia.es/informacion/candidato_ideal/estudia_master/MBA/

Karya : Syaima Ressa