Rabi'ah Bin An-Nashr

Syaima Ressa
Karya Syaima Ressa Kategori Project
dipublikasikan 14 April 2018
Di Balik Penantian

Di Balik Penantian


Tak hanya kami (sebagai umatmu) yang rindu, orang-orang sebelummu pun menanti. -Kisah kisah sebelum Rasulullah SAW lahir-

Kategori Non-Fiksi

224 Tidak Diketahui
Rabi'ah Bin An-Nashr

Ternyata, setelah rombongan Amr bin Amir hijrah dari Yaman, ada cicitnya yang tertinggal disana. Beruntung, ia selamat dari banjir Bendungan Ma’rib itu. Kemudian  menjadi raja di Yaman.

Ketika sedang menjadi raja, Rabi’ah mengalami mimpi yang sangat menakutkan. Ia memanggil semua dukun, penyihir dan ahli nujum. Mereka bertanya apa yang dimimpikan sang raja sampai merasa ketakutan. Tapi, Rabi’ah tidak puas jika menerima jawaban arti dari mimpi itu dengan menceritakan terlebih dahulu apa yang ia mimpikan. Akhirnya, salah seorang dari mereka menyarankan untuk memanggil Sathih dan Syiqq. Lalu Rabi’ah mengutus seseorang untuk menemui mereka berdua.

Sathih datang lebih cepat dari Syiqq ke istana. Tanpa bertanya terlebih dahulu ia langsung menebak mimpi Rabi’ah. Isi mimpinya tentang penglihatan Rabi’ah terhadap benda hitam yang keluar dari tempat gelap, kemudian benda tersebut jatuh ke tanah datar dan semua makhluk memakannya. Rabi’ah lalu membenarkan tebakan tersebut dan Sathih menjelaskan bahwa arti dari mimpi itu kelak orang-orang Habsyi (Habasyah) akan menguasai Yaman setelah masa Rabi’ah, dari Abyan hingga Juras. Kekuasaan mereka tidak berlangsung lama karena orang-orang Habsyi akan dibunuh dan diusir oleh Iram bin Dzi Yazan dan tidak ada yang tersisa di Yaman. Namun, kekuasaan Iram pun akan dihentikan oleh seorang Nabi dan Rasul dari Bani Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. Dan kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya hingga akhir zaman. Ramalan Sathih lalu ditutup dengan kabar bahwa zaman terdapat akhirnya dan kelak semua makhluk akan diminta pertanggung jawaban.

Syiqq datang kepada Rabi’ah dan menebak mimpi juga. Tebakan Syiqq hampir sama dengan tebakan Sathih yaitu melihat benda hitam yang keluar dari tempat gelap, benda tersebut jatuh di antara padang rumput dan anak bukit. Kemudian ia dimakan semua makhluk hidup. Syiqq menjelaskan bahwa maksud dari mimpi Rabi’ah adalah orang Sudan akan singgah di Yaman, berkuasa antara Abyan hingga Najran. Kekuasaan mereka terjadi setelah zaman Rabi’ah. Namun, tidak berlangsung lama karena ada anak muda yang tidak rendah diri keluar dari rumah Dzi Yazan menemui mereka dan tidak menyisakan seorang pun di Yaman. Kekuasaan anak Dzi Yazan akan berakhir karena dihentikan oleh seorang Rasul yang membawa kebenaran dan keadilan. Lalu Syiqq menjelaskan bahwa setelah zaman berakhir akan ada hari pengadilan.

Pada akhirnya, ramalan Sathih dan Syiqq sebetulnya mengabarkan bahwa setelah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan, kelak akan lahir seorang Nabi dan Rasul yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam hingga akhir zaman.

Sungguh, ucapan Sathih dan Syiqq benar-benar membekas di hati sang raja. Sampai akhirya ia menyiapkan anak-anak dan keluarganya pergi ke Iraq untuk berhijrah, agar keturunannya selamat dari peperangan yang akan terjadi setelah masa Rabi’ah bin An-Nashr berakhir. Ia mengirimkan anak keturunannya kepada raja Persia Sabur bin Khurrazadz. Mereka ditempatkan di Al-Hirrah (dekat dengan sungai Tigris dan Euferat). Sedangkan Rabi’ah sendiri tinggal di Yaman hingga meninggal.

 

Sumber : Kitab Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam  

Sumber peta :

http://www.iranicaonline.org/articles/hira

  • view 81