Metamorfosa Peri (Part 1)

Syaima Ressa
Karya Syaima Ressa Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Metamorfosa Peri (Part 1)

Dia adalah anak perempuanku, dia ingin sekali menjadi peri. Mungkin Tuhan sudah merekrut dia menjadi peri sejak lahir. Siapa yang ingin anaknya jadi peri? Semua ibu ingin anaknya menjadi seorang ratu. Menjadi peri memang bukan suatu penderitaan. Tapi, tetap saja. Aku tidak rela. Bukankah hak menjadi seorang ratu tidak hanya dimiliki orang berparas cantik? Atau mempunyai sekantong emas menjadi syarat mutlak penobatan seorang ratu? Atau harus terlahir dari pasangan raja dan ratu? Ini tidak sesuai fitrah, karena dia tidak dapat memilih lahir dalam keturunan mana.
Pagi itu, dia lahir ke bumi. Dulu, bumi masih indah. Dengan segala kesederhanaan yang ada, aku yakin dia tetap bisa menjadi manusia yang bahagia. Sekalipun ayahnya sedikit kecewa, karena dia perempuan. Hanya itu saja, satu-satunya alasan kecewa seorang ayah yang mungkin suatu hari akan menyakiti anaknya. Tidak, aku tahu betul. Sebenarnya saat itu ayahnya merasakan kebahagiaan yang sama denganku. Dia hanya khawatir, apa anak pertama perempuan bisa sekuat lelaki? Apa dia bisa menjaga adik-adiknya kelak? Aku tahu itu yang dia pikirkan.
Dia tumbuh menjadi seorang anak yang riang. Suara yang keluar darinya bagaikan sebuah mantra, yang bisa menyihir terik matahari menjadi rintik-rintik penyejuk belasan pohon harapan di pekarangan rumahku. Aku masih ingat perjalanan antar propinsi pertama dia. Setengah hari di dalam bis dia tidak berhenti berbicara, membahas pemandangan di jalan tol sampai tikungan yang membuat dia mual. Hingga semua penumpang yang hendak turun menoleh terlebih dahulu ke arah kursi kita, karena penasaran siapa anak kecil yang berbicara tanpa henti selama di bis. Mungkin mengganggu tidurnya. Akupun menegur berkali-kali, aku tidak ingin seluruh penumpang bis beranggapan kalau dia tidak punya etika. Masalah etika, aku sangat tegas tanpa toleransi. Tapi disisi lain, aku bahagia melihat dia selalu ceria. Sekalipun dia selalu mabuk perjalanan ketika berpergian.
Umur 5 tahun, aku tidak menyekolahkannya ke TK dengan alasan  ingin mendidiknya sendiri. Aku mengajarinya membaca dan menulis. Mungkin terburu-buru, untuk anak seusianya. Tapi lihat, pertama masuk ke sekolah dasar dia yang paling pintar. Tidak ada satupun anak yang lebih lancar membaca dibanding dia.
Celakanya ada sesuatu yang aku lupakan, dia jarang ku ajari menggambar. Kalaupun dia ingin, aku sedikit melarangnya dan membuat dia mendahuluan belajar membaca, menulis dan berhitung. Hari kedua sekolah, dia diberi tugas menggambar bebas oleh gurunya. Apa yang terjadi? Dia tidak bisa menggambar sama sekali. Dia menangis kencang ingin pulang ke rumah. Dia begitu ketakutan guru akan memarahinya jika gambarnya jelek.
Dari peristiwa itu aku menyadari banyak hal, aku terlalu keras saat mendidiknya di rumah. Aku tidak bisa memberikan toleransi saat dia melakukan kesalahan.
"Harus sampai betul, ulangi!!", itu yang aku katakan saat dia tidak bisa mengerjakan soal. Terkadang jeweran tanganku mendarat di telinganya.
“Makanya kalau pegang sesuatu hati-hati” aku memarahinya berkali-kali ketika dia memecahkan piring di dapur. Hingga dia menangis merasa bersalah.
Dia memang pintar. Tapi, dia tumbuh menjadi orang yang kurang percaya diri dan takut melakukan kesalahan. Ketika dia menghadapi masalah, dia selalu berlebihan membenci dan menyalahkan dirinya sendiri.



Harusnya dulu aku berkata "Tidak apa-apa salah-salah, namanya juga belajar. Yang dilihat bukan benar/salahnya, tapi semangatnya".
Harusnya dulu aku berkata “Tidak apa, mari bereskan bersama-sama pecahan piringnya, belajar bertanggung jawab yaa”.
Harusnya dulu aku memberikan pemahaman, bahwa akan ada fase dimana manusia tidak sengaja melakukan kesalahan dan kegagalan, besar atau kecil.
 
 
Gambar dari:
https://wn.com/mobile/dimitris_kaberidis_peri_anemon_kai_ydaton

  • view 194

  • upik japang
    upik japang
    8 bulan yang lalu.
    Bener bun, saat anak dibesarkan dengan selalu menyalahkan kesalahannya, si anak jadi takut untuk menghadapi apa yang ada di depannya. Padahal mestinya kesalahan itu sebagai pembelajaran. Bukan sesuatu yang harus dihujat.