Celoteh Peniru Rasul

Syaima Ressa
Karya Syaima Ressa Kategori Motivasi
dipublikasikan 24 September 2017
Celoteh Peniru Rasul

Lihatlah, semua buku yang ku punya hanya membicarakan metode dan media pembelajaran. Semuanya hanya tentang cara menyampaikan pelajaran dan menggunakan media dengan baik. Lalu harus ku apakan mereka agar bisa jadi orang yang taat? Mereka hanya malaikat yang masih suci. Dan sayangnya mereka terlalu manis jika harus ku juluki kurcaci, apalagi minion.

Sejak matahari terbit hingga terik, akulah orang tuanya. Aku yang bertanggung jawab. Ini dunia saja atau termasuk di akhirat? Sejenak aku takut, sedikit menelan ludah dan mengerutkan alis.

Pagi itu aku gugup, ku awali dengan kalimat apa setelah mengucapkan salam dan menanyakan kabar? Tiba-tiba ingatanku tertuju padamu wahai Rasulullah. Aku mengingat momen kebersamaanmu dengan para sahabat setelah waktu subuh. Perbincangan itu, aku masih ingat. Perbincangan yang hanya dapat aku bayangkan dari sebuah tulisan karya Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa judulnya. Entah seperti apa udara dan suasana subuh saat itu.

. . .

"Siapa yang hari ini shalat subuh?"

"Siapa yang hari ini shalat tahajud dan fajar?"

"Siapa yang masih suka marah-marah sama orang tua kalau disuruh mandi dan pergi ke sekolah?"

"Siapa yang sebelum berangkat ke sekolah senyum, salam dan cium tangan kedua orang tua dulu?"

"Siapa yang kemarin bantu orang tua tanpa disuruh?"

Ya Rasulullah, di depan kelas aku menirumu, seperti saat kau sedang membina para sahabat dalam perbincangan yang diabadikan menjadi sebuah hadits. Meskipun pertanyaan yang aku lontarkan tidak persis sama dengan apa yang kau tanyakan saat itu. Apa boleh?

Ya Rasulullah, aku tanyai mereka setiap hari. Kadang mereka bosan. Kadang ada yang tidak jujur dan aku berkata "Shalat atau tidak, jujur atau tidak, Bu guru gak tau, tapi Allah Maha Tahu". Kadang mereka malu mengakui tetapi mereka berani untuk jujur. Kadang mereka kesal saat diledek teman-temannya ketika tidak shalat subuh. Menggemaskan, mereka masih polos.

Berbulan-bulan kemudian aku masih tetap melontarkan pertanyaan yang sama kepada para malaikat itu. Suatu pagi, aku melihat mereka berlarian memanggil. Berlomba ingin menjadi orang pertama yang memberikan pelukan lalu menyampaikan celotehnya.

Engkau tahu wahai Rasul mereka berkata apa? Mereka berkata "Bu, tadi kita cerita, ternyata kita semua shalat tahajud hari ini". Nyaris air mata haru jatuh dari kelopak mataku.

Waktu istirahat dhuha pun tiba, terdengar suara hp tanda pesan dari aplikasi whatsapp masuk. Lagi-lagi, debaran jantung ini masih sekencang dulu, saat pertama kali berkomunikasi dengan orang tua murid.

Engkau tahu wahai Rasul, isi pesannya seperti apa? "Bu guru, mohon maaf anak saya sepertinya hari ini sedikit ngantuk saat belajar. Td shalat tahajud 16 rakaat semangat banget".

Tidak hanya itu, aku mendapatkan kabar mengejutkan saat ada orang tua yang bercerita “Bu Guru, tadi anak saya nangis karena kesiangan shalat tahajud”.

Apa yang harus ku katakan selain pujian yang aku lontarkan kepada orang tua? Ekspresi seperti apa yang harus aku munculkan saat itu? Aku hanya meminta dalam hati, semoga mereka melakukannya dengan tulus, karena Allah. Sungguh, aku tidak bermaksud membebani mereka dengan pertanyaan sama yang sering aku berikan setiap hari. Aku hanya ingin mereka terbiasa. Aku hanya mengulang doa, semoga kelak iman mereka sekokoh iman para sahabat.

Ya Rasulullah, aku belajar banyak dari sejarah. Para sahabatmu menjadi hebat karena dibina oleh guru yang hebat. Kaulah guru terbaik sepanjang sejarah itu.

            Ya Rasulullah, izinkan aku terus menyebut namamu dan para sahabat saat berinteraksi dengan mereka. Mereka adalah harapan ketika banyak anak kekinian yang tidak pernah menjadikan Engkau sebagai idola.

. . .

Abu Hurairoh ra. Menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya:

“Siapakah di antara kalian yang berpuasa hari ini? Abu Bakr menjawab “Saya”. Beliau Saw. Bersabda “Siapakah di antara kalian yang telah mengantarkan jenazah?” Abu Bakr pun menjawab “Saya”. Beliau Saw kembali bertanya “Siapa di antara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?” Abu Bakr menjawab lagi “Saya”. Beliau Saw bertanya lagi “Siapakah di antara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?” Abu Bakr pun menjawab lagi “Saya”. Lalu Rasulullah Saw bersabda “Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk surga. [HR. Muslim]

 

Gambar dari :http://shopyellowscarff.blogspot.co.id/2017/05/foto-anak-kecil-lucu-islami-terlengkap.html

  • view 171