Jalan Terjal Menjadi Penulis

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Maret 2016
Jalan Terjal Menjadi Penulis

Menulis apalagi menjadi penulis bukanlah cita-cita saya sejak kecil. Berasal dari keluarga buruh tani di desa terpencil jauh dari peradaban kota. Setiap hari berkecimpung dengan alat-alat pertanian. Membayangkan saja tidak. SMP-SMA saya lalui tanpa ada prestasi apa pun dalam dunia kepenulisan. Namun, ada satu hobi yang sejak kecil saya biasakan dan diakui oleh guru-guru, dan hobi ini sangat membantu saya dikemudian hari terjun dalam dunia menulis, ya, membaca.

Perkenalan dengan dunia tulis menulis baru terlintas sejak di bangku kuliah di Jogjakarta. Kota pelajar dengan segudang ilmu dan perbukuan. Awal-awalnya saya dan teman-teman hanya sebagai penyenang dan pecinta buku. Tiap mendapat kiriman atau pas ada event seperti book fair atau cuci gudang kami berlomba mengoleksi buku. Mulai dari menyampul, menyusun rapi di rak lemari, sampai hanya sekedar mengamati koleksi buku yang membuat kami bangga.

Suatu hari, teman sekamar nyeletuk, "Enak ya di Jogja." "Kenapa?" "Gampang ketemu penulis. Dosen itu penulis, mas itu juga penulis, ustad itu juga." Sosok penulis dalam bayangan kami adalah manusia jenius, hebat.

Saat itu memang sedang booming novelnya kang Abik, "Ayat-ayat cinta." Dan trilogi Laskar Pelangi Andrea Hirata. Dan mereka sukses, terkenal dan menjadi kaya raya dengan karya. Ini menjadi buah bibir sesama mahasiswa, jika menjadi penulis itu menjanjikan. Ditambah dengan provokasi dari dosen-dosen penulis yang selalu mempromosikan karya-karya mereka di berbagai media baik dalam bentuk opini atau buku tesk.

Motivasi, semangat membara dan keinginan kuat apakah cukup membuat kami menulis? Jawabannya tidak. Menulis ya menulis. Menjadi penulis kuncinya cuman satu, mulai menulis. Dan itu bukan perkara yang gampang kawan. Semangat saja tidak cukup. Dan, pekerjaan yang paling berat adalah memulai. Semangat sudah ada, niat sudah punya, kesempatan sudah dijadwal namun, saat mulai menggoreskan pena di atas kertas semuanya ilang dan berhenti. Macet. Satu jam berlalu, kertas masih berisi 2-3 baris kalimat. Teng.... kerjaan lain sudah menanti dan selesai. Berbulan-bulan tidak ada satu pun tulisan yang jadi.

Saat satu-dua tulisan selesai, baik opini, essay, maupun cerpen, saya mulai memberanikan diri mengirim ke berbagai media cetak. Alhamdulillah, semuanya diabaikan. Tidak pernah ada jawaban. Sampai selesai S1 belum ada tulisan yang dimuat atau buku yang diterbitkan. Sarjana pun tidak menjamin bisa menulis. Saat melanjut pendidikan ke jenjang S2, keinginan menulis masih tetap membara. Sampai menjelang wisuda, ada sebuah email yang membuatku ternyum penuh arti. Tulisan anda aka dimuat di majalah U***i. Akhirnya jebol. Kebanggaan bukan pada honornya tetapi, pada pengakuan eksistensi seorang penulis. Ini yang penting.

Itu membutuhkan waktu hampir 6 tahun latihan, mencoba dan gagal sampai tulisan pertama terbit. Disusul tulisan kedua. Beruntung saya kemudian bergabung di sebuah komunitas kepenulisan yang mewajibkan anggotanya menulis. Setahun kemudian lahirlah dua buku antologi. Belum puas, saya mencoba membuat tulisan mandiri dengan belajar kepada senior-senior di komunitas tersebut. Kemudian mulai saya tawarkan ke penerbit mayor. Tahu sendiri kan, penulis pemula bersaing dengan ratusan naskah dari penulis yang sudah punya nama. Slow respon. Sambil menunggu, saya kembali menyiapkan naskah motivasi belajar untuk remaja yang kemudian saya tawarkan ke penerbit Kekata dan lahirlah anak pertama saya, "11 Jurus Rahasia Menjadi Juara."

Beberapa bulan kemudian, sebuah email masuk dari editor penerbit mayor bahwa hasil review naskah, dan naskah saya insya Allah akan diterbitkan dengan berbagai syarat dan ketentuan dengan membutuhkan 4 bulan untuk proses editing . Dan, kemungkinan tidak jadi juga ada jika setelah dianalisis belum layak terbit. Subhanallah, seketika itu saya sujud syukur. Minimal 50 anak tangga sudah terlewati.

Kata orang bijak, sebaik-baik pertahanan adalah menyerang. Sebaik-baik menunggu tulisan terbit adalah dengan menulis lagi, menyiapkan naskah lagi. Itu yang saya lakukan. Tentunya, sebagai penulis atau pecinta dunia literasi tentunya kita memiliki pengalaman masing-masing namun, saya rasa pengalaman menjadi penulis umumnya hampir semua sama. Kuncinya adalah pantang menyerah.

Saya masih terus menganggap sebagai penulis pemula. Ya, sangat pemula di dunia tulis menulis. Dan bisa dikatakan cukup terlambat untuk berkecimpung di dunia ini. Meskipun terlambat lebih baik dari pada tidak kan? Pada tulisan ini saya akan berbagi tips berdasarkan pengalaman menulis selama ini.

  1. Niat. Semua perbuatan diawali dari niat dan akan dinilai karena niatnya. Niat menjadi penentu kesuksesan suatu perbuatan, cita dan harapan. Niat yang membaja tak akan mudah menyerah. Manusia-manusia sukses memiliki niat yang kuat untuk sukses. Dalam profesi apapun itu. Bukan karena berat ringannya masalah.

?Niat kita apa? Bagi saya pribadi, menulis itu mengayakan. Ya, kita akan kaya. Dalam semua aspek; kaya amal, kaya karya, kaya relasi, popularitas dan kaya harta. Niatkan saja lillahita'ala, semuanya akan beres. Jika rasa malas mulai datang, stop sejenak lalu kembali menata niat. Disinilah niat kita diuji. Apalagi informasi yang saya tahu, menulis itu menyehatkan.

  1. Memulai dan Istiqamah. Mulailah menulis dari hal yang paling sederhana. Dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Jangan terlalu terbebani dengan berbagai pikiran muluk-muluk. Mulailah menulis, biarkan tangan dan pikiranmu bergerak lepas dan mengalir. Lupakan semua perasaan takut jelek, dikritik orang, dan semua tata bahasa. Lupakan! Profesi apa pun tidak akan jadi jika tidak dimulai-mulai.

Setelah dimulai, jangan berhenti tetapi, lanjutkan dan konsistenlah. ?Istiqamahlah ?melatih diri. Bisa kita awali dengan membuat program pribadi one day one lembar (ODOL) atau One Day an Hour (ODAH) atau One Day Ten Minutes (OSTM) dll. Lalu konsistenlah karena kesibukan akan menggilas kita. Apalagi bagi kita yang tidak menjadikan menulis sebagai profesi utama, dibutuhkan istiqamah di tengah berjubelnya aktifitas lain. Ya, memaksa diri sendiri. Di tengah kesibukanlah biasanya penulis dan calon penulis bersembunyi untuk tidak menulis.

  1. Masuk Komunitas. Dalam proyek kebaikan kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh komunitas atau sahabat yang akan selalu mendukung dan mengingatkan kita di saat lalai. Di era globalisasi saat ini bermunculan komunitas-komunitas kepenulisan mulai yang sekedar sharing dan curcol sampai yang sangat serius menulis dan menerbitkan tulisan. Ingin jadi orang shaleh bertemanlah dengan shaleh. Insya Allah ketularan. Begitu pula kiranya ingin jadi penulis maka bergaul dan berkumpullah dengan para penulis.
  1. Publikasikan. Seburuk apupun tulisan kita itu tetap lebih baik dari pada tidak menulis sama sekali. Karya yang hebat tentunya diawali dari proses trial and error kan? Penulis best seller tidak dilahirkan ujug-ujug langsung bisa. Mereka pernah mengalami pahit getirnya penolakan karena dianggap tulisannya belum berkualitas.

Menjamurnya media sosial saat ini ?semuanya gratis dan sangat murah- saya rasa sangat membantu kita untuk mempublikasikan karya tulis kita. Eksis dengan karya tulis.

  1. Gadged. Nah, ini penting bagi saya. Tulisan saya produktif menulis dengan smart gadged, bisa dibaca di https://www.inspirasi.co/post/detail/2157/produktivitas-menulis-dengan-gadged-smart. Aplikasi smart phone ternyata sangat mendukung aktifitas menulis saya. Jika selama ini saat ada ide bermunculan, saya hanya menyimpan dalam memori dan ada waktu kemudian baru membuka laptop dan menuliskannya. Namun, yang terjadi adalah ide itu telah hilang dan macet. Dengan adanya smart phone setiap ide yang muncul langsung ditangkat dan ditulis point-pointnya seperti membuat out line. Saat sendirian, menunggu, ngantri, atau saat ada kesempatan kosong kita bisa melanjutkan menulis, mengedit dan membuat tulisan baru. Ide muncul tangkap lalu tulis. begitu terus dan hasilnya saya merasa sangat produktif. Jika selama ini saya membutuhkan berhari-hari menyelesaikan satu artikel, sekarang dengan smart phone satu artikel terkadang sehari jadi.
  1. Nikmati. Ada kata bijak yang kayaknya harus kita renungkan bersama, ?Jika seseorang telah menemukan passionnya maka, ia tidak akan bekerja selamanya.? Karena semua ia lakukan berdasarkan cinta. Pemain bola tentunya tidak pernah merasa bekerja karena itu adalah hobi. Penulis pun tidak akan pernah merasa terbebani untuk menulis karena itu hobi, bahkan sehari tidak menulis saja ia akan merasakan ada sesuatu yang hilang.

Akhirnya, semua itu tergantung di tangan kita masing-masing. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. ?Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis (QS. al-Qalam: 1)

  • view 206