Menyoal Pendidikan Karakter (2)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Maret 2016
Menyoal Pendidikan Karakter (2)

Kementerian Pendidikan Nasional (Kementerian Pendidikan Nasional, Badan penelitian dan pengembangan, Pusat Kurikulum (2011). Mengembangkan 18 nilai karakter bangsa sebagai pedoman pendidikan dan pengajaran di lingkungan sekolah. Kesepuluh nilai tersebut mencakup: ?

  1. Religius: sikap dan prilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
  2. Jujur : prilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi : sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat.
  4. Disiplin : tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja keras : prilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatann-hambatan.
  6. Kreatif : berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari apa yang telah dimiliki
  7. Mandiri : sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugasnya.
  8. Demokratis : cara berpikir, bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain
  9. Rasa ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
  10. Semangat kebangsaan: cara berpikir, bertindak, dan wawasan yag menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta tanah air: cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetian, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.
  12. Menghargai prestasi: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
  13. Bersahabat/ komunikatif: tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain
  14. Cinta damai: sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya
  15. Gemar membaca: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  16. Peduli lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya.
  17. Peduli sosial : sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yg membutuhkan

Tanggung jawab: sikap dan prilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, Negara dan Tuhan YME.

Dari kedelapan belas nilai karakter di atas yang diajarkan di sekolah-sekolah ada beberapa catatan kritis yang penulis rasa layak untuk disampaikan. Pertama, bagi seorang muslim iman adalah puncak dari segala amalan. Iman pula yang menjadi inspirasi dari segala tingkah laku manusia. Kejujuran, kerja keras, suka menolong dan lainnya harus berdasarkan iman. Tanpa keimanan maka, semuanya tidak bernilai di hadapan Tuhan. Nilai religius yang diartikan patuh menjalankan perintah agama mengesankan pada aspek ritual (ibadah) saja. Padahal jujur, berani, gemar membaca dan tanggung jawab juga merupakan pengamalan dari ketaatan pada agama. Seolah-olah mengesankan sekularisme. Efeknya kemudian, akan muncul faham, bekerja dan belajar yang sungguh-sungguh bukan bagian dari agama atau mengamalkan religiusitas. Maka jangan heran bila muncul manusia-manusia yang hanya alim saat di masjid namun, koruptif saat di kantor. Begitulah yang terjadi saat ini.

?Kedua, ?kegemaran bangsa kita membuat slogan dan aturan yang banyak tapi, minim praktik. Seolah-olah semakin banyak semakin baugus padahal tidak. Coba berapa mata pelajaran wajib yang diajarkan di sekolah-sekolah mulai dari jenjang SD sampai Sekolah Menengah? Anak-anak kita di bom bardir dengan puluhan mata pelajaran yang kesemuanya harus dikuasai. Ini sangat berbeda dengan Jepang misalnya. Jepang hanya mengajarkan empat nilai karakter namun, betul-betul menjadi karakter mereka yang mendarah daging. Sudah jamak diketahui bahwa orang Jepang sangat jujur, pekerja kerasa, bertanggung jawab dan disiplin. Kita? Bagaimana mengajarkan 18 nilai karakter jika gurunya saja susah menghafalnya apalagi mengamalkannya. Dan akhirnya kembali ke slogan dan slogan semata. Semoga tidak.?? ??

Dalam buku Pendidikan Islam Membentuk Manusia berkarakter & Beradab, Adian Husaini mengulas bahwa pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik; pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria; malu berbuat curang; malu bersikap malas; malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal. ?

?Jika kita sejenak berkaca melihat hasil pendidikan Islam satu-dua abad yang silam yang melahirkan ulama-ulama sekaliber Imam Syafi?i, al-Ghazali, Ibnu Sina dan lainya. Pertanyaan adalah mereka tidak ujug-ujug menjadi hebat, ada banyak faktor. Dan salah satu kuncinya adalah sistem pendidikan yang mereka dapatkan saat menuntut ilmu dan belajar. Disamping guru-guru hebat yang mendidik mereka seperti Imam Malik guru imam Syaf?i dan Imam al-Haramain al-Juwani guru imam Ghazali.

?Seyogyanya pendidikan mampu melahirkan manusia-manusia yang berkarakter. Pendidikan Islam juga harus bertanggungjawab atas krisis karakter di negeri kita ini. Ada apa dengan pendidikan Islam di sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, dan pondok-pondok pesantren maupun di Universita-universitas Islam? Tidak ada jawaban tunggul untuk mengurainya. Jawabannya ada di tangan kita semua. ?

  • view 127