Nggak Usah Nyinyir

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Agama
dipublikasikan 14 Maret 2016
Nggak Usah Nyinyir

Nggak Usah Nyinyir

Pernah dengar istilah nyinyir? Bahasa ini cukup populer di dunia sosmed. Saat ada status seorang tokoh yang kontroversi maka bermunculan komentar-komentar nyinyir. Tanpa harus membuka kamus, kita diajak memaknai nyinyir sebagai sikap memandang sinis sesuatu dengan gestur, ungkapan dan atau tulisan. Setelah saya lacak di KBBI, nyinyir diartikan cerewet, mencereweti sesuatu atau mengulang-ulang. So, kesimpulannya nyinyir adalah sikap mencereweti sesuatu dengan sinis baik dengan ungkapan, tulisan maupun gestur tubuh. Clear.

Banyak faktor yang membuat seseorang bersikap nyinyir, bisa karena kebencian, rasa iri, merasa gagal atau merasa diri bersih atau benar sementara yang lain salah atau belum merasakan apa yang dinyinyiri. Bagi para akhwat yang berjilbab besar (syar'i) sah-sah saja mengkritisi dan menasehati mereka yang belum berjilbab atau yang masih berjilbob tetapi, tidak pantas dan layak menggunakan bahasa yang merendahkan mereka dan bersikap nyinyir seolah mereka tidak layak masuk surga dan tempatnya di neraka. Karena kita tidak tahu alasan mengapa mereka masih seperti itu. Bisa jadi cobaan yang mereka alami jauh lebih berat daripada kita atau memang sejak kecil tidak diajari tentang agama.

Sama halnya, kita sah dan wajar saja sangat marah dengan para pejabat yang korup. Tetapi, jangan nyinyir. Karena kita tidak tahu betapa mereka mengalami ujian yang belum tentu kita mampu saat di berada di senayan. Buktinya, tidak sedikit dulu mahasiswa yang demo di jalan, teriak-teriak memaki-maki anggota dewan, kritis dan idealis namun, melempem malah lebih rakus saat mereka kini duduk di kursi empuk yang dulu dinyinyirinya.

Marah dan kesal pada anggota dewan yang tiduran saat sidang dan sempat-sempatnya akses pornografi, silahkan! Tapi, nggak usah nyinyir! Emang kita nggak pernah tidur saat kuliah atau nggak pernah sama sekali bersinggungan dengan pornografi? Ah, kita masing-masing yang tahu kan kualitas diri dan iman kita.

Fenomena kawin, cerai, perselingkuhan artis memang sangat mencemaskan bagi generasi muda. Mereka publik figur yang sering dijadikan contoh remaja kita. Tetaplah kritis tapi, jangan sinis. Kita juga belum tentu bisa menghadapi godaan wanita-wanita seksi yang mengelilingi mereka dengan segala bentuk kemanjaan dan agresifitasnya.

Sesungguhnya Rasulullah dalam mengajak manusia lain beriman menggunakan akhlak yang mulia. Banyak mereka yang menentang beliau berbalik 180 derajat hanya karena kemuliaan akhlak nabi. Allah tegaskan dalam dalam al-Qur?an, mengingatkan nabi agar bersikap lemah lembut;

?Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.??(QS. Ali Imran: 159)

?

Dalam mengajak kepada kebaikan, jangan bandingkan kita dengan Rasul. Kita tidak ada apa-apanya namun, terkadang lebih heboh. Coba kita renungkan dengan hati hadis nabi yang memerintahkan kita untuk tidak tinggal diam melihat suatu kemunkaran; Jika kamu melihat kemunkaran maka cegahlah dengan tanganmu, kalau tidak sanggup maka dengan lisan, kalau belum sanggup maka dengan hatimu dan itulah selemah-lemah iman. Bagaimana caranya? Allah jelaskan dalam surah an-Nahl.

?Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.??(QS. An-Nahl: 125)

?

Mengapa banyak orang yang tidak tertarik dengan agama ini, dengan nasihat yang baik dan tidak tertarik mengikuti kita? Mungkin karena sikap kita dan amalan kita yang jauh dari kata baik.

Sebagai penutup tulisan ini, saya akan menceritakan ulang bagaimana dakwah nabi di lembah Thaif. Saat penduduk Thaif diseru dan diajak dalam keimanan dan keselamatan di dunia dan di akhirat, bukan ucapan terimakasih yang keluar dari mulut mereka melainkan cacian dan lemparan batu. Batu-batu itu mengenai tubuh dan melukai rasul yang mulia, sehingga beliau harus berlindung di sebuah perkebunan kurma. Saat penjaga malaikat penjaga gunung akhsabain menawarkan diri untuk membumi hanguskan penduduk Thaif, dengan penuh cinta kasih Rasul menolak, lalu keluarlah dari lisan beliau ucapan yang mulia, ?Seandainya mereka belum mau beriman maka saya akan tunggu anak-anak mereka, atau cucu-cucu mereka.?

Subhanallah. Tidak usah nyinyir.

  • view 152