Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 12 Maret 2016   08:22 WIB
Anomali

Pernah dihadapkan dengan suatu pernyataan yang seolah-olah bijak tapi, sebenarnya menjebak. lalu, kita ikut-ikut mengamini dan bersembunyi dibalik petuah tersebut. Coba kita pertajam dengan beberapa contoh, "Lebih baik sedekah sedikit asalkan ikhlas dari pada banyak nggak ikhlas." Kita lalu diajak mimilih dua alternatif, antara a atau b. a. Sedikit ikhlas dan b. Banyak tidak ikhlas. Persis saat kita menghadapi ujian nasional, harus memilih jawaban yang sudah disiapkan. Tidak milih salah, memilih tidak ada yang sesuai harapan. sementara alternatif jawaban terbatas. Kita sejak kecil diajari untuk tidak kreatif membuat (meng-creat) jawaban yang lebih inovatif.

Saat pertanyaan ini saya lontarkan dihadapan siswa di kelas, hampir semua -untuk tidak mengatakan seluruhnya, menjawab "Sedikit ikhlasss..." ngenes. Bukankah jawaban terbaik adalah ikhlas dan banyak. Ikhlas dalam berbuat tidaklah ujug-ujug terjadi. Ada serangkain latihan-latihan yang harus dilakukan. Ikhlas tidak ada kaitannya dengan besar kecilnya sedekah. Tidak sedikit yang bersedekah buuaaannyyakk dan sangat ikhlas. Logikanya, buat apa sedekah banyak-banyak kalau tidak ikhlas. Banyak itu menunjukkan keikhlasan, sedikit itu biasanya pelit dan susah ikhlasnya. sudah sedikit tidak ikhlas pula. Sekali lagi, ikhlas adalah proses latihan yang panjang. Sedekah belum ikhlas, tambah kuantitasnya, belum ikhlas, tambah lagi sampai ikhlas.

Baik. Masih ada contoh lainnya, "Lebih baik mengutuk diri sendiri seharian karena tidak melaksanakan shalat malam daripada merasa shaleh karena melaksanakan tahajjud." Tidak ada yang salah dari statemant ini dan benar adanya. Tetapi, tidak adil kalau berhenti di sini. Yang paling baik adalah mendirikan tahajjud dengan rutin tetapi, tetap merasa banyak dosa dan tidak merasa telah menjadi manusia sholeh.

Kita tetap berhusnudzan kepada mereka yang menegakkan shalat malam tetap menjaga keikhlasannya. Kalaupun muncul rasa itu, tetap dihargai sebagai proses menuju keikhlasan daripada yang tidak tahajjud sama sekali. Dan kita yang malas shalat malam menggunakan dalil ini untuk membenarkan kemalasan sendiri. Ckckc ?dengan gaya Ipin Upin.

Bagi yang belum berhijab atau yang masih bongkar pasang, apa alasannya? Ya, lebih baik belum berhijab tetapi, hatinya baik daripada berhijab berhati bejat. Yang pentingkan hatinya baik. Bukankah berhijab dan berhati baik itu lebih utama? Dan seharusnya memang seperti itu. Namun, jika belum baik pun ia tetap telah melaksanakan satu kewajibannya.

Dibeberapa pilkada muncul calon-calon non muslim di daerah yang mayoritas muslim. Lahirlah slogan seolah bijak tapi menjebak, "Lebih baik kafir bersih daripada muslim koruptor." Idealnya kan, muslim berintegritas. Mengapa tidak ada muslim yang bersih muncul menjadi calon pemimpin? Jawabannya di kepala kita masing-masing.

Dan banyak lagi yang kita jumpai petuah-petuah yang serupa. lalu apa sikap kita jika diharus memilih dua alternatif jawaban yang tidak ideal ini. Dalam hidup ini selalu ada skala prioritas, dalam bahasa imam Ghazali ada fardhu ain dan ada yang fardhu kifayan. Ada kewajiban dan ada sunah. Ada kebutuhan primer dan ada sekunder. Ada penting dan ada yang biasa.

Dalam qaidah ushul fiqih, jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang tidak ideal maka pilih yang paling ringan bahayanya (ahaffu dharuraini) Lalu, dari banyak anomali kita pilih yang mana? Yuk kita analisis bersama! Pilih sedekah banyak belum ikhlas! Kenapa? Minimal sedekahnya sudah memberikan manfaat yang lebih besar, ikhlasnya tinggal nunggu waktu saja, biasakan saja tetus, lama-lama juga ikhlas. Pilih shalat malam dan masih merasa shaleh! Mengapa? Minimal shalatnya sudah ditunaikan dan itu butuh kekuatan tersendiri loh. Tawadhunya nyusul.

Pilih berjilbab dulu, tunaikan kewajiban Ilahi lalu, hatinya nyusul dijilbabi dengan akhlak mulia. Memilih pemimpin sudah dijelaskan dalam al-Qur'an. Meskipun tidak bisa dihindari perbedaan pendapat atau terjadi ikhtilaf memilih pemimpin non muslim yang adil di tengah mayoritas masyarakat muslim. Namun, minimal kita taat dulu sama Allah, sama aturan-Nya. Sangat susah memasrahkan urusan kaum muslimin kepada pemimpin yang tidak memahami. Urusan di dalam Islam tidak hanya persoalan dunia saja, ada dimensi lain yang hanya bisa dipahami oleh seorang muslim. Ada dimensi ukhrawi yang hanya bisa dipahami dengan bahasa iman.

Selamat memilih! Nabi yang mulia sudah lama menuntun kita untuk selalu bisa bersikap tegas tidak abu-abu. ?Tinggalkan yang meragukan dan lakukan yang tidak meragukan!? ?Halal itu jelas begitu pula haram, namun ada ranah yang samar-samar (Mutasyabihat) maka, tinggalkan yang samar itu.?

Karya : Syahrul WriterPreneurship