Menyoal Pendidikan Karakter (1)

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 Maret 2016
Menyoal Pendidikan Karakter (1)

Apa kabar pendidikan Islam? Mundur beberapa tahun yang lalu tepatnya tahun 2009 pemerintah gencar mempromosikan pendidikan karakter dengan menggelontorkan dana yang tidak sedikit. Pendidikan karakter jadi bahan primadona yang diulas, didiskusikan dan diseminarkan. Mega proyek kurikulum 2013 pun ?meskipun hanya sempat berjalan satu semester sebelum dikembalikan ke kurikulum KTSP oleh menteri pendidikan yang baru-? tidak lepas dari keinginan pemerintah untuk melahirkan pendidikan yang berkarakter. Seolah-olah pendidikan kita selama ini tidak berkarakter.

Selama ini apa saja kerja dunia pendidikan sehingga tidak mampu melahirkan manusia berkarakter? Padahal cita-cita pendidikan kita sangat mulia, seperti yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional. Dalam Pasal 3? Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional? Nomor 20 tahun 2003 (UU Sisdiknas), sangatlah ideal:??Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

?Lalu apa yang kita saksikan setiap harinya? Data tentang korupsi pejabat misalnya, dari hasil riset yang dilakukan dalam?Transparency International Corruption Perceptions Index 2009, masih menempatkan Indonesia pada peringkat yang sangat memperihatinkan. Terkait dengan penyalahgunaan narkotika, Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2009 tercatat adanya? 3,6 juta pengguna narkoba di Indonesia, dan 41% diantara mereka pertama kali mencoba narkoba di usia 16-18 tahun, yakni usia remaja SMP-SMU. (Republika online, 26/06/2009). Belum tawuran pelajar, penganiayaan antar teman sekolah, bullying, seks bebas dan akses pornografi yang kecenderungannya meningkat tiap tahunnya.??

Ditambah tontonan dagelan politik para pemimpin bangsa ini yang selalu saja memalukan. Nilai-nilai musyawarah yang diajarkan bertahun-tahun di bangku sekolah lenyap seketika saat melihat para anggota DPR yang terhormat bermusyawarah ala bar-bar, lempar kursi meja, microphone dan apa saja sambil tunjuk-tunjukan. Yang merasa kalah diakhiri dengan adu jotos. Demi apa? Malu rasanya untuk mengatakan demi rakyat. Demi golongan dan kepentingan sesaat. Mereka dulu pernah sekolah dan dijejeli dengan nilai-nilai yang mulia. Maka, jangan heran ketika para pelajar mengakhiri pembelajaran mereka di jalan. Tawuran.?

?Lalu ada apa sebenarnya dengan pendidikan kita? Sebenarnya, nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah-sekolah di Indonesia, sudah tercakup dalam pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.? Namun, seperti halnya banyak mata pelajaran lainnya,? mata pelajaran itu masih lebih berorientasi pada pendekatan kognitif melalui hafalan dan untuk memenuhi sederet angka-angka di atas kerta. Artinya pembelajaran masih berorientasi pada aspek perolehan pengetahuan semata secara akademik. Orientasi pendidikan dan pembelajaran terhadap proses perubahan sikap dan tingkah laku anak didik masih kurang mendapatkan tempat, untuk tidak mengatakan terabaikan sama sekali.? Jika ini dibiarkan terus-menerus maka kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku semakin melebar. Anda bisa pintar, nilai sempurna, dan lulus cumlaude meskipun, akhlak bejat bukan masalah. Kurang orang pintar apa bangsa kita?

?Lalu apa sebenarnya pendidikan karakter itu? Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti to engrave atau mengukir. Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dari sanalah kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku (an individual?s pattern of behavior ? his moral contitution) (Karen E. Bohlin, Deborah Farmer, Kevin Ryan,?Building Character in School Resource Guide, San Fransisco: Jossey Bass, 2001, hlm.1) Lickona menekankan tiga hal dalam pendidikan karakter yaitu knowing, loving, and acting the good. Adanya keselarasan antara hati, ucapan dan tindakan.

Lalu, mengapa nilai-nilai islami yang diajarkan tidak atau sangat sulit dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. karena anak-anak diajari hafalan hadis kebersihan, namun, prilaku membuang sampah tetap berjalan. Ada metodologi yang keliru atau tidak tepat dalam menyampaikan pendidikan Islam. Anak-anak didik kita tumbuh minus teladan. Mulai dari tontonan, prilaku anggota keluarga, prilaku masyarakat dan parahnya prilaku pemimpin pun minus nilai karakter. Padahal mereka adalah para pencontoh handal, karena belum bisa memilah dan memilih mana nilai baik dan buruk.

Sebagai pedoman hidup maka karakter dapat dikembangkan berdasarkan berbagai ideologi atau nilai, falsafah suatu bangsa, masyarakat. Karena luasnya cakupan dari pendidikan karakter maka UNESCO telah melakukan kajian yang mendalam dan menarik kesimpulan bahwa ada enam dimensi karakter yang bersifat universal yang diakui semua agama maupun bangsa. Keenam dimensi karakter ini adalah trustworthiness, respect, responsibility, fairness, caring, dan citizenship (rynders, 2006).

Dalam implementasinya di sekolah Prof. Zamroni? menjabarkan keenamnya sebagi berikut; Pertama, Trustworthiness dapat diterjemahkan dapat dipercaya (shiddiq), kedua, respect merupakan sikap menghargai dan menghormati orang lain tanpa memandang latar belakang yang menyertainya, ketiga, responsibility menunjukkan watak bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, keempat, fairness memiliki makna selalu mengedepankan standar keadilan tanpa dipengaruhi oleh sikap dan perasaan yang dimilikinya ketika berhadapan dengan orang lain, kelima, caring bermakna memiliki sikap memahami kegembiraan dan kepedihan yang dialami orang lain, dan keenam, citizenship adalaha watak menjadi warga Negara yang baik. ?

Namun disetiap negara nilai-nilai pendidikan mengalami modifikasi dan penyesuaian dengan budaya dan falsafah bangsa masing-masing. Misalnya di Barat nilai sekularisme, feminisme dan liberalisme yang dikembangkan. Di Barat anda bisa sangat baik dan jujur meskipun anda atheis dan membenci agama dan Tuhan. Sehingga sangat berbeda dengan konsep nilai yang berlaku di Indonesia. Kementerian Pendidikan Nasional (Kementerian Pendidikan Nasional, Badan penelitian dan pengembangan, Pusat Kurikulum (2011). Mengembangkan 18 nilai karakter bangsa sebagai pedoman pendidikan dan pengajaran di lingkungan sekolah.

  • view 110