The No Excuse Man

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 06 Maret 2016
The No Excuse Man

Pernah baca buku yang ditulis oleh Isa Alamsyah, judulnya No Excuse? Buku laris. Beberapa kali saya harus kehabisan stok di toko buku. Sepintas lalu kita diajak dan diprovokasi untuk tidak menyerah. La taiasu! Bahasa Qur'annya. Setiap orang akan diperhadapkan dengan masalah dan problematika hidup masing-masing, itu pasti. Namun, ada orang yang memilih untuk menyerah, tidak sedikit yang tetap faith sampai darah penghabisan. Jatuh, bangun lagi, jatuh, bangkit lagi. Sampai masalah itu bosen mendatanginya dan yang tersisa adalah kesuksesan. Semua yang disentuhnya menjadi emas.

Kenal Saptuari atau Mas Mono atau Dahlan Iskan atau penulis Harry Potter, JK Rolling dan masih sangat banyak yang lainnya? Mareka adalah manusia-manusia yang jungkir balik dihantam dan digulung oleh gelombang masalah di awal-awal karir mereka. Tapi mereka memilih untuk No Excuse.

Bicara sukses adalah bicara tentang mental juara, mental yang tidak pernah mau menyerah dengan keadaan apa pun. Semua nama-nama besar yang pernah hidup dalam sejarah maupun yang masih kita saksikan hari ini adalah manusia-manusia bermental baja dan pantang menyerah. Mereka ditempa dengan rupa-rupa kegetiran hidup dan masalah. Bukan dari produk instant.

Sesungguhnya Allah mengharapkan kita menjadi manusia-manusia pantang menyerah The No Excuse Man. Seperti yang tertuang dalam surah Yusuf ayat 87 ?.... la taiasu min rauhillah..? Jangan berputus asa dari rahmat-Nya.

Mental manusia no excouse melahirkan pribadi melawan badai. Coba kita amati firman Allah dalam surah Alam Nashrah ayat 5-6, ?.... fainna ma'al 'usri yusra. Inna ma'al 'usri yusra.? Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan. Kalimatnya ma'a yang artinya bersama bukan ba'da yang berarti setelah. Jadi, Untuk meraih kesuksesan kita harus berani masuk dalam masalah, masuk dalam badai bergulat dan menemukan kesuksesan. Dalam kepungan badailah kemudian kita belajar menemukan solusi dan jalan keluar.

Keberanian masuk dalam masalah tidak pernah didapatkan di bangku sekolah dan dalam puluhan soal-soal pilihan ganda. Kehidupan yang membuat kita berani. Ingin sukses di dunia bisnis, kuncinya cuman satu, mulai! Memulai adalah keberanian. Nggak usah banyak teori dan pemikiran, usahanya nggak akan buka-buka. Nah, kata orang jawa dipikir sambil mlaku, dipikir sambil jalan. Dan pasti kita akan diuji, semakin besar usahamu semakin besar ujianmu. Kan lucu seorang sarjana matematika diuji dengan soal tingkatan SD. Penghinaan namannya.

Ingin berumah tangga, menikahlah! Urusan uang, rumah dan kendaraan dipikir sambil mlaku. Agama pun sangat simpel ajarannya, tidak akan memberatkan. Pasangan yang agamanya baik saja sudah cukup membuatmu beruntung. Nggak punya mas kawin, siapkan cicin dari besi. Murah. Berapa sih harga seperangkat alat shalat? Nikah lo? Bukan gengsi-gengsian dan malu-maluan jika tidak bisa mengadakan pesta besar-besaran.

Ingin sukses di dunia kepenulisan, menulislah! Menulis, menulis, menulis dan menulis. Apa pun yang penting dimulai. Sisihkan waktu setiap hari satu jam untuk menulis, kalau nggak mampu karena sibuk minimal 10 menit. One daya ten minutes. Tulisanmu mau dihargai atau tidak, ditertawakan atau dipuji, dipinter-pinteri atau digoblok-gobloki, ditolak oleh penerbit atau diterima, tetap saja menulis. Ada saatnya nanti tulisanmu ditunggu-tunggu oleh pembaca. Dalam kasus ini, ada contoh yang manarik yang pernah dialami oleh Raditya Dika. Kenal kan? Raja twitter dengan jutaan followernya. Novel-novelnya best seller dan yang difilmkan selalu masuk box office. Tahukah kita bagaimana perjuangan bang Dika?

Kadang kecenderungannya kita selalu melihat diujungnya, langsung hasilnya dengan mengabaikan prosesnya. Ada kejadian cukup lucu sekaligus menginspirasi yang diceritakan kembali oleh Dika di acara Mata Najwa. Saat novel perdananya terbit, novel tersebut "dititip-titipkan" di toko-toko buku sebanyak 5 eks. Satiap hari Dika memantau penjualan bukunya, dan cukup mengecewakan. Laku satu dua bahkan ada yang tidak terjual sama sekali. Suatu hari Dika sangat terkejut melihat stok bukunya habis terjual sold out. Dicek ke toko yang lain pun sold out. Ternyata ada ibu-ibu yang memborong semuanya. Tahu ngga siapa? Ibunya sendiri. Malam harinya, ada email masuk dari sahabatnya, ?Bang Dika! hari ada ibu-ibu aneh, nemui saya lalu menawarkan sebuah novel, eh, novel bagus lo, ambil saja gratis kok.? Jleb.

Bukankah dalam setiap kehidupan kita, Allah selalu memberikan pelajaran dari orang-orang sekitar. Manusia-manusia no excuse. Saya ada kakak kelas di pondok dulu. Beliau memiliki keterbatasan fisik yaitu kedua kakinya mengencil sehingga beliau harus menggunakan alat bantu dua tongkat untuk berjalan. Selepas mondok beliau melanjutkan study S1 dan S2 nya di kampus yang sama. Sekarang beliau menjadi dosen di almamaternya dan sekaligus menjadi pimpinan sebuah pondok pesantren.

Dalam sebuah pelatihan yang saya ikuti, beliau menjadi salah satu pemateri. Saat acara selesai saya mendekati dan menyalami sekaligus memperkenalkan diri sebagai adik kelas. Sekilas terlihat senyum hangat dan rangkulan mesra. Dengan berjalan tertatih-tatih beliau menuruni tangga.

?Maaf, Ustad! Apakah ustad biasa digendong.? Saya mencoba menawarkan diri.

?Subhanallah,? jawabnya dengan senyuman yang tulus menatapku.

?Tidak usah ya, saya sudah biasa kok. Waktu saya kuliah dulu saya mah sudah biasa turun naik tangga mengikuti perkuliahan. Pakai tangga, belum ada lift loh?

Jleb. Ya, Allah saya merasa malu. Betapa saya selama ini belum bersyukur atas limpahan karunia yang engkau beri. Semua sempurna namun, terkadang masih sering mengeluhkan ini dan itu. Sungguhku malu kepadaMu.

Sebelum berpisah, kami foto bersama. Cekrek. Selamat jalan ustadz doakan saya tetap bisa selalu bersyukur. Selamat berjuangan The No Excuse Man!

  • view 93