Tiket Untuk Caca

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
Tiket Untuk Caca

Klick. Bunyi tombol power TV menyala, sayup-sayup suara sang ustad terdengar.

?...Yang berlebih, kelebihannya akan direnggut kematian. Yang kekurangan, kekurangannya akan diakhiri dengan kematian. Yang berkecukupan, kecukupannya akan disudahi dengan kematian. Yang populer, kepopulerannya akan dirampas kematian. Yang tidak popeler juga akan berujung pada kematian. Ee... itu saja kesempulan kuliah kita hari ini, semoga kita tidak takut menghadapi kematian, karena ia adalah nikmat. Wassalamualaikum wr.wb.?

?Uaghhh? sembari menutup mulut mencoba menghilangkan ngantuk. Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 WIB dini hari. ?Besok hari Senin, Masih ada waktu buat makan sahur dan shalat malam tiga rakaat,? Pikirku.

?Sangat bagus ceramah sang ustad, yang juga salah satu pakar tafsir Indonesia, tapi sayang acara seperti ini tayang ketika kebanyakan manusia terlelap dalam tidur. Sementara tayangan-tayangan yang merusak akhlak bangsa malah di prime time.? Semua karena uang. ?Astaghfirullah.? Gumamku sebelum beranjak dan mematikan TV.

Seperti biasa hari senin ada upara bendera di sekolah SMP Lereng Merapi, kebetulan saya terjadwal sebagai inspiktur upacara. Tidak seperti biasanya saya memulai amanat dengan mengajukan pertayaan pamungkas, ?Anak-anakku semua, Siapa yang tadi subuh shalat?,? Astaghfirullah, hampair 75 persen yang tidak mengacungkan tangan.

?siapa yang shalat subuhnya di masjid berjama?ah?? tidak sampai lima persen yang mengacung. Sebagai guru agama tentunya ini adalah musibah. Musibah atas akan lahirnya manusia-manusia yang jauh dari Tuhannya.

?Anak-anakku semua, bapak teringat sebuah pesan yang bapak pegangi kuat-kuat sampai saat ini, yaitu ajarilah anak-anakmu sesuatu yang pasti sebelum yang mungkin (maybe).?

?anak-anakku silahkan dijawab bersama-sama!?

?lulus ujian, mungkin atau pasti??

?mungkin...?

?menjadi kaya raya, pasti atau mungkin?

?mungkin...?

?Lalu apa yang pasti?? hening sejenak, tanpa menunggu jawaban lebih lama lagi, ?Yang pasti adalah MATI.? Dengan sedikit meninggikan suara,

?Maka shalat adalah jalan menuju yang pasti itu. Tidak ada artinya sama sekali kesuksesan di dunia, jika kita tidak shalat.? Amanat saya akhiri dengan doa.

Sungguh PR besar menanti. Bagaimana anak-anak lereng gunung ini bisa mengenal Tuhannya dengan shalat. Banyak orangtua yang juga tidak terbiasa dengan ibadah yang satu ini, hal ini tentunya terwariskan kepada anak-anaknya secara otomatis. Pada beberapa kesempatan mengajar di kelas, yang kadang terlontar pertayaan seputar shalat. ?

?apakah orangtua kalian tidak mengajak??? tanyaku penasaran

?nggak lah pak, wong mereka aja jarang shalat? jawab mereka dengan santai.

?pernah lihat orangtua shalat?? tanyaku pada siswa yang telat berangkat ke sekolah karena alasan bangun kesiangan.

?Nggak pernah pak,? jawabnya sambil tersipu malu. kutatap matanya sambil menggeleng dan mengelus dada.

***

?Mbak Caca sudah shalat belum??

?emm.. belum ayah.?

?Ayo sana, biar Allah saaayang sama mbak Caca?

?Iya ayah,? jawab anak kedua saya yang berusia 4.5, yang biasanya masih bermain dengan kumpulan legonya sepulang dari play grup. Dalam urusan shalat mungkian saya adalah orangtua yang tidak ada tawar menawar. Sejak anak-anak masih bayi pun sering saya ajak ke masjid. Teringat ayah dulu sangat ketat mengajari kami shalat. Bahkan beliau membuat peraturan tidak ada makanan sebelum anak-anaknya shalat.

Masih mengiang-ngiang di telinga saat ayah bapak marah besar karena saya melalaikan shalat Ashar karena bermain.

?Bapak ini orang miskin, tidak bisa masuk surga dengan harta. Bapak ini bodoh, tidak bisa masuk surga dengan ilmu. Bapak cuman punya kamu yang nanti akan mendoakan bapak di kuburan. Kalau kalian tidak mau ibadah apalagi yang bisa bapak bawa? Bapak malu sama Allah.?

Alhamdulillah, Caca termasuk anak yang sangat mudah melakukan kebaikan. Karena memang kami mensetting rumah sebagai madrasah buat anak-anak dan ayah bundanya sebagai guru kehidupan mereka. Pernah suatu hari, sepulang dari dari mengajar, Mbak Caca yang sedang asik dengan permainannya berkomentar, ?Eh ayah udah pulang ya?, berarti sudah Dhuhur.?

?Iya,? jawabku sembari menuju dapur untuk berwudhu. ?Samar-samar terdengar suara yang nggak jelas dari kamar Caca, ?ahh Caca lagi nyanyi kali? pikirku.

Sangat terkejut saya menyaksikan Caca sedang sedekap sambil membaca al-Fatihah. Subhanallah.

?Terimakasih banyak nak, ayah bangga padamu, ayah bahagia. Teruslah menjadi qurrata ?ayun ya,? Ucapku terbata memeluk tubuh mungilnya tanpa menunggu Caca menyelesaikan shalatnya.

***

?Ayah, jangan lupa loh ketemu pak Slamet. Disempatin lah nanti selepas shalat Jum?at, udah dua minggu ditunda-tunda terus,? sambil bersungut-sungut dan bernada memerintah istriku melepasku berangkat mengajar.

Tepat dibelakang rumah ada pohon kelapa dengan daun dan buah yang sangat lebat, namun akarnya hanya menempel di sisi tanggul irigasi sehingga batangnya condong mengarah persis di kamar rumah.

Selepas shalat Jum?at, hujan turun dengan derasnya, sesekali kilatan petir terlihat menambah suasana horor. Saya masih melihat Caca masih tertidur. Dengan penuh kasih saya dan bundanya membangunkannya, ?Mbak Caca, bangun! Mbak Caca belum shalat loh.?

Tanpa bergeming, hanya suara ngerangan yang terdengar dan sedikit beringsut dari tempatnya semula.

?Habis Shalat, mba Caca makan, bunda buat makanan yang enak loh? tanpa bosan saya tetap membujuk. Meskipun sudah bangun namun, Aicha masih saja tidak menunjukkan keengganan untuk bergegas shalat.

?Orang yang nggak sholat dipeluk setan lo, pilih mana dipeluk setan atau malaikat?? bundanya menimpali dengan sedikit rasa jengkel.

?Bunda Shalat itu kan tiket kesurga ya? Nah ayah kan udah shalat, bunda juga dan adek dapat tiket gratis.?

?Iya, dan Caca belum ambil tuh tiketnya, biarin aja ditinggal sendiri? bujuk bunda sekali lagi.

Dengan masih bermalas-malasan, akhirnya Caca beranjak juga. Belum sempurna dari berdirinya. Terdengar suara keras dari luar rumah. Kreeeeeeeeeeeekkk.........buummmmmmmmmm. dueerrrrrrrrrrrrrrrrrr

****

?Ayaaah... Bunda....?

?Ayah.... bunda... adekk, ?mbak Caca minta tiketnya, jangan tinggal Caca sendirian? suara lirih terdengar di ruang UGD.

?Dok... Dok... anaknya sudah siuman?

Terdengar beberapa langkah tergesa-gesa menuju ruangan, sesekali terdengar suara isak tangis yang semakin lama semakin jelas.

?Sabar ya mbak Caca, ayah, bunda dan adek sudah pergi,? suara terdengar semakin tidak

  • view 80