Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 2 Maret 2016   10:45 WIB
Tere Liye Menjawab

Pernah dengar kisah Lukmanul Hakim mengajari anaknya tentang bagaimana bersikap dalam setiap keputusan yang diambil? kalau sudah, semoga menambah keyakinan akan resiko sebuah pilihan. bagi yang belum, yuk bungkus. Suatu hari Lukmanul Hakim mengajak anaknya melakukan safar dengan membawa seekor keledai, -binatang yang tidak terlalu besar juga kecil, nanggung untuk ditunggangi. Di awal perjalanan, mereka berdua menunggangi keledai tersebut. Saat melewati sebuah tempat terdengar komentar miring perihal apa yang mereka lakukan.?

"Dasar tidak berprikebinatangan. Masak dinaiki berdua!"?

akhirnya, Lukmanul Hakim turun dan menuntun keledai tersebut sementara anaknya masih di punggunya. Tidak begitu jauh kemudian terdengar lagi suara-suara mengomentari, "Dasar anak durhaka! Orangtua yang sudah lemah dipaksa berjalan sementara dirinya asyik-asyik di atas."

Kemudian Lukmanul Hakim menyuruh anaknya turun dan dia yang naik. Kembali terdengar suara nyinyir mengecam perbuatan Lukman, "Dasar tidak berprikeanakan. Anaknya dipaksa berjalan sementara bapaknya enak-enakan. Tega!"?

akhirnya, Lukmanul Hakim dan anaknya sama-sama berjalan sambil menuntun keledai. Di tengah jalan masih terdengar suara protes atas apa yang mereka lakukan.

"Gila! punya tunggangan namun, tidak dipergunakan. Dasar bodoh!"?

Dari kisah di atas kata kuncinya adalah kita tidak akan pernah membahagiakan semua orang. Sebaik-baik sang Rasul, beliau tetap tidak bisa zero musuh. Tugas kita adalah menyakini sesuatu yang benar lalu, pegang! jangan sampai lepas. abaikan ocehan yang tak berguna. Jangan berdiri dan bersikap di atas omongan orang.?

Masih hangat dari ingatan kita, status Tere Liye ternyata mengundang pro dan kontra. Saya melihat tidak ada yang perlu diributkan dalam tulisan Tere Liye dan ini sikap saya, entah saya ini mau dibilangi goblok dalam sejarah, terserah saja. namun, yang saya sesalkan, orang-orang yang pintar dan merasa pintar dalam sejarah malah menggunakan kata-kata kasar menanggapinya. Calm Down Bro! bantah saja dengan argumentasi, nggak usah pake emosi yang akan menunjukkan kualitas dirimu. nggak usah baper dengan kata-kata Goblok, Tolol, Bego, A**, T** dan nama-nama binatang lainnya.?

Maju bang Tere Liya!

ini adalah status beliau sekaligus tanggapannya. Silahkan dibaca dengan seksama baru komentar! Awas gagal fokus!

*Akan saya copy paste penjelasan saya ke penerbit dan beberapa pihak. Saya serahkan ke kalian sepenuhnya mau bereaksi seperti apa setelah penjelasan ini:

Pertama-tama, saya minta maaf jika keriuhan media sosial hari ini membuat tidak nyaman semua orang.

Yang kedua, akan saya jelaskan poin dari status yang membuat banyak pihak tidak terima. Statusnya sbb:

"Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan--yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan."

Postingan ini kalau dibaca dengan baik, poin paling pentingnya adalah jangan melupakan peran ulama, tokoh2 agama lain sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan. Redaksionalnya memang jadi seperti menyerang jika dianggap menyerang. Tapi kalau semua orang mau jujur, terutama yang sangat keberatan dengan status ini, bukankah saat mereka membuat tulisan Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dll, di media sosial masing2, mereka juga menafikan peran ulama, tokoh agama lain? Saat mereka membahas paham komunis, paham sosialis, seolah besar sekali dampak pemikiran tokoh2 paham ini dalam membentuk negara, melupakan peran pihak lain. Kemudian mereka tutup diskusi dengan juga menyuruh siapapun membaca buku sejarah jika tidak percaya? Saya simply hanya melakukan pola yang sama.

Saya tidak menulis: tidak ada komunis, dstnya. Yang saya tulis di sana, "silahkan cari", dengan demikian, semoga orang tergerak untuk membaca sejarahnya secara seimbang. Dari ratusan tahun perjuangan kemerdekaan di Indonesia, daftar ulama, tokoh2 agama lain, juga sangat-sangat banyak, dan kita bisa sama-sama melihat posisinya lebih baik. Baru dua hari lalu saya pulang dari tanah kelahiran Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Berdiskusi dengan orang2 setempat, mencoba belajar banyak hal. Sy tdk sedang menghilangkan peranan kelompok tertentu, atau sedang antipati, saya hanya berusaha menyeimbangkan pemahaman. Itulah kenapa, status tersebut di tutup dengan: Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.

Kurang lebih demikian.

Terkait ancaman boikot, tidak mau menjual buku dll, sy mau bilang apa jika ada yang berniat memboikot buku2 Tere Liye. Semoga besok lusa orang2 bisa saling memahami, kita semua bercita2 membuat negeri ini jauh lebih baik.

**jika ada yg hendak copy paste, share, ke akun2, yang sangat keberatan atas status ini monggo. agar penjelasan ini juga sampai. tapi pastikan, kalian tidak perlu ikut memaki, menggoblokkan, membawa nama hewan, kotoran, dll.

Karya : Syahrul WriterPreneurship