Haruskah Masjid Dibakar Dulu Baru Diramaikan?

Syahrul WriterPreneurship
Karya Syahrul WriterPreneurship Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Maret 2016
Haruskah Masjid Dibakar Dulu Baru Diramaikan?

Masjid yang secara bahasa berarti tempat orang sujud, tempat dimana manusia nundukkan diri dan menghinakan diri dari segala atribut duniawiyah di hadap Dzat yang Maha Agung. Sebagian orang menjadikan masjid sebagai tempat meminta dan memohon, tempat curhat, tempat berdzikir, tempat menangisi dosa dan tempat untuk segala aktivitas yang mulia. Masjid memiliki aura positif yang sangat luar biasa.

Maka, salah satu hikmah Nabi diberangkatkan dari masjidil Haram menuju majidil Aqsa adalah karena aura positif yang dimiliki oleh masjid. Kita patut berbangga melihat animo umat Islam membangun masjid-masjid baru sangat tinggi maka, berdiri dan bertebaranlah bangunan masjid mulai dari yang paling kecil sampai terbesar yang tidak hanya nyaman tapi, juga dengan desain arsitektur yang sangat indah. Proyek-proyek pambangunan masjid hampir selalu tepat waktu. Masyarakat kita masih sangat royal dalam urusan pendanaan pembangunan rumah ibadah.

Maka, tidak heran setiap tahun selalu saja muncul masjid-masjid baru di desa atau di jalan-jalan yang selalu kita lewati setiap harinya. Bahkan mungkin di desa kita sendiri. Jarak antar satu masjid dengan masjid lainnya sudah semakin dekat. Bahkan ada yang hanya dipisahkan oleh jalan. Di satu sisi kita boleh berbangga namun, di sisi lainya kita perlu bersedih dan kuatir. Ramainya bangunan masjid tidak diiringi dengan kuantitas jumlah jama'ahnya. Keprihatinan terus bertambah dengan kondisi jama'ah yang kadang tidak akur memperebutkan dominasi bendera masing-masing. Terkadang puncak perseteruan melahirkan masjid baru. Antara makmum dan imam tidak ada keterpautan hati, seyogyanya seorang imam bukanlah orang yang dibenci oleh kaumnya.

Apa yang paling menyedihkan bagi pasangan suami istri? Ya, lost generation. Tidak memiliki anak atau keturunan yang akan melanjutkan estafet dan trah perjuangan keluarga. Berapa banyak orang yang rela melakukan apa saja agar segera mendapatkan keturunan? Lalu, apa yang paling menyedihkan dari umat ini? Ya sama. Hilangnya anak-anak muda yang hatinya terpaut dengan masjid. Para pemuda lebih asyik di Mall dan konser-konser.

Sungguh tidak sedikit al-Qur'an berbicara tentang anak-anak muda yang hebat. Ada pemuda Yusuf yang lebih memilih penjara daripada menuruti syahwat Zulaikha. Ada pemuda Ibrahim penegak tauhid yang berani mengacak-acak berhala raja Namrudz. Ada Ismail yang ketaatannya kepada Allah di atas segalanya. Ada ash-habul kahfi pemuda-pemuda yang teguh menjaga iman, dan masih banyak lagi yang lainnya. Rasa-rasanya saat ini kita rindu dengan figur-figur mereka.

Tidak usah berharap terlalu banyak kepada pemuda yang berjama'ah saja ogah-ogahan. Apa yang bisa diharapkan dari pemuda semacam ini? Bukankah isi dari masjid-masjid kita selama ini -tanpa bermaksud untuk mendiskritkan mereka- adalah aki-aki dan nenek-nenek.

Beberapa meme lucu kreatif sebenarnya banyak menyindir fenomena ini misalnya di sebuah istitusi pemerintahan daerah, "lari 5 km bisa, melangkah 5 m ke masjid tidak sanggup", atau "Laki-laki sholehah shalatnya di rumah." Memang begitulah kondisinya. Meskipun tidak bisa digeneralkan namun, pada umumnya. Pernah dengar cerita lucu yang entah benar atau tidak namun, cukup menyindir kita. Suatu pagi jam sembilanan sebuah RT digegerkan oleh suara adzan yang dikumandangkan oleh Pak Ahmad. Ramai warga berdatangan ke masjid ingin melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di depan masjid berdiri pak Ahmad dengan tenangnya, warga yang mulai berang langsung bertanya, ?Eh, apa kamu gila ya? Ini jam berapa? Shalat apa??

?Sabar bapak-bapak! Yang gila saya atau kalian?? jawab pak Ahmad dengan tenang.

?Saya adzan jam empat Subuh tidak satu pun yang datang. Padahal waktunya tepat namun, mengapa saat saya adzan di waktu yang salah kalian malah datang. Jadi, yang gila siapa?? terdiam dan pulang. Diskusi selesai.

Di penghujung tahun 2015 kita dikejutkan dengan berita pembakaran tempat ibadah di Papua. Kita semua kaget dan geram. Mengapa masih ada sikap-sikap intoleransi hidup di negeri ini. ramai-ramai kita menggalang suara dan mengumpulkan dana pembangunan kembali masjid Tolikora. Di satu sisi kita bersyukur, namun bisakah kita bergembira di sisi lainnya? ?Kita sedih karena masjid kehilangan jama?ahnya. Apakah masjid harus dibakar dulu agar kita terjaga dan menjaga serta memakmurkannya?

Kebaikan dan keutamaan berjama'ah tidak diragukan lagi. Allah menyediakan 27 derajat berbanding satu, belum lagi jalinan silaturahmi dengan jama'ah lain yang semakin kokoh sebagai pintu rezeki dan perpanjangan usia. Seandainya 27 derajat itu kita kongkritkan menjadi 27 ekor kambing maka, masihkah sepi shalat-shalat berjama'ah? Di situlah letak ujiannya. Ada beberapa fenomena cukup menarik di beberapa daerah, kepala daerah ingin menyemarakkan gerakan shalat berjama'ah dengan memberikan iming-iming hadiah umrah. Dahsyatullah, masjid-masjid jadi rame. Ya, begitulah kita yang lebih tertarik dengan sesuatu yang bisa diindran.

Firman Allah dalam surah at-Taubah ayat 18 layak kita renungkan untuk mengetahui dimana posisi kita masing-masing.

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. ?(Q.S. at-Taubah: 18)

  • view 149

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Saya sudah gila ternyata. Keren mas, menginspirasi. Tetap menulis --> ?Saya adzan jam empat Subuh tidak satu pun yang datang. Padahal waktunya tepat namun, mengapa saat saya adzan di waktu yang salah kalian malah datang. Jadi, yang gila siapa??